BEIJING – Kebijakan karantina Covid-19 di Tiongkok terjadi di semua lapisan. Termasuk kelompok anak-anak. Salah satunya, peristiwa lockdown lokal yang diberlakukan di SD The Haujiadi Experimental di Distrik Chaoyang, Beijing, Senin (1/11) sore.

Salah seorang guru di sekolah tersebut terdeteksi positif Covid-19. Petugas langsung datang ke sekolah dan menutupnya. Orang tua siswa dipanggil untuk datang. Tapi ketika sampai, mereka dibiarkan berkumpul tanpa pemberitahuan. Siswa di sekolah tersebut berusia 7–12 tahun. The Guardian melaporkan bahwa semua siswa, guru, dan staf dites Covid-19 tanpa terkecuali.

Media lokal Jimu News melaporkan bahwa kepala sekolah akhirnya keluar untuk menemui wali murid hampir tengah malam. Sekitar pukul 23.30 waktu setempat. Dia berkata bahwa para siswa harus berada di sekolah hingga hasil tes keluar keesokannya. Jika negatif, mereka bisa pulang. Pihak sekolah meminta agar orang tua mengemas baju dan kebutuhan lain anaknya untuk menginap di sekolah.

Sebanyak 35 siswa dilaporkan dibawa ke fasilitas karantina terpusat. Mereka harus berada di sana selama 14 hari. Masing-masing hanya boleh ditemani satu orang. ’’Para orang tua benar-benar cemas. Ketika virus menyebar ke tempat-tempat padat penduduk seperti sekolah, rumah sakit, militer, dan penjara, itu adalah hal yang paling menakutkan. Semoga anak-anak selamat,’’ ujar salah satu orang tua.

Sebanyak 16 sekolah lain di Distrik Chaoyang ikut ditutup. Itu disebabkan guru-guru dan staf di sekolah tersebut pergi ke tempat booster vaksin pada waktu yang sama dengan guru yang positif Covid di SD The Haujiadi Experimental.

Tiongkok saat ini menjadi satu-satunya negara di dunia yang menerapkan strategi nol kasus Covid-19. Karena itu, kebijakan lockdown diterapkan di lokasi yang diduga menjadi area persebaran. Di Beijing, ada 40 kasus aktif penularan varian Delta. Itu adalah bagian dari penularan yang terjadi di 16 dari 31 provinsi di Tiongkok. Komisi Kesehatan Nasional Selasa (2/11) melaporkan 93 kasus penularan lokal bergejala. Jumlah itu naik dari sehari sebelumnya sebanyak 54 kasus.

Kebijakan ketat tersebut juga diterapkan di kota-kota lain yang terdampak kasus. Salah satu yang menjadi sorotan dunia adalah lockdown sementara di Shanghai Disneyland Park pada Minggu (31/10). Para pengunjung sedang menikmati wahana dan atraksi ketika staf berbaju hazmat diam-diam menutup semua gerbang. Itu dilakukan karena salah seorang pengunjung yang datang sehari sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Ada 34 ribu pengunjung yang dites Covid-19. Tes itu berjalan hingga tuntas tengah malam. Para pengunjung akhirnya dipulangkan dengan 220 bus khusus. Pada Senin, semua dinyatakan negatif. Meski begitu, mereka harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama dua hari dan melakukan uji Covid-19 lagi dua pekan setelahnya.

Tak cukup sampai di situ. Kementerian perdagangan juga mendorong penduduk menyetok bahan pangan untuk situasi darurat. Pemerintah daerah diminta untuk memastikan kelancaran pasokan bahan pangan agar harganya tetap stabil.

The Economic Daily, media milik Partai Komunis Tiongkok, meminta pembaca tidak khawatir. Pemerintah memberikan saran tersebut guna memastikan setiap rumah tangga sudah bersiap jika lockdown terjadi di area mereka. Selain itu, belakangan harga sayuran melonjak tajam dan pasokan tersendat karena cuaca buruk. Meski begitu, panic buying tidak terelakkan.

Sebagian penduduk mendukung langkah pemerintah. Terlebih mereka akan menjadi tuan rumah Olimpiade musim dingin di Beijing tahun depan. Tiongkok hanya punya waktu tiga bulan untuk menyelesaikan masalah penularan tersebut sebelum pesta olahraga tingkat dunia itu digelar. Meski begitu, sebagian lainnya merasa langkah yang diambil pemerintah berlebihan.

’’Vaksin sudah diberikan kepada 80 persen penduduk. Apa ada ketidakpercayaan pada vaksin buatan domestik? Kita seharusnya menjadikan virus korona ini sebagai bagian dari hidup,’’ ujar salah seorang warganet. (sha/c6/bay)