Menjalani internship pada masa pandemi menjadi tantang. Mestinya setahun, hanya dijalani selama delapan bulan. Merasakan langsung pertempuran melawan Covid-19. Semakin menguatkan tekad untuk jadi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan.

 

RADEN RORO MIRA, Samarinda

 

AKHIR 2019, Ali Rifqi Alkaff baru memulai masa internship atau pendidikan profesi untuk pemahiran dan pemandirian dokter di RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kembali menempuh masa pendidikan setelah mendapat gelar dokter dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

“Ada 21 orang di satu angkatan kami yang internship. Ketika Februari 2020 mulai ramai pemberitaan soal Covid-19, cukup khawatir juga sampai di sini. Eh ternyata Maret sudah ada kasus pertama di Jawa,” beber pria kelahiran 1994 itu.

Ada tiga stase yang mesti mereka jalani. Termasuk ketika Ali bertugas di instalasi gawat darurat (IGD). Dia mengaku, bila Tenggarong merupakan pintu masuk. Utamanya kasus positif dari para pekerja tambang yang mendominasi.

Apalagi kala itu, alat pelindung diri (APD) tidak selengkap dan sebaik saat ini. Kelangkaan jadi salah satu faktor. Kemudian fasilitas rumah sakit saat itu untuk pengecekan status Covid-19 belum memadai.

“Dibilang kontak langsung atau merawat pasien yang Covid-19 sih enggak terlalu. Tapi saya kan ikut jaga di IGD, eh ternyata (pasien itu) beberapa hari kemudian meninggal dengan kondisi positif. Tapi alhamdulillah beberapa kali tes sampai sekarang, saya belum pernah (positif),” lanjut pria kelahiran Samarinda itu.

Awal pandemi merupakan ketidakpastian. Begitu juga yang Ali rasakan. Kekhawatirannya begitu tinggi karena takut menyebarkan virus tersebut ke keluarganya.

Sehingga setiap hari, dia membawa sedikitnya tiga baju ganti. “Jadi dari rumah sudah pakai baju, nah pas sampai langsung ganti lagi. Kemudian selesai tugas terus mandi dan ganti baju lagi untuk pulang. Di mobil, ganti baju lagi sebelum masuk rumah. Ada mungkin dua bulanan begitu rutinitas pas awal pandemi. Jadi banyak bawa kresek,” ungkapnya lalu terkekeh.

Setelah mendapat pemahaman dari dokter senior, dia baru memahami bahwa penularan melalui kontak langsung seperti droplet. Bukan dari benda mati seperti pakaian. Sehingga kekhawatirannya pun sedikit berkurang.

Dia menyaksikan sendiri bagaimana Covid-19 membuat banyak nyawa melayang. Diceritakan jika pasien masih bisa diajak ngobrol, kondisi baik. Namun tiga hari kemudian, saturasi turun drastis dan dinyatakan meninggal. Membuatnya semakin menjaga diri dan lingkungan sekitarnya dengan protokol kesehatan (prokes).

Cerita lainnya datang saat dokter muda angkatannya menyelesaikan internship. Diakui jika mereka sudah menyiapkan matang-matang segalanya. Foto studio untuk kenang-kenangan hingga perpisahan.

“Waktu itu tes PCR (polymerase chain reaction) enggak kayak sekarang yang cepat. Bisa 2–3 hari baru diketahui hasilnya. Memang salahnya kami enggak tunggu dulu. Ternyata selesai foto, baru ketahuan lima di antara kami ada yang positif. Jadi pada karantina berjamaah,” kenang alumnus SMA 1 Samarinda itu lalu tertawa.

Oktober 2020, selesai sudah masa internship. Ali diminta membantu saudaranya menjadi tim swab PCR di Surabaya. Menariknya, dia justru tak khawatir meski Jawa Timur kala itu termasuk daerah yang cukup banyak angka positif Covid-19.

“Di sana fasilitas lebih baik. Masker ganti terus. Dulu kan kayak KN-95 itu langka buat dokter, apalagi di Kaltim. Di sana justru enggak. Akhir 2020 balik ke Samarinda, sampai akhirnya persis 1 Januari 2021 saya tugas di Puskesmas Lempake,” lanjut sulung dari lima bersaudara itu.

Di puskesmas itu, terdapat fasilitas rawat inap termasuk menjadi pusat karantina Covid-19 setempat. Puncak pandemi Juli lalu, adalah hal yang tak akan pernah Ali lupakan.

Mulanya hanya menangani pasien gejala ringan. Namun sedang hingga berat dia tangani. Berbagai rumah sakit rujukan penuh. Mereka tak bisa menolak pasien. “Pasien paling muda itu perempuan 24 tahun. Saat dirujuk masih ngobrol via telepon dengan keluarga, beberapa hari kemudian meninggal saat di rumah sakit,” kata Ali.

Saat ini, kasus Covid-19 cenderung melandai. Namun bagi dia sebagai tenaga kesehatan, tak boleh lengah. Selalu siaga dengan segala kemungkinan. “Termasuk partisipasi vaksin ya. Kebetulan adik saya yang bungsu positif seminggu lalu, alhamdulillahnya enggak gejala parah. Efek vaksin lengkap dua dosis. Kayaknya sekarang mulai terbentuk herd immunity, tapi memang tetap harus tetap sama-sama jaga (prokes),” pungkasnya. (rom/k8)