Dunia pertanian diharapkan tidak hanya sebatas menanam dan menjual. Produk yang dihasilkan harus memiliki nilai tambah dari industri hilir. Sehingga, permasalahan rendahnya harga jual, banyaknya produk pertanian yang tidak laku, dan permasalahan lainnya bisa diatasi.

 

SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, saat ini diperlukan pengolahan dan pemasaran pertanian, perkebunan dan perikanan. Hal itu agar jaringan pemasaran komoditas Kaltim semakin luas. Contohnya produk-produk hilir dari perkebunan, sudah ada kerja sama dengan beberapa hotel. Ini membuat produk-produk hasil dari petani bisa dikenal lebih luas.

“Tanah di Kaltim sangat mudah untuk ditanami. Tapi, kesadaran untuk menjadi petani rumah tangga dan petani dalam konteks industri masih kurang,” jelasnya, Minggu (31/10).

Permasalahan petani sering kali kecewa saat panen, hasil panennya tidak laku dijual. Bahkan kadang terjual dengan harga rendah. Sehingga menurut Hadi, industri hilir dari perkebunan dan pertanian adalah jalan keluar dari permasalahan petani. Industri hilir ini harus ada pemasarannya. Produk-produk dari pertanian dan perkebunan yang sudah diolah menjadi olahan siap jual.

“Sudah ada beberapa hotel yang menjual olahan lokal Kaltim, semestinya bisa dicontoh. Mereka harus mau menjual produk-produk dari hilirisasi perkebunan dan pertanian kita,” tuturnya.

Sebab, ketika produk petani laku di pasaran, ini akan menjadi semangat dan kabar gembira bagi petani. Apalagi saat ini jumlah petani terus berkurang, karena dianggap kurang potensial. Padahal, saat ini tak harus menjadi petani yang menanam. Bisa juga menjadi petani untuk hilirisasi pertanian.

Contohnya, menjadi wirausaha muda dalam kegiatan pengembangan pangan dan industri hilirnya. Bagaimana petani muda ini memanfaatkan seluruh bisnis turunan pangan. Saat ini tidak hanya fokus menanam dan menjual, tapi bagaimana pertanian, perkebunan dan perikanan Kaltim memiliki turunan bisnis yang bisa dijual dengan nilai tambah.

“Dengan begitu, harapannya petani semakin termotivasi untuk mengolah komoditas perkebunan dan pertanian, menjadi bahan siap pakai. Agar meningkatkan nilai tambah produk mereka yang tentunya memiliki harga jual lebih tinggi, dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian para petani,“ pungkasnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) sepanjang tahun ini mengalokasikan anggaran pengadaan alsintan untuk petani sebesar Rp 654 miliar lebih. Namun, beberapa petani sudah mampu mengadakan unit alsintan secara mandiri. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa bantuan yang digelontorkan mampu menstimulasi petani untuk pengadaan sendiri.

"Pemerintah juga mengalokasikan dana KUR (Kredit Usaha Rakyat, Red) untuk mendukung permodalan petani untuk pembelian alsintan. Jadi, petani tidak hanya mendapat bantuan, tapi juga difasilitasi untuk mandiri dan mengembangkan pertaniannya lebih maju," jelas Direktur Alsintan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah.

Nur Alam berpesan agar bantuan ini dimaksimalkan, dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Bantuan tersebut harus bisa digunakan oleh semua anggota, tidak boleh hanya pengurus saja sehingga manfaat mekanisasi yang digelontorkan pemerintah benar-benar mempercepat olah lahan, tanam, panen dan terjadi peningkatan produksi serta efisiensi biaya usaha tani.

"Kami pantau betul alsintan kami di lapangan. Fungsional pengawal alsintan kami sudah sebar pastikan tidak ada lahan yang tidak tergarap padahal alat kami ada," tegasnya. (ctr/ndu/k15)