Sebagai perantau, Eka tak ingin hanya berdiam diri ketika tiba di Samarinda. Jiwa wirausaha pun tumbuh. Mulanya dia berjualan kerupuk keliling, hingga mendirikan kedai kecil. Nasib mujur berpihak karena kegigihannya. Kini dia mendirikan perusahaan dengan berbagai unit usaha dan ratusan pekerja di dalamnya.

 

TUJUH tahun lalu, Eka dan keluarga menginjakkan kaki di Kota Tepian. Dia ikut sang suami yang pindah tugas. Dia ingin menambah pemasukan dengan berjualan. Namun diakui jika dia tak pandai memasak. Namun kemauannya untuk mencoba tak pernah pupus.

“Jualan kerupuk, titip ke warung-warung. Saya goreng sendiri di rumah, dibungkusin. Sampai sekitar 2016 buka kedai kecil. Warung makan biasa saja, cuma lauk sederhana. Termasuk melayani pesan antar, ya belanja sendiri, masak sendiri, sampai antar sendiri,” bebernya mengenang.

Pada 2017, salah seorang pembelinya bertanya apakah dia menerima pesanan masakan atau prasmanan. Tak pikir panjang, Eka mengiyakan. “Padahal enggak bisa masak, iya saja dulu. Enggak punya piring sendok, pokoknya peralatan belum memadai. Itu untuk 300 porsi,” lanjut perempuan kelahiran 1988 itu.

Dibantu satu orang tetangga yang bisa dibilang pandai memasak makanan rumahan, Eka memenuhi pesanan kliennya itu. Peralatan makan dia sewa dari tetangga. Dijelaskan jika pada saat itu semua serba terbatas. Namun Eka meyakini bahwa itu adalah peluang.

Suami memberinya modal dengan beberapa kartu kredit. Eka pakai untuk mencicil peralatan masak dan catering. Perlahan usahanya semakin dikenal sebagai Sambos Catering. Pengalaman memberinya banyak pelajaran.

“Jadi dari kartu kredit itu ibaratnya saling tutup lubang lah dulu. Misal enggak bisa lunasin yang satu, pake kredit satunya. Begitu terus mutar, sampai punya 12 kartu kredit. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah enggak sama sekali. Sudah lepas. Bahkan utang bank pun tidak. Saya mau jalankan bisnis ini dengan pengelolaan keuangan sendiri,” beber ibu beranak tiga itu.

Semakin berkembang, berbagai unit usaha pun mulai berjalan. Lalu pada 2019, resmi berdiri PT Big Sambos dengan menaungi empat unit usaha. Yakni catering, dekorasi, property dan steel.

“Punya sekitar 17 karyawan tetap dan untuk freelance itu ada berapa ya, ada ratusan mungkin ya. Yang bantu di lapangan misal ada acara. Soalnya dalam sehari kadang bisa handle 7 tujuh acara, bisa sampai 10.000 porsi,” ungkapnya.

Keteguhan dan kegigihan untuk terus berusaha membawa hasil manis. “Saya yang enggak bisa masak saja bisa punya usaha catering. Berusaha saja dulu. Yang awalnya handle 300 porsi dengan peralatan pinjam, sudah bisa handle ribuan porsi dengan peralatan sendiri sekarang,” tutupnya lalu tersenyum. (rdm)