Di perahu para nelayan Pangandaran yang rata-rata kecil, ada tangkapan-tangkapan bernilai tinggi yang menjadi primadona di berbagai negara.

SAHRUL YUNIZAR, Pangandaran

SENTUHAN angin pesisir menguatkan aroma laut yang sedari tadi menusuk-nusuk. Lantas, mengusik isi kepala untuk bertanya: nelayan berangkat melaut jam berapa? ”Nanti mulai jam 3 pagi,” kata Muhammad Yusuf. Pria 60 tahun tersebut adalah 1 di antara 5.000-an nelayan yang tinggal di Pangandaran, Jawa Barat. Dia sekaligus menjabat wakil ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di kabupaten kampung halaman mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Susi Pudjiastuti tersebut. Ketuanya, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata.

Kami bertemu dengan Yusuf pada Sabtu (9/10) di Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari di Pantai Timur Pangandaran. KUD itu membawahkan tiga tempat pelelangan ikan (TPI). Termasuk yang terbesar di Pangandaran: TPI Cikidang.

Di kabupaten tempat sastrawan Eka Kurniawan dibesarkan itu, secara keseluruhan 13 TPI tersebar. TPI Cikidang yang paling ramai. TPI itu pula yang perputaran uangnya tertinggi. Mencapai Rp 300 juta per hari. Bila TPI Cikidang digabung dengan dua TPI lain di bawah KUD Minasari, sesekali perputaran uangnya bisa tembus Rp 1 miliar per hari.

Sejak kecil akrab dengan laut, Kang Usup –begitu Yusuf akrab disapa– amat mafhum seluk-beluk kehidupan nelayan Pangandaran. ”Di sini kebanyakan nelayan kecil melaut pakai perahu kecil,” ujar dia. Mereka, seperti disebut Kang Usup tadi, mulai melaut dini hari. Sekitar pukul 03.00. Kemudian, para nelayan kembali pada jam 9 pagi. Membawa hasil tangkapan ke pangkalan pendaratan ikan untuk langsung dijual di TPI. Siang menjelang sore, mereka sudah bersiap melaut lagi. Mulai pukul 15.00 sampai pukul 21.00.

Ya, dalam sehari mereka dua kali melaut. Pergi pulang, pulang pergi. Mereka adalah nelayan tradisional yang rata-rata mengandalkan perahu bermesin 15 PK. Panjangnya 11 meter dengan lebar badan perahu sekitar 1 meter. Perahu kecil itu biasa diawaki dua atau tiga nelayan. Dengan perahu kecil itu pula, mereka menangkap hasil laut berkualitas ekspor. Baik ikan, lobster, udang, maupun hasil laut lainnya. Mereka sudah biasa mendaratkan tangkapan dalam jumlah kecil, tetapi bisa menghasilkan jutaan rupiah sekali jalan.

Keesokan paginya setelah bertemu dengan Kang Usup (10/10), kami sudah berada di TPI Cikidang. Dari pusat destinasi wisata di Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran, jaraknya sekitar 4–5 kilometer.

Selain TPI, di sana ada pangkalan pendaratan ikan. Ratusan perahu nelayan bersandar di sana. Seluruhnya berukuran kecil. Milik para nelayan dan kelompok nelayan. Ada yang murni milik sendiri, banyak pula yang berasal dari bantuan pemerintah.

Kami datang lebih awal untuk menyambut nelayan yang berangkat melaut dini hari. Kemudian, menjajal perahu yang bertolak menjelang sore. Saat kami tiba, TPI Cikidang masih sepi. Yang tampak hanya beberapa petugas lelang. Mereka tengah duduk santai menunggu nelayan berdatangan. ”Biasanya, jam 9 sampai jam 1 siang ada lelang,” ungkap Maryo, salah seorang petugas lelang.

Dia mengungkapkan, dalam seminggu TPI Cikidang hanya libur satu hari: Jumat. Selebihnya, mulai Sabtu sampai Kamis, mereka buka untuk melelang hasil melaut para nelayan.

Dua jam lebih menunggu, seorang nelayan datang membawa beberapa boks styrofoam. Isinya adalah bawal putih. Maryo menyebut bawal putih sebagai salah satu ikan yang siap ekspor. Pasarnya, negara-negara di Asia. Harganya juga tinggi. Mulai Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu per kilogram. Bahkan bisa tembus Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu per kilogram. Itu harga khusus setiap Imlek.

Setelah dikeluarkan dari boks styrofoam, bawal putih tangkapan nelayan langsung ditimbang. Dipisahkan antara yang berukuran di atas 1 kilogram dan di bawah 1 kilogram. Dipisahkan pula antara yang mulus dan ikan yang sudah tergores atau luka.

