WASHINGTON DC– ’’Dunia berubah tepat di hadapan kita.’’ Kalimat itu adalah penggalan Laporan Perubahan Iklim 2021 yang dirilis oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Yang disayangkan, perubahan itu tidak menuju ke arah yang lebih baik, tapi justru sebaliknya. Dampak dari perubahan iklim terpampang nyata.

’’Peristiwa (cuaca) ekstrim adalah kenormalan baru,’’ tegas Profesor Petteri Taalas dari WMO seperti dikutip CNN. Dia menambahkan bahwa ada banyak bukti ilmiah yang memperjelas bahwa cuaca ekstrim adalah imbas perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Taalas mencontohan beberapa peristiwa cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini. Misalnya saja di puncak Greenland harusnya turun salju, tapi kini untuk pertama kalinya yang turun adalah hujan. Gelombang panas yang menyapu Kanada dan sebagian wilayah Amerika Serikat menunjukkan suhu di atas 50 derajat Celsius. Di Death Valley, California, beberapa kali suhu mencapai 54,4 derajat Celsius.

Debit air hujan yang seharusnya “jatah” beberapa bulan, kini justru turun dalam hitungan jam di Tiongkok. Banjir bandang pun terjadi. Di negara-negara Amerika Selatan sudah dilanda kekeringan selama 2 tahun berturut-turut. Awal tahun ini di sebagian Texas, AS suhu tiba-tiba turun minus 13 derajat Celsius dan memicu pemadaman listrik. Ratusan penduduk tewas dan jutaan orang terkurung dalam kegelapan akibat suhu yang membekukan selama beberapa hari.

Laporan WMO juga mengungkapkan bahwa sejak 2002, rata-rata suhu menuju kenaikan 1 derajat Celsius di atas level pra-industri. Itu pertama kalinya terjadi setelah 20 tahun. Permukaan air laut global juga naik tinggi pada 2021. Mencapai 2,1 mm pada 1993-2002. Pada 2013-2021, kenaikannya mencapai 4,4 mm.

Kenaikan itu dipicu oleh lapisan es yang terus mencair karena peningkatan suhu. Jika ini terus terjadi, maka negara-negara kepulauan kecil di Pasifik dan sekitarnya bakal terdampak. Bisa-bisa, sebagian negara tersebut tenggelam.

Laporan WMO ini keluar lebih cepat dari jadwal agar bisa dibahas di KTT Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow. ’’COP26 harus menjadi titik balik untuk manusia dan planet,’’ ujar Sekjen PBB Antonio Guterres. (sha/bay)