BALIKPAPAN–Transformasi perusahaan hulu migas PT Pertamina melalui restrukturisasi Sub-holding Upstream diharapkan mampu mendorong pertukaran teknologi guna memacu produksi migas, khususnya di region Kalimantan.

Untuk diketahui, sejak tahun lalu PT Pertamina telah melakukan transformasi perusahaan melalui restrukturisasi holding. Untuk sektor hulu sub-holding dipimpin oleh Pertamina Hulu Energi (PHE). Di bawahnya ada delapan anak usaha hulu, termasuk Pertamina Hulu Indonesia.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani mengatakan, sejak kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) asing jatuh ke tangan Bumi Pertiwi, tentu banyak teknologi yang ditinggalkan. “Teknologi itu bisa kita adopsi untuk peningkatan produksi migas,” ucapnya, saat mengunjungi Balikpapan, awal pekan ini.

Dia menjelaskan, pihaknya memang mendorong interchange teknologi migas. Sebagian KKKS Pertamina sudah mulai inisiatif. Bahkan, teknologi rigless atau operasi tanpa rig bisa dijalankan. Menurut dia, pertukaran teknologi khususnya di wilayah kerja Kalimantan ini perlu. “Di sini ada tiga KKKS dari asing yang diambil alih Pertamina. Dari situ pertukaran teknologi bisa kita lakukan. Tujuannya tentu membantu meningkatkan produksi migas Kalimantan dan nasional,” terangnya.

Tidak menutup diri, sumur di Kaltim ini umurnya sudah tua. Tentu perlu teknologi untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi. “Tidak ada teknologi baru ya penurunan tajam bisa terjadi,” bebernya. Pria berkacamata ini mengibaratkan, fondasi sebuah gedung, tanpa adanya adopsi teknologi tidak akan mampu hidup lama.

Ditemui terpisah, Manager Communications Relations & CID PHI Dony Indrawan mengatakan, sinergi hulu migas ini diharapkan mampu meningkatkan produksi migas Pertamina dan nasional. “PHI sebagai holding zona tiga, yakni untuk area Kalimantan. Zona tiga ini terdiri dari Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina EP Asset 5, Pertamina Hulu Sangasanga, dan Pertamina Hulu Kalimantan Timur. PHI dibagi tiga zona. Pertama zona 8, zona 9, dan zona 10,” tuturnya, saat kegiatan daring ngobrol hulu migas bersama PHI dan AJI, belum lama ini.

Ia berharap, holding ini juga bisa saling bertukar inovasi drilling atau eksplorasi. Seperti yang diketahui, setiap operator migas memiliki teknologi yang berbeda. Seperti PHM yang memiliki teknologi pengeboran yang cepat. PHM menerapkan teknik pengeboran tanpa rig (rigless) untuk mengerjakan sumur dan menggantikannya dengan Hydraulic Workover Unit (HWU) baik di wilayah delta maupun lepas pantai. Metode rigless ini terbukti secara signifikan menekan biaya pengerjaan sumur.

“Dengan teknologi tersebut, sudah terbukti bisa menghemat biaya hingga 37 persen. Sub-holding ini tentu bisa membuat anak usaha hulu Pertamina lainnya memakai teknologi yang sama,” terangnya.

Kemudian, PHSS terkenal mampu meningkatkan produksi di sumur tua. Dengan demikian, seluruh teknologi yang bagus bisa dipergunakan. “Kita ambil ilmu yang bagus dan buang ilmu yang jelek,” bebernya.

Selain itu, dari sisi fasilitas, dengan sub-holding ini bisa saling integrasi. Pipa yang ada bisa dipergunakan sesama KKKS Pertamina khususnya. Tentu upaya ini mampu menekan cost produksi serta meningkatkan kapabilitas perusahaan. Adapun tahun ini target produksi migas zona tiga 64 ribu bopd dan gas 602.96 mmscfd. “Kami berharap dengan sinergi ini, untuk wilayah Kalimantan bisa mencapai target produksi,” pungkasnya. (aji/ndu/k8)