SAMARINDA - Kaltim mencatatkan inflasi sebesar 0,04 persen pada Oktober 2021. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan September 2021 yang mengalami inflasi sebesar 0,14 persen. Penurunan ini disebabkan kelompok makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, bulan lalu dari 90 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 68 kota mengalami inflasi dan 22 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sampit sebesar 2,06 persen dan terendah sebesar 0,02 persen terjadi di Sumenep dan Banyuwangi.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar 0,70 persen dan terendah sebesar 0,02 persen terjadi di Bengkulu. “Kita di Kaltim terjadi inflasi 0,04 persen dengan tingkat inflasi tahun kalender 1,28 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 1,91 persen. Jika dilihat per kota, Samarinda mengalami inflasi 0,03 persen dan Balikpapan sebesar 0,05 persen,” jelasnya saat rilis bulanan secara daring, Senin (1/11).

Dia menjelaskan, inflasi yang terjadi pada Oktober karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh beberapa indeks kelompok pengeluaran. Yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,66 persen; diikuti perumahan, air, listrik bahan bakar rumah tangga sebesar 0,34 persen; penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,22 persen.

Juga perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,17 persen; rekreasi, olahraga dan budaya masing-masing sebesar 0,09 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, dan kesehatan sebesar 0,01 persen. “Sedangkan kelompok yang menunjukkan penurunan, yaitu makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,30 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen, dan kelompok transportasi sebesar 0,12 persen,” tuturnya.

Pada Oktober 2021, dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh kelompok memberikan andil sumbangan inflasi dan tiga kelompok memberikan sumbangan deflasi. Kelompok yang memberi andil inflasi, yaitu perumahan, air, listrik bahan bakar rumah tangga sebesar 0,0777 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 0,0287 persen; penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,0211 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,0095 persen; rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,0015 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,0011 persen, dan kesehatan sebesar 0,0003 persen.

“Sedangkan kelompok yang memberikan andil negatif, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,0824 persen, kemudian kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,0149 persen, dan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,0074 persen,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)