Lubang bekas galian tambang batu bara di Kaltim seperti magnet "maut" bagi warga sekitar. Setelah digali, lubang ditinggal begitu saja. Pengawasan pemerintah dipertanyakan.

 

SAMARINDA-Lubang bekas galian tambang batu bara di Samarinda kembali menelan manusia. Seorang pemuda bernama Febi Abdi Witanto, tenggelam di kolam bekas galian batu bara di Jalan Kalan Luas, Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Minggu (31/10), sekira pukul 16.30 Wita.

Sebelum tenggelam, pemuda 25 tahun yang tinggal di Jalan Pembangunan, RT 10, Kelurahan Makroman itu, tengah berkumpul di tepi kolam bersama lima temannya. Jarak rumah mereka dengan kolam maut itu juga tak terlalu jauh. Sore itu, mereka sedang menyantap burung yang sedang dibakar. Setelah melahap habis makanannya, Febi mengajak empat rekannya berenang. Febi memulai duluan. Dia mengambil ancang-ancang dengan berlari lalu melompat dari ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan kolam.

Nahas, setelah tubuhnya menyentuh air, dia terlihat kesakitan. Rekannya berusaha menolong ketika Febi saat itu berupaya berenang ke bagian tepi kolam. Tapi, usahanya menggapai daratan sia-sia. Febi seketika tenggelam terbawa arus ke dasar kolam.

"Kami lihat seperti sesak napas, setelah itu tertelungkup dan masuk ke air. Kami coba mau tolong tapi sudah hilang," kata Doni, teman Febi kepada Kaltim Post tadi malam. Hingga pukul 23.00 Wita, tubuh Febi belum ditemukan. Minimnya penerangan membuat upaya pencarian dilanjutkan pagi ini.

"Karena sudah malam dan minimnya pencahayaan, sehingga pencarian belum bisa kami lakukan. Ditambah lagi, untuk menuju permukaan (kolam) sangat curam ya. Kami masih mempersiapkan peralatan. Kemungkinan besok pagi (hari ini) baru bisa kami lakukan upaya pencarian," kata Koordinator Unit Siaga SAR Samarinda Dwi Adi Wibowo. Ketua Relawan Inafis Polresta Samarinda Udi Rahman menambahkan, untuk mempermudah pencarian dan penyelidikan, garis polisi telah dipasang di lokasi kejadian. Selain itu, barang korban telah diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut kepolisian.

"Posisi lokasi curam. Mungkin ada sekitar 20-30 meter ketinggiannya," katanya. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban yang tenggelam di kolam bekas galian tambang batu bara di Kaltim. Sebelum, Febi, sudah ada 39 orang yang tenggelam dan dinyatakan tewas di kolam bekas galian tambang batu bara. Sementara itu, dari penelusuran Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, lokasi kejadian merupakan bekas aktivitas pertambangan CV Arjuna.

Perusahaan tersebut mendapat Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang diterbitkan wali Kota Samarinda pada 6 September 2014. Izin operasi produksi kemudian berakhir pada 6 September 2021 dengan luas konsesi 1.452 hektare. "Samarinda itu ada 349 lubang tambang. Kalau korban ini masuk di kolam CV Arjuna yang izinnya di 2014 lalu. Ini sebenarnya izin perpanjang, awal produksinya itu awal 2008," kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang. Dia menyayangkan, lubang bekas galian tambang tersebut tak ditutup. Sehingga, menjadi magnet "maut" bagi warga sekitar, khususnya bagi anak-anak dan para remaja.

"Di sisi lain, perusahaan ini juga tidak menempatkan syarat yang diperintahkan oleh presiden. Ada tiga hal, memasang papan pengumuman tanda bahaya, kemudian pasang pagar pembatas dan terakhir menempatkan petugas jaga. Tiga syarat itu selama beroperasi. Sekarang kan sudah ditutup, jadi ini sekarang tanggung jawab pemerintah untuk menggugat janji CV Arjuna untuk menutup lubang tersebut," ungkapnya. (*/dad/riz/k15)