Memimpin sebuah puskesmas bukan pekerjaan mudah. Apalagi di usia yang terbilang muda. Mengatur jajaran yang lebih senior. Tapi bagi dr Niken Dayu Anggraini, selalu ada jalan keluar.

 

ULIL MUA'WANNAH, Balikpapan

 

PRIMUM non nocere adalah ungkapan bahasa Latin yang artinya first, do no harm. Atau dalam bahasa Indonesia, pertama, jangan merugikan. Itu merupakan ungkapan populer dalam dunia kedokteran. Penggalan kutipan itu diambil dari Sumpah Hippocrates. Secara kontekstual terjemahannya mensyaratkan bahwa keselamatan pasien adalah hal yang utama. Akan selalu diutamakan.

Karena itu adalah prinsip dasar yang diajarkan saat menjalani pendidikan kedokteran. Mengungkapkan aturan etis yang mendasari pengobatan. “Pertama-tama dan utama jangan mencederai pasien. Dokter harus memikirkan kemungkinan merugikan dari tindakan yang akan dilakukan. Apapun kesulitan saya harus mengutamakan keselamatan pasien,” ucap dr Niken Dayu Anggraini, saat ditemui pekan lalu.

Orangtuanya pun pernah berpesan, setiap kesulitan pasti akan mendapatkan dua kebaikan. Jangan ditolak, tetap jalani karena balasannya jauh lebih baik.

Niken telah menjadi kepala Puskesmas Karang Jati, Balikpapan sejak 2017. Di mana ia harus memimpin 20 pegawai, 10 di antaranya ialah tenaga kesehatan (nakes). Tentu tidak mudah menjadi kepala puskesmas. Terutama kala lonjakan kasus Covid-19 beberapa bulan lalu.

Juli-Agustus, Kota Minyak sempat mendapatkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Karena tingginya angka pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Ditambah varian delta. Membuat ratusan orang terpapar memerlukan perawatan medis sesegera mungkin.

Ia harus merelakan waktu istirahat maupun hari liburnya. Dering telepon. Notifikasi pesan tidak pernah berhenti. Tengah malam selalu terjaga. Harus selalu sedia menjawab serta datang ke puskesmas sekalipun jarum jamnya telah menunjukkan pukul 01.00 Wita.

“Pasien saat itu bisa sampai 500 orang. Satu petugas harus mengawasi 50 pasien. Banyak pasien terpaksa menjalani perawatan di rumah, karena rumah sakit dan tempat isolasi saat itu penuh,” tutur perempuan yang menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya pada 2008 itu.

Kondisi sekarang jauh lebih siap dibandingkan sebelumnya. Secara sistem pun sudah disiapkan. Masyarakat sudah dididik menjadi Satgas Covid-19, membantu dalam pengawasan isolasi maupun rujukan. Kelompok yang dilatih cukup tahu bagaimana, kapan harus dirujuk, dan penegakan protokol kesehatan di lingkungan masyarakat.

Sudah lebih ringan. Menurutnya, yang terpenting ialah menjaga koordinasi jangan sampai terputus. Bila memang nakes kewalahan, maka satu sama lain harus mampu saling backup. Tidak boleh ada pasien telantar. Termasuk untuk penyediaan oksigen dan obat telah tersedia.

“Kami memang memiliki tabung oksigen tapi terbatas. Itu pun hanya berukuran 5 kg. Hanya bertahan 4 jam dan harus terus diisi ulang. Kala itu beruntung beberapa RT juga dukung dan saling menggalang dana. Sehingga, warga yang tidak mampu disewakan oksigen,” ungkap perempuan yang lahir di Malang pada 37 tahun lalu itu.

Selama pagebluk, Niken mengungkapkan beberapa program preventif terpaksa terhenti sementara. Seperti layanan posyandu balita dan lansia, hingga kegiatan senam. Padahal itu penting, untuk mendeteksi tumbuh kembang anak agar terhindar dari gizi buruk dan stunting. Demikian pula lansia yang bergantung terhadap obat hipertensi.

