BEIJING – Upaya Tiongkok untuk meredakan krisis energi tidak berjalan lancar. Pemerintahan Presiden Xi Jinping itu masih mencoba menstabilkan harga batu bara yang melonjak tajam. Namun, sebulan terakhir, giliran harga bensin dan solar yang naik hingga 20 persen. Imbasnya, di hampir semua SPBU, pembelian BBM dibatasi agar semua kendaraan bisa dapat jatah.

’’Kami bertemu dengan perusahaan-perusahaan energi untuk menetapkan standar guna memerangi pengambilan keuntungan yang berlebihan (pada produsen batu bara, Red),’’ bunyi pernyataan Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) Tiongkok kemarin (28/10), seperti dikutip Financial Times.

NDRC akan mengirimkan tim inspeksi ke tambang-tambang batu bara. Sekitar 90 persen pasokan batu bara Tiongkok berasal dari produsen dalam negeri. Pertemuan itu meningkatkan harapan bahwa pemerintah bisa menetapkan harga atas batu bara. NDRC menjelaskan bahwa batas harga batu bara akan mengikuti batasan yang diterapkan pemerintah, untuk harga listrik di industri dan ritel.

Saat penetapan harga batu bara itu belum beres, pemerintah Tiongkok kini pusing dengan melonjaknya harga bensin dan solar. Harga beli grosir dua BBM tersebut kini bahkan lebih tinggi dari harga eceran yang ditetapkan oleh pemerintah. Itu membuat perusahaan penyulingan dan SBPU tertekan secara finansial.

Penerapan jatah untuk pengisian BBM membuat antrean mengular panjang. Para pengemudi truk bahkan mengeluh karena mereka harus menunggu seharian untuk mengisi solar. Itu pun per truk hanya boleh mengisi 100 liter atau hanya sekitar 10 persen dari kapasitas maksimalnya. Masalah energi di Tiongkok diprediksi bakal berpengaruh pada krisis rantai pasokan global.

’’Kekurangan solar mempengaruhi bisnis yang membutuhkan transportasi jarak jauh, itu mencakup barang-barang untuk pasar di luar Tiongkok,’’ ujar Direktur Economist Intelligence Unit di Tiongkok Mattie Bekink seperti dikutip BBC.

Jika berlangsung dalam jangka waktu lama, itu akan memperparah krisis rantai pasokan global. Tiongkok adalah salah satu pengekspor terbesar di dunia. Namun, kini banyak perusahaan yang kelimpungan karena krisis energi di negara tersebut.

Saat ini krisis pasokan itu didorong oleh pandemi Covid-19 global yang berangsur membaik. Permintaan melonjak ketika ekonomi kembali dibuka. Namun di lain pihak, banyak produsen yang belum mampu memenuhi permintaan tersebut.

Krisis energi ini juga memberikan tekanan tersendiri bagi Tiongkok jelang KTT perubahan iklim COP26 pada akhir pekan ini di Glasgow. Situasi itu menunjukkan bahwa Tiongkok sangat bergantung dengan bahan bakar fosil. Padahal Xi Jinping berambisi membawa negaranya mencapai netralitas karbon pada 2060. Tahun lalu, Tiongkok menyumbang separuh dari konsumsi batu bara global. (sha/bay/jpg/far/k16)