JAYAPURA-Rentetan kontak senjata antara TNI-Polri dengan TPNPB-OPM terus terjadi di Intan Jaya, Jumat (29/10). Bahkan Bandara Bilorai-Sugapa, Kabupaten Intan Jaya dikabarkan dibakar. Dua hari sebelumnya pasca kontak tembak yang menewaskan seorang anak kecil, bandara tersebut sudah tidak beroperasi lagi.

“Bandara ditutup sejak Kamis (28/10) dan Jumat (29/10) dilakukan pembakaran. Belum diketahui siapa yang membakarnya” kata Petugas Bandar Udara Bilorai-Sugapa Intan Jaya, Ramli saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (29/10). Dikatakan, rencana Bandar Udara Bilorai-Sugapa Intan Jaya akan beroperasi pada Senin (31/10). Namun semua itu melihat situasi di lapangan.

“Rencana beroperasi mulai Senin, namun kalau situasi tidak memungkinkan maka kita belum beroperasi hingga ada jaminan keamanan,” ucapnya. Selain bangunan yang ada di bandara dibakar, ratusan warga dikabarkan mengungsi ke rumah ibadah. Ratusan warga tersebut mengungsi di Gereja Katolik Paroki Bilogai, Stasi St Petrus Agapa dan GKI Sugapa.

Seorang narasumber yang berada di Intan Jaya yang namanya enggan dikorankan menyampaikan, di Intan Jaya masih terjadi kontak tembak. Sekitar 800 warga yang ada di sekitar Bilogai berkumpul di suatu tempat untuk mengamankan diri.

"Masyarakat di sekitar Bilogai berkumpul di tempat aman yakni di geraja Kingmi dan Katolik yang ada di Sugapa atas petunjuk Polri. Mereka ini mencari tempat aman agar terhindar dari peluru nyasar saat kontak tembak TNI-Polri dan OPM," ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Jumat 29/10).

Dikatakan, Intan Jaya belum benar-benar kondusif. Kamis (28/10) masih terjadi kontak senjata antara TNI-Polri dan OPM. Sementara ratusan warga yang mengungsi belum ada perhatian dari pemerintah. "Sekarang pesawat juga belum bisa masuk ke sini (Sugapa-red) dengan alasan keamanan," tuturnya. Sementara untuk anak kecil yang meninggal dunia akibat terkena serpihan peluru sudah dimakamkan. Satu anak lainya sudah dibawa keluar dari Intan Jaya untuk mendapatkan penanganan medis.

Adapun warga di tiga kampung di Intan Jaya yang mengamankan diri menurut sumber Cenderawasih Pos yakni Kampung Bilai, Yokatapa dan Balagupa. Ratusan warga ini mengamankan diri di Bilogai, Agapa.

Secara terpisah, anggota DPRP yang juga warga Intan Jaya, Apniel Sani menyampaikan, kontak tembak di Intan Jaya bukan kali pertama. Melainkan sudah sering terjadi, sehingga butuh sebuah pertolongan agar konflik ini segera berakhir. "Ini bukan kali pertama peristiwa penembakan yang menewaskan sipil, namun sudah sering terjadi di Intan Jaya. Saya melihat butuh sebuah pertolongan kepada masyarakat Intan Jaya karena mereka terus menerus berada dalam tekanan dan intimidasi, mereka tidak bisa beraktivitas pasca kejadian 26 Oktober lalu. Kita sedih melihat kondisi masyarakat yang selalu dalam tekanan akibat konflik bersenjata," kata Apniel kepada Cenderawasih Pos.

Mengatasi persoalan Intan Jaya lanjut Apniel, semua unsur gereja, tokoh masyarakat dan pemerintah sama-sama mengupayakan keamanan dan kedamaian bagi warga Intan Jaya. Artinya, dalam persoalan Intan Jaya. Bukan hanya pemerintah daerah yang bergerak, namun pemerintah pusat juga perlu berpikir dalam kebijakan terkait dengan keamananan. Sehingga, jangan sampai kehadiran aparat di Intan Jaya bukan untuk mengamankan atau membuat situasi kondusif namun justru menimbulkan ketegangan. Apalagi dengan kejadian kontak senjata hingga ada anak kecil yang meninggal dunia.

"Anak-anak seharusnya tidak menjadi korban apalagi meninggal dunia akibat tertembak di daerah konflik," ujarnya. Dikatakan, jika konflik suku di masyarakat masih bisa dikendalikan. Tetapi ini konflik senjata antara OPM dan TNI-Polri merupakan hal yang sulit. Untuk itu, masing-masing pihak harus bertindak bijaksana, jangan sampai mengorbankan masyarakat terutama anak-anak yang tidak tahu persoalan.

"Masing-masing pihak TNI-Polri dan OPM harus memberikan pandangan yang baik, sehingga tidak mengorbankan anak-anak dan perempuan saat kontak senjata," pintanya. Untuk situasi di Intan Jaya, Apniel mengakui belum kondusif. Dari laporan petugas bandara di Bilogai-Sugapa bahwa bandara ditutup demi keamanan.

"Bandara dibuka terkecuali ada hal-hal yang sifatnya darurat baru bandara bisa digunakan. Situasi belum kondusif, masyarakat belum beraktivitas dan masyarakat mengunsi di tiga tempat," jelasnya. Ia berharap situasi Intan Jaya segera membaik dan masyarakat kembali beraktivitas seperti semula.

Sementara itu, Danrem 173/PVB, Brigjen TNI Taufan Gestoro menyampaikan, dari informasi anggotanya di lapangan Bandara Bilogai belum beroperasi sejak Kamis (28/10). “Dari Dandim seperti itu (belum ada penerbangan-red) menunggu situasi kondusif,” kata Danrem saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (29/10).

Danrem juga sudah mendapat informasi terkait dengan adanya warga di Intan Jaya yang mengamankan diri. Namun ia belum tahu warga mengamankan diri seperti apa. “Saya sudah dapat informasi adanya warga yang mengamankan diri, namun belum tahu mereka mengamankan diri seperti apa. Dimungkinkan setelah situasi membaik mereka akan kembali ke rumah mereka masing-masing. Itu hanya bersifat sementara mereka mengamankan diri,” terangnya.

Terkait informasi yang beredar yang menyebut aparat yang melakukan penembakan terhadap dua anak kecil, Danrem mengaku belum mendapat informasi apakah yang menembak dua anak kecil itu aparat atau bukan. “Jangan-jangan mereka (KKB-red) sendiri yang melakukan penembakan terus balik menuduh aparat yang melakukan penembakan. Ini bisa saja diputarbalikan faktanya untuk membuat suasana tidak nyaman di Intan Jaya,” kata Danrem. Untuk situasi Intan Jaya lanjut Danrem, anggota tetap siaga, waspada serta antisipasi serangan dan gangguan dari KKB. (fia/nat)