SAMARINDA–Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini benar-benar berada di atas awan. Pasalnya, TBS sawit dihargai Rp 2.551 per kilogramnya. Harga ini merupakan tertinggi sepanjang sejarah. Tingginya harga jual TBS masih disebabkan harga crude palm oil (CPO) yang juga terus mencatat peningkatan.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, harga TBS ditetapkan sesuai harga CPO internasional. Sehingga ketika CPO terus membaik, akan berujung pada perbaikan TBS. Ketika harga TBS terus membaik, petani di Kaltim akan semakin sejahtera.

Harga-harga yang sudah ditetapkan per bulan, merupakan standar bagi para petani yang sudah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, khususnya kebun plasma. Sehingga ini menjadi harga acuan oleh petani. “Perbaikan CPO saat ini tentunya akan berdampak baik bagi petani di Kaltim karena harga TBS juga turut meningkat,” katanya, Jumat (29/10).

Sedangkan, harga CPO ditentukan oleh harga pasar dari supply dan demand. Sehingga peningkatan TBS tentunya berdasarkan dari permintaan CPO. Jika permintaan CPO terus meningkat, permintaan TBS akan bertambah yang berujung pada perbaikan harga. Setiap bulan perhitungan TBS kelapa sawit membutuhkan komponen harga CPO dunia. “Jika melesatnya harga CPO tertahan di atas, maka harga buah kelapa sawit juga terus melesat,” pungkasnya.

Ditemui terpisah, Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Kaltim Azmal Ridwan mengatakan, CPO digunakan sebagai salah satu pengukur harga TBS di daerah, sehingga peningkatan harga minyak sawit pasti sangat berdampak pada TBS Kaltim di tingkat petani.

Saat terjadi peningkatan pada harga CPO, tentunya harga TBS akan meningkat. Peningkatan harga TBS itu dirasakan langsung oleh petani. “Peningkatan harga CPO saat ini disebabkan tingginya permintaan. Permintaan yang tinggi tahun ini, disebabkan banyaknya negara yang meminta CPO, sebab pada 2020 kebanyakan negara kesulitan mengimpor minyak kelapa sawit,” jelasnya.

Menurut dia, sampai akhir tahun kemungkinan peningkatan harga CPO masih ada. Karena memang permintaan masih cukup banyak, dari ekspor maupun untuk kebutuhan domestik. Utamanya untuk memenuhi kebutuhan biodiesel. Dulu biodiesel, ada tapi tidak seberapa. Saat ini semua orang sudah mulai memanfaatkan biodiesel.

Baru-baru ini, di Kalimantan Selatan sudah ada membuka pabrik biodiesel. Hal ini juga akan membuat permintaan CPO kembali bertambah, dan berujung pada peningkatan harga di pasaran. Sekarang biodiesel sedang menjadi primadona, orang-orang berlomba membuka pabrik biodiesel. Kalau ini semakin banyak, permintaannya juga akan meningkat.

“Tingginya permintaan CPO ini yang membuat harga terus meningkat, yang juga akan dirasakan hingga tingkat petani,” pungkasnya. (ctr/ndu/k8)