Peneliti Pusat Riset Politik BRIN Syafuan Rozi menilai, pemindahan ibu kota negara (IKN) baru ke Kalimantan Timur dapat menggunakan metode pendekatan rasional komprehensif.

”Metode itu mensyaratkan bahwa suatu kebijakan harus berbasis riset, tanpa itu akan menjadi kebijakan inkremental,” ujar Syafuan Rozi seperti dilansir dari Antara dalam webinar bertajuk Menimbang Aspirasi Pusat dan Daerah Dalam IKN di Kalimantan Timur, Kamis (28/10).

Menurut dia, kebijakan inkremental hanya melibatkan pihak tertentu dengan mengurangi risiko sebesar mungkin pada orang banyak. ”Kebijakan yang tidak melibatkan orang banyak itu akan lancar pada proses formulasi namun akan banyak masalah ketika diimplementasikan,” terang Syafuan Rozi. Pemindahan ibu kota negara juga diperlukan proses teknokrasi. ”Satu hal kita tahu, ketika membuat kebijakan rasional komprehensif diperlukan proses teknokrasi,” tutur Syafuan Rozi.

Di samping itu, pemindahan ibu kota negara juga harus mendapatkan dukungan warga setempat agar mendapatkan manfaat. ”Warga asli, masyarakat pendatang seperti transmigran harus dipikirkan. Jangan sampai tergusur,” papar Syafuan Rozi.

Dia menyampaikan langkah pertama yang dapat dilakukan yakni dengan memetakan masyarakat yang pro, netral, dan kontra, terhadap pemindahan ibu kota negara. ”Kemudian mencatat keberatan dan dukungan sehingga menjadi rasional komprehensif. Warga lokal perlu diyakinkan kehadiran ibu kota negara tidak menggusur,” ucap Syafuan Rozi.

Sementara itu, dosen politik kebijakan publik FISIP UI Andrinof Chaniago menilai, gagasan pemindahan IKN ke Kalimantan Timur dapat menciptakan peluang untuk membangun masyarakat kewargaan. Sebab, IKN dibangun di atas hamparan lahan yang relatif kosong.

”Dengan memilih lahan yang relatif kosong dan berada di wilayah provinsi yang multietnik relatif seimbang, menutup kemungkinan pemberian identitas atas etnik tertentu sehingga akan berpeluang untuk membangun masyarakat kewargaan,” tutur Andrinof Chaniago.

Di samping itu, lanjut dia, pemindahan IKN juga dapat menjadi modal memperkuat bangsa untuk mencegah erosi nasionalisme. ”Salah satu alasan logis rasional IKN di Kalimantan, yakni mewujudkan rasa keadilan dan menghilangkan diskriminasi pembangunan antarwilayah di tatanan nasional sebagai modal memperkuat bangsa untuk mencegah erosi nasionalisme,” ujar Andrinof. (jpc/ant)