BALIKPAPAN-Penyebaran Covid-19 di Balikpapan sudah mulai terkendali. Selama sepuluh hari terakhir, tren penambahan kasus positif virus corona kurang dari sepuluh kasus. Bahkan Minggu (31/10), tercatat tidak ada penambahan satu pun kasus terkonfirmasi positif. Alias nol kasus pada hari terakhir kalender Oktober.

Berdasarkan data laporan harian Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan, sejak 21 hingga 31 Oktober, penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 36 kasus. Dengan jumlah pasien yang sembuh sebanyak 103 orang. Kasus meninggal pun, tercatat hanya satu kasus. Dengan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit sebanyak 21 orang. Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan Andi Sri Juliarty mengungkapkan, tidak ada penambahan kasus harian terkonfirmasi atau nol kasus pernah terjadi pada 2020.

“Namun, di tahun 2021 ini yang pertama kali,” katanya. Tren penurunan kasus penyebaran Covid-19 Balikpapan, diterangkan perempuan yang akrab disapa Dio ini, disebabkan beberapa faktor. Mulai dari tingkat cakupan vaksinasi yang hingga kemarin sudah mencapai 74,6 persen. Selain itu, pengetatan mobilitas orang dengan menggunakan aplikasi PeduliLindungi, dan juga Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan yang masih menerapkan pembatasan beberapa kegiatan masyarakat. Salah satunya, melalui kegiatan razia masker yang masih dijalankan Satpol PP Balikpapan.

Masyarakat juga disebutnya tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan (protokol) pencegahan penyebaran Covid-19. “Tracing dan testing masih berjalan. Namun, memang hasilnya nol ini tanda penularan berangsur-angsur putus,” terang kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan ini. Dia menuturkan, upaya yang harus terus dilakukan agar penurunan kasus terkonfirmasi positif tetap bertahan hingga akhir tahun ini, yakni tetap mengedukasi masyarakat. Untuk terus-menerus mengubah perilaku dan menerapkan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) menuju era adaptasi kebiasaan baru.

Selain itu, terus melakukan percepatan vaksinasi dan melakukan pelonggaran kegiatan masyarakat secara bertahap. Yang tak kalah penting, melakukan tracing dan testing penyebaran Covid-19. Selain itu, pihaknya juga terus mengantisipasi warga luar daerah yang ingin masuk ke Balikpapan dengan menggunakan aplikasi PeduliLindungi. “Kami juga sudah didukung dengan SE Menhub (Surat Edaran Menteri Perhubungan) dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Pusat yang tetap memberlakukan syarat vaksinasi dan tes antigen atau tes PCR bagi pelaku perjalanan. Jadi, ada sistem nasional yang baik yang diikuti oleh daerah,” ungkapnya.

Kepala Diskes Kaltim Padilah Mante Runa menambahkan, capaian vaksinasi dosis pertama di Balikpapan sudah lebih 70 persen. Namun, pada dosis kedua baru lebih 50 persen dari jumlah sasaran vaksinasi di Balikpapan. Walau belum menunjukkan capaian herd immunity atau kekebalan kelompok, faktor utama yang membuat pelandaian kasus harian Covid-19 adalah kesadaran masyarakat yang banyak menggunakan masker dalam setiap aktivitasnya. Sehingga, jumlah penularan melandai. “Ada orang yang positif misalnya, tapi di sekitarnya tidak positif, karena sudah vaksin. Sehingga tidak tertular, karena sudah terbentuk kekebalan tubuhnya. Jadi selain prokes, tingkat vaksinasi yang tinggi juga jadi faktor penentunya,” ucapnya dikonfirmasi terpisah.

Menurut data harian Covid-19 di Kaltim kemarin, ada beberapa kabupaten/kota yang tidak ada kasus terkonfirmasi positif atau nol kasus. Seperti di Balikpapan, Bontang, Mahakam Ulu (Mahulu), dan Paser. Sementara, Berau dan Kutai Barat (Kubar) hanya ada satu kasus. Lalu, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), dan Penajam Paser Utara (PPU) dengan jumlah dua kasus. Dan Samarinda menjadi yang terbanyak dengan jumlah tiga kasus. Sehingga, total kasus harian kasus sebanyak 11 kasus. Dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 21 orang.

Mantan direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda ini mengingatkan, walaupun kasus terus melandai, masyarakat harus mewaspadai varian baru virus corona. Yakni AY.42 yang merupakan turunan varian delta dan membuat lonjakan kasus di Inggris. Selain itu, masih ada potensi dari gelombang ketiga Covid-19 imbas mobilitas pada musim liburan Natal dan tahun baru. “Saya imbau kepada masyarakat jangan terlena. Jangan lalai dengan melandainya kasus ini. Karena masih ada ancaman gelombang ketiga. Dan juga kami tetap mengirim sampel swab ke Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kemenkes. Untuk mengantisipasi ancaman varian baru,” pungkasnya. (pro)