Proyek pengembangan kilang Pertamina di Balikpapan diklaim mengalami sejumlah hambatan. Kondisi itu yang membuat realisasi proyek berjalan lambat.

 

BALIKPAPAN-Realisasi investasi minyak dan gas (migas) tampaknya tidak memenuhi target tahun ini. Salah satu penyebabnya, terlambatnya pembangunan proyek di sektor hilir migas yang direncanakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Yaitu Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang dikelola PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB).

Sekretaris Dirjen Migas Kementerian ESDM Alimuddin Baso menuturkan, realisasi investasi migas hingga triwulan III 2021 mencapai USD 9,07 miliar. Atau setara 56,67 persen dari target yang ditetapkan pada 2021 sebesar USD 16,81 miliar.

“Terdapat beberapa hambatan dalam pencapaian investasi migas. Antara lain perubahan investasi hilir. Khususnya pada kilang RDMP dan GRR (grass root refinery) terkait efisiensi biaya,” ungkapnya dalam paparan update Kebijakan dan Capaian Kinerja Sektor ESDM Triwulan III Tahun 2021 secara virtual.

Karena itu, sambung dia, untuk meningkatkan capaian realisasi investasi migas yang relatif rendah, Dirjen Migas Kementerian ESDM akan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Dwi Anggoro Ismukurnianto menambahkan, rendahnya capaian realisasi investasi tersebut karena keterlambatan pada sektor hilir migas. Dalam hal ini, proyek pengembangan dan pembangunan kilang.

Dia mencontohkan, pada kilang RDMP Balikpapan yang belum terealisasi penyertaan modal ke PT KPB. Karena menunggu persetujuan dari PT Pertamina (Persero). Selain itu, menunggu hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Menurut dia, progres pembangunan RDMP Balikpapan hingga pertengahan September lalu telah 41,55 persen. Di atas target revisi sebesar 40 persen. Kemudian, pada RDMP Kilang Cilacap, sebagian anggaran yang direncanakan tidak terealisasi. Sementara pada GRR Kilang Tuban, mengalami permasalahan pada proses tukar guling lahan. “Itu beberapa poin, yang menyebabkan investasi hilir ini, mengalami keterlambatan dalam realisasinya,” terang dia.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih mengatakan, capaian realisasi pembangunan kilang RDMP dan GRR yang sudah berjalan tidak terlalu buruk hingga akhir tahun ini. Lantaran, secara realisasi fisik pembangunan RDMP Kilang Balikpapan maupun Balongan sudah dilaksanakan sesuai target.

Sebelumnya, saat mengunjungi proyek RDMP Balikpapan akhir September lalu, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengingatkan kontraktor agar segera menyelesaikan proyek dengan kualitas terbaik. Serta tanpa tambahan biaya yang bisa merugikan Pertamina, maupun nilai keekonomian proyek ke depannya. “Kami mau proyek ini selesai tepat waktu dengan segala konsekuensinya, tetapi harus tetap sesuai aturan dan asas keadilan,” kata mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Dalam keterangan resminya dikutip dari Pertamina.com, Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical Pertamina Ifki Sukarya menuturkan, RDMP Balikpapan yang dikelola oleh PT KPI terdiri dari dua fase.

“Fase 1 yang ditargetkan rampung tahun 2024 bertujuan meningkatkan kapasitas menjadi 360 ribu barel per hari dan menghasilkan produk-produk berkualitas yang memenuhi standar Euro V,” tutur Ifki.

Sedangkan fase 2 yang ditarget rampung pada 2026 bertujuan meningkatkan fleksibilitas pasokan minyak mentah dan memproduksi minyak mentah ekonomis yang lebih banyak tersedia di pasaran dengan kandungan sulfur 2 persen.

Dia menyampaikan, pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri bagi PT KPI untuk tetap adaptif melanjutkan proyek RDMP Balikpapan secara on time, on budget, on specification, on return, on regulation. (kip/riz/rom/k15)