SANGATTA - Sektor pariwisata merupakan salah satu usaha yang sangat merugi saat imbas virus covid 19 kian meluas. Termasuk guide di Kutim, yang saat ini kehilangan mata pencaharian dan tidak memiliki omzet sama sekali.

Apalagi dalam kondisi seperti ini masyarakat mulai mengurangi keinginan berpergian, hal itu karena kekhawatiran tertular wabah corona. Salah satunya, pengusaha agen travel di Kutim, Muhammad Agustiono mengaku kejadian ini bagaikan jatuh tertimpa tangga.

Jika biasanya ia jarang berada di rumah, saat ini wabah Covid melonjak, dirinya tidak lagi bisa mengeksplor Kutim sembari bekerja. Apalagi, aturan pemerintah pada warga sangatlah tegas untuk tetap berdiam diri di rumah. Hal itu membuatnya stagnant dan tidak menghasilkan rupiah selama beberapa bulan lamanya.

Namun, saat PPKM mulai melandai, maka dirinya tidak tinggal diam. Dia dan tim berupaya agar pendapatan dan piring nasinya bisa kembali utuh. Kendati sulit, namun Tio (sapaan karibnya), merasa sangat yakin dapat kembali mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

"Saya sempat kesusahan dan benar-benar tidak punya uang, tidak ada pekerjaan dan tidak punya sampingan. Sekarang pandemi berangsur menurun, saya berupaya membuka kembali open trip," katanya. 

Jika sebelumnya, dalam satu hari biasanya dia dapat meraup keuntungan Rp 400 - 450 ribu, bahkan jika dikalkulasi per bulan bisa menembus jutaan. Namun saat pandemi membuatnya chaos. Hingga kini, penghasilan pun tidak sebanyak sebelum Covid 19 melanda. 

"Ya sekarang begitu, usaha agak mentok tidak seperti dulu, tapi saya syukuri saja," tandasnya. 

Dirinya kini telah kembali untuk membuka usaha, hanya saja dengan tetap memperketat protokol kesehatan. Demi mematuhi anjuran pemerintah, sebagai upaya menekan angka pandemi. Bahkan, kata dia, pramuwisata pun telah melaksanakan vaksinasi untuk mencegah penularan yang mungkin terjadi. 

"Kami tetap lakukan prokes, smoga kondisinya bisa kembali normal, seperti dahulu lagi," tutupnya. (*/la)