MENURUT Eka Wahyuni, modal utamanya dalam memulai usaha adalah kemauan tinggi. Terjun di bidang kuliner, dia bahkan menampik bahwa dirinya pandai memasak. Justru apa yang dia masak berdasarkan belajar dari internet.

“Dulu buka kedai itu ya masakannya sederhana, ikan goreng, ayam goreng. Ketika orang tanya ada menu rica-rica? Saya jawab ada, padahal belum tahu bagaimana cara buatnya. Kemampuan itu bisa dilatih, tapi modal kemauan itu yang belum tentu ada di setiap orang,” bebernya.

Dia bercerita jika dulu saat merintis, karyawan yang membantunya adalah ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya di Jalan M Said, Loa Bahu, Samarinda. “Ibu-ibu itu kan kebanyakan tidak bekerja, saya ajak untuk bantu masak. Dulu mereka masak bawa pisau sendiri, kompor sendiri, karena saya belum punya. Bahkan sampai pinjam dapur tetangga,” kata Eka.

Kini, sebagian besar karyawannya adalah tetangga atau lingkungan tempat usahanya. Memberdayakan masyarakat sekitar khususnya para ibu. Bangunan dua lantai yang kini menjadi rumah tinggal sekaligus tempat usahanya selalu ramai setiap hari.

Beberapa anak kecil bermain di ruang depan atau ruang tamu. “Konsepnya di sini kekeluargaan. Saya enggak larang mereka kerja bawa anak. Asal enggak mengganggu. Kalau ada masalah, ya pasti kita obrolin. Alhamdulillah sih di sini orang lama semua, yang ikut sejak dulu apalagi ibu-ibu yang tukang masak,” ucapnya.

Hingga kini juga dia bersyukur usahanya lancar tanpa hambatan berarti. Dari sisi klien juga tak banyak komplain. Selain itu, Eka menerapkan untuk saling belajar dan bertumbuh.

Khususnya para karyawan freelance di lapangan, jika menemui masalah diharapkan bisa saling berbagi. Dan sama-sama belajar mengambil sisi positif hingga tak terulang lagi kemudian hari.

Usaha kedainya sudah tutup, fokus pada catering. Selain itu, dia juga melayani kotakan untuk acara. Termasuk menu makan siang bagi perusahaan atau dinas. Modal promosinya yang utama adalah mulut ke mulut. Kemudian memanfaatkan sosial media. (rdm)