Seiring perkembangan zaman, budaya lokal memang semakin sulit dikenal publik, terlebih imbas pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Tak dinyana, karya-karya warga lokal bukan tak kalah dengan daerah lain, salah satunya wastra.

 

WASTRA, diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya kain. Kain-kain khas lokal benar-benar tak kalah menarik. Seperti yang dilakukan anak-anak Kutai Kartanegara (Kukar) di momen photoshoot “Wastra Tuah Himba”.

Aldi Riandana selaku Creative Director Teruna Dara Kukar 2021 menuturkan, di momen photoshoot, ingin mengangkat budaya Kukar. “Kami ingin anak-anak muda khususnya dan warga Kukar tahu, ternyata punya wastra sendiri, yang sebenarnya sudah banyak dikenal orang, tapi mungkin ada juga yang belum tahu banyak,” ungkapnya. “Ada juga dari masyarakat yang belum tahu, kami ingin menunjukkan ke publik kalau warga lokal bisa lho, ada desainer yang kelasnya sudah seperti Fashion Week. Kan luar biasa,” ungkapnya saat diwawancarai (30/10).

Aldi dan rekan-rekan menjalani proses yang cukup menyita banyak hal. Selain karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang masih ketat beberapa waktu lalu, dia yang kolaborasi bersama desainer dan perajin di Kukar harus pintar-pintar mengatur waktu untuk bertemu, membahas dan mengetahui bahan-bahan kain yang akan digunakan di momen Wastra Tuah Himba.

“Awal kesulitan adalah penyediaan baju dan kain. Persiapan lumayan lama, tapi untuk available bahan-bahannya kan butuh atur waktu untuk kolaborasi, tapi alhamdulillah, teman-teman yang bergabung untuk kolaborasi semangatnya sama. Karena gaung dari Wastra Tuah Himba itu luar biasa. Dulu ngerasa kuno pakai kain, setelah coba konsep dengan foto serta penyusunan yang baik, kesan kuno tidak lagi, jadi orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kain,” jelasnya. “Respons masyarakat sangat baik lagi, dari konsep, apa yang dikenakan, dan lainnya luar biasa. Ada juga dari ekonomi kreatifnya. Termasuk teman-temannya make up artis (MUA) juga semakin dikenal. Jadi terasa kepada semua pihak yang terlibat,” tambahnya.

Tahun depan, dia berharap sisi ekonomi kreatif lainnya juga bisa terangkat. “Kita semua harus bisa ambil peran,” tegasnya.

Dilansir dari laman Instagram Aldi,“Wastra Tuah Himba” memiliki sebuah pesan untuk mengangkat pesona kain-kain tradisional Kukar yang terinspirasi dari semangat untuk menjaga kekayaan hutan dan alam. Masing-masing dari kain tersebut memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dari simbol, warna, ukuran hingga material yang digunakan. Nilai-nilai ini juga dipegang dari semboyan Tenggarong yaitu Tuah Himba Untung Langgong, yang berarti menjaga kekayaan hutan dan alam, maka manfaat yang diperoleh akan langgeng (lancar).

“Melalui photoshoot, kami ingin ikut melestarikan wastra-wastra indah dari Kukar. Selain itu, turut mengenalkan dan mempromosikan dari setiap guratan motif dalam wastra tradisional yang kaya nilai filosofis dan keindahan. Wastra Tuah Himba mengangkat beberapa pesona kain-kain tradisional, baik dalam pakaian juga latar foto, yakni Batik Melayu Kutai dengan motif buah jelayan, buah elai, jajak keminting, sirih raja, pucuk tegaron dan jajak cincin. Ada pula tenun doyo motif naga dan limar dari pokant takaq, tenun badong tancep dari pokant takaq, serta batik buceros gasing dengan motif perangat gradasi, pelele, buong jomok, buong gradasi, dan tungkul kontemporer I.

“Terima kasih banyak untuk semua pihak yang turut andil menyukseskan photoshoot. Apresiasi sebesar-besarnya untuk segala bentuk kontribusi yang ada,” tutupnya. (dra/k16)