JAKARTA – Pergerakan inflasi per Oktober tercatat mencapai 0,12 persen. Sementara inflasi tahunan tercatat 1,66 persen dan secara tahun kalender 0,90 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menuturkan bahwa dari 11 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Kelompok transportasi menjadi penyebab utama inflasi pada Oktober. “Terjadi inflasi di kelompok transportasi. Disebabkan adanya kenaikan tarif angkutan udara yang memberikan andil pada inflasi 0,03 persen,” ujarnya, kemarin (1/11).

Margo melanjutkan, ada tren peningkatan jumlah penumpang angkutan udara domestik menjadi 2 juta orang pada September atau naik 84,04 persen dibandingkan Agustus 2021. Dilihat secara tahunan, ada kenaikan 3,72 persen untuk pertumbuhan penumpang transportasi udara. Meski dilihat secara kumulatif, jumlah itu masih terkontraksi tajam hingga 16,50 persen.

‘’Angkutan udara untuk Agustus dan September sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan Juli. Saat itu, ada pembatasan ketat sehingga aktivitas transportasi udara mengalami hambatan,’’ katanya.

Kemudian, penyumbang terbesar kedua inflasi yakni berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas utamanya adalah harga cabai merah dan minyak goreng dengan andil masing-masing 0,05 persen. Serta, daging ayam ras dengan andil 0,02 persen.

Sementara itu, Kepala BPS Jawa Timur (Jatim) Dadang Hardiwan mengatakan, inflasi yang terjadi di provinsi tersebut lebih tinggi dari tingkat nasional. Secara month to month, rata-rata kenaikan harga barang dan jasa di Jatim pada Oktober mencapai 0,18 persen. “Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, inflasinya tumbuh 2,13 persen,’’ ujarnya.

Menurut Dadang, inflasi yang terjadi Oktober 2021 merupakan anomali. Selama dua tahun belakangan, pihaknya mencatatkan deflasi. Pada Oktober 2019 dan 2020, deflasi Jatim sama-sama tercatat 0,02 persen.

Penyumbang inflasi di Jatim memang masih dari sektor makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 38 persen. Disusul oleh sektor restoran berkontribusi, 22 persen; dan sektor transportasi, 16 persen.

Terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu memandang, inflasi berpotensi menguat secara bertahap seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat pasca pelonggaran PPKM.

‘’Natal dan Tahun Baru serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi, sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi. Selain itu, risiko kenaikan harga pangan akan mendorong tekanan inflasi,’’ jelasnya. Outlook inflasi 2021 diperkirakan dapat mencapai 1,8 persen (yoy). (dee/bil/dio)