Kaltim kembali masuk tiga besar provinsi dengan kontribusi tertinggi pada kinerja ekspor nasional. Secara kumulatif, nilai ekspor Kaltim periode Januari–September 2021 mencapai USD 15,63 miliar. Naik 65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

SAMARINDA – Tingginya harga batu bara membuat Kaltim mampu mengembalikan kedudukannya sebagai provinsi dengan kinerja ekspor yang baik. Di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi Jawa Barat, Jawa Timur, Kaltim, Riau, dan Kepulauan Riau mencapai 50,60 persen dari seluruh ekspor nasional.

Kepala BPS Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, secara bulanan sebenarnya ekspor Kaltim pada September mengalami penurunan. Namun, masih bertahan di angka yang tinggi. Ekspor Kaltim pada September 2021 turun 1,84 persen dibandingkan Agustus 2021, yaitu dari USD 2,44 miliar menjadi USD 2,40 miliar. Hal ini terjadi karena nilai ekspor barang migas maupun non-migas sama-sama melemah.

Dia menjelaskan, nilai ekspor migas September 2021 sebesar USD 166,14 juta, atau turun sebesar 13,39 persen dibanding nilai ekspor pada Agustus 2021. Sedangkan nilai ekspor non-migas mengalami penurunan sebesar 0,86 persen jika dibandingkan nilai ekspor Agustus 2021.

Penurunan nilai ekspor terbesar pada September terjadi pada nilai ekspor barang hasil industri, mencapai 18,27 persen. Sedangkan kenaikan terbesar terjadi pada nilai ekspor barang hasil pertanian dengan kenaikan 816,70 persen. “Meski secara bulanan menurun, ekspor Kaltim masih sangat tinggi. Ini yang membuat Kaltim kembali pada kedudukannya, menjadi tiga daerah penyumbang ekspor terbesar,” tuturnya, Rabu (3/11).

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim Muhammad Hamzah mengatakan, kembalinya Kaltim menjadi tiga daerah menyumbang ekspor terbesar di Indonesia yang sebelumnya digeser Riau tentunya tak lepas dari tingginya permintaan dan harga batu bara. Kontribusi emas hitam pada ekspor Kaltim sangat besar. Sehingga seiring naiknya harga, nilai ekspor turut terkerek.

“Sebenarnya, Riau dan Kepulauan Riau nilai ekspornya tetap, tidak menurun. Karena dua daerah ini komoditasnya kelapa sawit. Sedangkan kita terbesar masih batu bara, jadi saat sektor ini sedang tinggi, nilai ekspor Kaltim menjadi meningkat dan mengembalikan kita ke dudukan awal,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan baru bara dari sisi permintaan maupun harga masih akan meningkat hingga Maret 2022. Apalagi, saat ini di Tiongkok sedang masuk musim dingin. Hal ini juga akan mendongkrak harga emas hitam. Sehingga, kedudukan Kaltim akan bertahan hingga tahun depan, jika tidak ada penurunan dari bisnis pertambangan.

“Saya lihat sampai musim dingin berakhir, batu bara masih akan cemerlang. Dari sisi permintaan maupun harga masih akan meningkat sampai Maret 2022,” pungkasnya. Diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan pada Oktober 2021 menembus USD 161,63 per ton.

“Angka ini dipengaruhi permintaan batu bara yang terus meningkat di Tiongkok akibat naiknya kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik. Juga meningkatnya permintaan batu bara dari Korea Selatan dan kawasan Eropa seiring dengan tingginya harga gas alam," ungkap Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Agung menyebut, faktor-faktor di atas menjadi faktor kenaikan harga batu bara global ikut terimbas naik Oktober lalu. Akibatnya, HBA juga terimbas dari yang sebelumnya juga telah mencatatkan angka tertinggi dalam dekade terakhir, yakni USD 150,03 per ton. (ctr/ndu/k15)