BALIKPAPAN - Sembari terus mematangkan persiapan jelang pemberangkatan jamaah umrah dan haji, Kementerian Agama (Kemenag) telah mengeluarkan buku tuntunan manasik haji dan umrah pada masa pandemi. Keberadaan buku ini perlu sebagai edukasi dan antisipasi kepada calon jamaah.

Penyelenggara Umrah dan Jamaah Haji Khusus Kemenag Kaltim Ahmad Munir Gani menyinggung, hingga akhir Oktober ini pemerintah masih berusaha melakukan lobi dan komunikasi dengan pihak Arab Saudi. Termasuk urusan penerbangan, sarana-prasarana calon jamaah selama berada di Arab Saudi guna penentuan jumlah biaya perjalanan.

Agar meyakinkan bahwa calon jamaah clear, secure kebijakan pemberangkatan pun harus berbasis data. Dari itu, Sikopatuh dan PeduliLindungi harus segera mungkin dapat terintegrasi. Dan buku panduan ini juga merupakan bagian dari kegiatan sosialisasi penyelenggaraan haji dan umrah di masa pandemi. Demi meningkatkan pengetahuan dan menyamakan persepsi manasik haji dan umrah.

Sebab, ada kaitan antara keberhasilan penyelenggaraan umrah dengan penyelenggaraan haji mendatang. Sehingga, ia sangat berharap Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) benar-benar memastikan calon jamaah umrahnya mematuhi aturan dan prokes. "Dalam buku manasik itu terdapat panduan-panduan yang harus dipatuhi calon jamaah haji dan umrah. Termasuk soal prokes," ucapnya.

Munir juga mendorong, bagi seluruh PPIU dan PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) untuk mendukung program vaksinasi dan penerapan prokes di setiap lini masyarakat. Karena dapat berpengaruh terhadap persiapan calon jamaah pula. Selain itu, Kemenag tengah menyusun prosedur baru untuk memitigasi hal-hal terkait pelaksanaan umrah pada masa pandemi.

Dia melanjutkan, bahwa melalui vaksinasi yang rutin dilakukan seluruh stakeholder diharapkan mampu menciptakan herd immunity. Bila seluruh masyarakat sudah menerima vaksin tentu itu akan menambah pula kepercayaan Pemerintah Arab Saudi, sehingga pemberangkatan calon jamaah asal Indonesia dapat dilangsungkan sesegera mungkin.

"Kita masih menunggu informasi kembali, kapan, berapa dan jumlah kuota jamaah yang bisa diberangkatkan," tandasnya. (lil/ndu/k15)