Moslem Community of Mangrove (MCM) menjadi tempat para perempuan mengembangkan jiwa entrepreneur. Menemukan passion yang sesuai dan bersiap menghadapi pasar internasional.

 

BERDIRINYA komunitas yang diketuai Emi Hasyimiah Alaydrus ini merupakan bagian dari sebuah mimpi besar. Menjadikan kaum perempuan mampu berdikari. Mandiri. Berpotensi. Aktif inovasi. MCM dibentuk 10 Oktober 2021. Walau masih berumur jagung, komunitas ini telah memiliki lebih dari 90 orang anggota. Dari yang muda hingga dewasa. Berbagai profesi. Maupun latar belakang.

Tetapi, mereka mempunyai kesamaan. Yakni ingin terus belajar. Mengenali passion serta bakat yang dimiliki. Jadi, bukan hanya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mapan saja yang telah bergabung di sini. Emi menuturkan, MCM merupakan wadah bagi perempuan yang minat terhadap dunia usaha. Meskipun baru memulainya.

“Dengan berkumpul, kita saling belajar. Mungkin bila sebelumnya masih bingung usaha apa yang cocok kita bisa berbagi ide, saling support biar sama-sama berkembang,” ucap pengusaha batik ini.

Terdapat dua bidang, kuliner dan kriya. Kebanyakan anggota yang bergabung pun merupakan pelaku usaha kuliner. Sekitar 70 persen. Itu memang tidak dapat dimungkiri. Sebab, kuliner merupakan usaha paling mudah yang dapat dimulai dari rumah. Tanpa memerlukan modal besar. Menurutnya, memulai usaha sebaiknya memang dilakukan sesuai sesuatu yang disukai.

Saat ini, UMKM khususnya kuliner tengah berproses untuk segera mendapatkan sertifikat halal. Agar produk yang dihasilkan dapat masuk ke ritel. Sertifikat halal pun ke depan menjadi kewajiban. Demi mempersiapkan pangsa pasar lebih luas lagi. Yaitu ekspor.

Tentu itu merupakan harapan dan impian seluruh pelaku UMKM. Tetapi saat ini, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diperhatikan. Persiapan yang dibutuhkan tidak sedikit agar lebih matang. Emi berujar, menguatkan sisi pelatihan bagi UMKM sangat perlu. Karena hingga sekarang, pelatihan bagi UMKM masih terbatas. Belum maksimal.

Tak hanya pelatihan, pendampingan bagi UMKM juga memengaruhi. Bukan sekadar bicara konsep dan kemasan. Namun, bagaimana menjadikan produk olahan lokal tersebut mampu bertahan lama saat dikirim ke luar negeri.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah pelatihan tentang jaminan bahwa produk kita bisa tahan hingga lebih enam bulan. Mengingat proses dan pengirimannya tidak sebentar. Jadi harapannya ada pelatihan, terkait cara pengawetan tahan lama yang aman bagi kesehatan,” ungkapnya.

Ekspor itu, kata Emi tidak susah. Asal fokus. Telaten mengerjakan dan tidak mudah putus asa. Serta siap menerima koreksi. Sebab, yang diinginkan market luar negeri ialah produk berkualitas.

Menilik jumlah pelaku UMKM, dirinya menyadari bahwa perempuan mempunyai andil besar. Bahkan kebanyakan kaum hawalah yang menjalankan berbagai usaha. Tidak boleh berpuas diri. Menjadi seorang entrepreneur berarti harus menciptakan sesuatu yang baru. Mengaktulisasi diri dengan peningkatan kualitas produk.

“Pelaku usaha itu harus berani mencoba. Ketika dirasa tidak sesuai, harus diperbaiki atau menjajaki hal baru. Dunia usaha itu luas. Dan tidak akan tertutup selama kita mau berusaha,” tutur istri Rendi Ismail itu.

Pemilik usaha Rumah Ampiek ini juga menambahkan, anggota MCM nantinya bukan hanya dari Balikpapan. Beberapa dari kabupaten lain juga tertarik bergabung. Sehingga diharapkan semakin besar, dapat lebih memperkuat sinergisitas. Ataupun jalinan kerja sama pun bertambah luas. Sementara ini, dikatakan baru didukung Universitas Balikpapan dan telah mendapat bantuan dari provinsi.

“Kerja sama dengan pihak perbankan belum dulu, kami ingin memperkuat mental mereka dulu. Bila nanti usaha mereka sudah kuat dan besar mungkin bisa. Karena dikhawatirkan malah bantuan tidak berputar dan kesulitan saat pembayaran,” jelasnya.

Kondisi sekarang menurut Emi patut disyukuri. Sangat berbeda dengan awal pagebluk. Pameran mulai kembali dilakukan. Sudah ada tiga pameran diikuti anggotanya. Diharapkan semakin banyak show case dilakukan oleh pemerintah. Sehingga, membuka gerbang perekonomian dan menumbuhkan gairah baru. Itu menjadi kesempatan pula meng-upgrade diri pelaku UMKM.

“Dulu saya sendiri tidak berpikir masuk ke ritel, tapi sekarang mulai merambahnya. Di Makassar dan Jakarta. Tentu produk yang dibuat disesuaikan pula dengan pangsa pasar di sana,” kata Emi.

Itu harapannya bisa pula dilakukan oleh seluruh anggotanya. Untuk menemukan pasar baru. Market harus dikembangkan. Tidak hanya terfokus di satu titik. Sedari itu, mimpinya ialah membawa perempuan, terutama pelaku UMKM bisa menembus pasar luar negeri.

“Setiap orang boleh bermimpi setinggi-tingginya. Tetapi, pertama gantungkan mimpi setinggi gapaian tangan agar mudah menjangkaunya. Kemudian bermimpi lebih tinggi lagi, seperti harapan kami agar UMKM Balikpapan pun bisa go international,” pungkasnya. (lil/ndu/k15)