Kegiatan door to door juga terhenti. Untuk menghindari paparan dan penyebaran Covid-19. Tujuan kegiatan jemput bola itu demi mendekatkan masyarakat yang letak rumahnya jauh dari Puskesmas Karang Jati. Untuk tetap bisa mendapatkan pelayanan yang sama dengan masyarakat di sekitar puskesmas.

Puskesmas Karang Jati mesti melayani empat wilayah, yakni Karang Bugis, Karang Jawa, Karang Anyar, dan Karang Jati. Dokter yang menerima penghargaan dokter teladan itu pun membuat Gerakan Melawan Penyakit Tidak Menular (Gempita) Mobile. Di mana warga bisa mendeteksi atau skrining kesehatan cukup dari rumah.

Masyarakat bisa menginput kesehatan secara online. Lalu mengetahui akan risiko kesehatan yang dihadapi. Telah banyak inovasi lain yang membuatnya diganjar berbagai penghargaan.

Niken tidak menyangkal, bahwa masih ada orang yang memandang dokter muda sebelah mata. Padahal menurutnya tidak demikian. Dirinya berharap agar tidak melihat dari usia tapi dari ilmu yang dimiliki. Karena setiap dokter terus dituntut selalu memperbarui ilmu agar tidak ketinggalan zaman.

“Dokter muda maupun telah senior, sebagai dokter kita harus tetap komitmen. Memosisikan sebagai keluarga pasien. Memotivasi satu sama lain. Karena kita tahu perjuangan belum berakhir,” tutur istri dari Prasojo DC tersebut.

Kondisi Puskesmas Karang Jati memang tidak lagi layak. Berdiri pada 1986, bangunan kayu itu sudah lama tidak mengalami sentuhan. Tampak plafon maupun lantai telah lapuk dan rusak di sana-sini. Pemugaran urung dilakukan karena harapan agar bisa relokasi segera mungkin.

Permasalahan Puskesmas Karang Jati tetap sama. Letak puskesmas cukup menanjak. Sulit diakses. Bila tidak benar-benar jeli ataupun bertanya kepada masyarakat di sana bisa saja tersesat. Melewati gang sempit. Dilanjutkan berjalan kaki menaiki tangga. Tentu merepotkan. Menyulitkan pasien yang sakit apalagi telah lanjut usia.

“Setelah bertahun-tahun diperjuangkan, akhirnya dapat juga lahan. Sebab kami tahu, di sini ‘kan daerahnya sudah padat perumahan. Itu pun negosiasi penggantian lahan milik masyarakat sudah lama pula dilakukan,” beber peraih Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Nasional 2019 itu

Beruntung, setelah lama menunggu, impian tersebut mulai terwujud. Pada Mei 2021, pemerintah telah meletakkan batu pertama pembangunan Puskesmas Karang Jati yang baru. Lokasi bangunannya tidak jauh dari yang sebelumnya.

Nantinya dibangun tiga lantai. Lantai pertama akan difungsikan sebagai unit gawat darurat (UGD) dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Lantai kedua sebagai pelayanan umum dan lantai tiga bagi manajemen. “Semoga tahun depan sudah selesai dan bisa dioperasionalkan,” harap peraih penghargaan Warga Berprestasi Bidang Kesehatan Balikpapan Tahun 2021 itu. (rom/k15)

 

Prestasi Dokter Niken

Juara 1 Dokter Teladan Balikpapan 2019

Juara 1 Dokter Teladan Kaltim 2019

Tenaga Kesehatan Teladan Nasional 2019

30 Makalah Terbaik Tenaga Kesehatan Teladan Nasional 2019

Juara 2 Inovasi Puskesmas Kaltim 2020

Juara 2 Inovasi Pelatihan Kepemimpinan Pengawas Angkatan I 2020

Juara 1 Penjaringan Inovasi dan Kreativitas Peringkat Daerah Kaltim 2020

Penghargaan Warga Berprestasi Bidang Kesehatan Balikpapan 2021