Nia Dinata dikenal lewat karya-karyanya yang mengusung tema Woman Empowerment. Sebagaimana Arisan! (2003) dan Berbagi Suami (2006). Dia menawarkan sesuatu yang berbeda lewat film terbaru yang belum lama ini sudah menyapa Anda, A World Without. Film itu mengusung genre scifi dan thriller misteri, tanpa melupakan pesan moral yang ingin disampaikan.

 

TAHUN 2030, sepuluh tahun setelah pandemi Covid-19 berakhir, bumi berubah. Selain banyaknya masalah lingkungan, angka kelahiran menurun drastis, tidak sebanding dengan angka kematian. Setidaknya hal itu disampaikan Ali Khan (Chicco Jericho), founder The Light. Organisasi yang juga digawangi istri Ali, Sofia (Ayushita), itu merupakan pusat pelatihan remaja sebelum mereka dijodohkan dengan sesama peserta yang dianggap cocok oleh sistem The Light.

Para peserta itu antara lain, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) yang bersahabat sejak kecil. Mereka sangat senang diterima di The Light yang berjanji bisa mewujudkan segala keinginan mereka. Namun, seiring waktu, mereka akhirnya mengetahui rahasia gelap tempat itu dan fakta bahwa kenyataan tidak seindah ekspektasi.

“The Light menciptakan generasi yang lebih sustainable dan siap menghadapi masa depan setelah pandemi,” ungkap Chicco. Di balik perangainya yang tampak bijak dan cerdas, karakter Ali dan sang istri, Sofia, cukup kompleks. Mereka memiliki trauma masa lalu yang kemudian berubah menjadi sifat ambisius yang dituangkan kepada The Light.

Film itu menampilkan segala sesuatu dari sudut pandang perempuan, yakni lewat karakter Salina, Ulfah, dan Tara. Ketiganya memiliki latar belakang dan ambisi yang berbeda, tetapi memiliki persahabatan yang sangat erat. Bisa dibilang mereka adalah the next level of sisterhood.

“Penggambaran karakter perempuan muda yang bisa berdiri sendiri, yang tidak didefinisikan laki-laki, yang bukan hanya tentang pencarian cinta, melainkan sebagai agen perubahan berkat sisterhood mereka. Itu yang sangat spesial,’’ jelas Lucky Kuswandi, penulis skenario. Film tersebut melibatkan banyak perempuan di balik layar. Misalnya, sinematografer dan production manager. Menurut Nia, banyaknya perempuan yang terlibat sangat mempermudah dalam penyelesaian film itu sendiri. Dia menjadi tidak perlu banyak berdiskusi soal perspektif perempuan yang dimaksud. Sebab, mereka pasti langsung paham.

“Aku melibatkan semua (perempuan) yang bisa menebalkan dan menajamkan lensa perspektif aku. Aku sendirian memang bisa, tapi kami ingin ada perspektif perempuan, bukan hanya dari tiga karakter utama, melainkan dari balik layar,” timpal Nia.

Hal lain yang menarik dari film itu adalah latar distopia yang belum banyak ditemukan di film Indonesia. Beberapa elemen yang menunjukkan dunia di masa depan ditampilkan. Misalnya, virtual reality dan teknologi lainnya yang belum banyak dijumpai di masa sekarang. “Distopia fiksi itu memberikan sebuah cermin yang merefleksikan, Oh, ini di masa depan ada, tapi juga terjadi di masa sekarang’,’’ jelas Lucky.

Dengan kata lain, film itu menceritakan momen sepuluh tahun mendatang, tetapi apa yang terjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Yang dicari tiga karakter utama itu tidak jauh beda dengan apa yang dicari banyak orang, terutama pascapandemi seperti ini. Yakni, kepastian akan masa depan, sense of community, sense of belonging, itu yang didapatkan dari The Light,’’ ujarnya.

 

KARAKTER PARA TOKOH

Salina (Amanda Rawles): Ambisius dan selalu tahu apa yang mau dilakukan. Dia juga bisa dibilang cukup kompetitif. Salina sangat mengidolakan Ali Khan yang akhirnya membuat dia tertarik masuk The Light. Salina bercita-cita menjadi filmmaker.

Tara (Asmara Abigail): Sosok yang ceroboh. Awalnya, Tara percaya bahwa jalannya tidak seperti apa yang ada di mata masyarakat. Namun, dia menemukan jalan yang baru dan membuatnya semakin berani. Tara memiliki masa lalu yang cukup sulit berkaitan dengan mantan kekasihnya.

Sofia (Ayushita): Seorang inventor yang memiliki banyak rencana kebaikan, bukan hanya untuk dirinya sendiri dan The Light, melainkan juga untuk dunia. Dia memiliki semangat besar dan sama ambisiusnya dengan Ali.

Ulfah (Maizura): Menjadi yang paling lovely jika dibandingkan dengan Salina dan Tara. Dia juga menyebarkan aura positif lewat ucapan dan tindakannya. Namun, dia juga lebih konservatif daripada dua temannya itu. Ulfah sangat menyukai bayi.

Ali Khan (Chicco Jericho): Founder The Light dan suami Sofia. Dia juga berperan sebagai life coach yang menyampaikan banyak nasihat bijak kepada peserta The Light. Ali sangat ambisius dan visioner, dia tahu persis apa yang diinginkannya. (jpg/adn/c12/ayi/dra/k16)