Selain ukuran, kondisi ikan juga berpengaruh. Ikan yang memiliki luka tidak akan dikirimkan ke luar negeri. Dari bakul, sebutan pembeli ikan di TPI, ikan-ikan itu dibawa ke gudang untuk dijual langsung kepada masyarakat atau pedagang di pasar ikan. Sementara, yang mulus langsung disiapkan untuk ekspor. 

Kian siang, kian banyak pula nelayan yang datang. Boks styrofoam pun terus bertambah. Kali ini isinya bukan hanya bawal putih. Ada yang membawa layur, ada juga cumi-cumi. Ada pula yang datang memanggul tuna. Ukurannya cukup besar. Ketika dilelang, tuna itu laku Rp 38 ribu per kilogram. Dengan berat 73 kilogram, ikan tersebut terjual Rp 2,7 juta.

Manajer TPI KUD Minasari Ujang Suherman menyatakan, tuna termasuk ikan yang ditangkap untuk diekspor. Demikian pula layur. Namun, yang tengah menjadi primadona ketika kami datang adalah bawal putih dan ikan cabuk atau juga dikenal dengan sebutan ikan gogokan dan ikan gelama. Harga dua ikan itu unggul jika dibandingkan dengan ikan lainnya.

Ikan cabuk dengan ukuran 20 kilogram ke atas, jelas Ujang, biasa dijual Rp 40 ribu per kilogram. Artinya, seekor cabuk berbobot 20 kilogram laku dijual Rp 800 ribu. Bayangkan yang dapat puluhan atau ratusan ekor setiap melaut.

Sejauh yang diketahui Ujang, ikan cabuk sering diekspor ke Tiongkok dan Jepang. Setelah dikeringkan, gelembung ikan tersebut biasa dijadikan sup. Namun, ada juga yang menyebut ikan cabuk berharga tinggi lantaran gelembungnya dibutuhkan untuk produksi benang jahit medis. Nelayan-nelayan kecil di Pangandaran sudah paham keunggulan itu.

Mereka juga mengerti, kualitas tangkapan harus selalu dijaga supaya laku dijual ke luar negeri. Karena itu, mereka tidak serampangan menangkap ikan cabuk. Jaringnya khusus, dipilih yang berbahan lebih halus.

Setiap dapat, ikan-ikan itu juga mereka perlakukan istimewa. Insangnya dibungkus plastik, lalu diikat karet. Dalam boks atau peti, ikan cabuk juga dijejer rapi. Diberi es dengan proporsi yang pas agar ikan tetap segar. ”Kalau ngentepnya (menjejerkan dalam boks, Red) benar, esnya bagus, ikannya fresh,” jelas Ujang.

Kian siang, kian banyak pula nelayan yang datang. Boks styrofoam pun terus bertambah. Kali ini isinya bukan hanya bawal putih. Ada yang membawa layur, ada juga cumi-cumi. Ada pula yang datang memanggul tuna. Ukurannya cukup besar. Ketika dilelang, tuna itu laku Rp 38 ribu per kilogram. Dengan berat 73 kilogram, ikan tersebut terjual Rp 2,7 juta.

Manajer TPI KUD Minasari Ujang Suherman menyatakan, tuna termasuk ikan yang ditangkap untuk diekspor. Demikian pula layur. Namun, yang tengah menjadi primadona ketika kami datang adalah bawal putih dan ikan cabuk atau juga dikenal dengan sebutan ikan gogokan dan ikan gelama. Harga dua ikan itu unggul jika dibandingkan dengan ikan lainnya.

Ikan cabuk dengan ukuran 20 kilogram ke atas, jelas Ujang, biasa dijual Rp 40 ribu per kilogram. Artinya, seekor cabuk berbobot 20 kilogram laku dijual Rp 800 ribu. Bayangkan yang dapat puluhan atau ratusan ekor setiap melaut.

Sejauh yang diketahui Ujang, ikan cabuk sering diekspor ke Tiongkok dan Jepang. Setelah dikeringkan, gelembung ikan tersebut biasa dijadikan sup. Namun, ada juga yang menyebut ikan cabuk berharga tinggi lantaran gelembungnya dibutuhkan untuk produksi benang jahit medis. Nelayan-nelayan kecil di Pangandaran sudah paham keunggulan itu.

Mereka juga mengerti, kualitas tangkapan harus selalu dijaga supaya laku dijual ke luar negeri. Karena itu, mereka tidak serampangan menangkap ikan cabuk. Jaringnya khusus, dipilih yang berbahan lebih halus.

Setiap dapat, ikan-ikan itu juga mereka perlakukan istimewa. Insangnya dibungkus plastik, lalu diikat karet. Dalam boks atau peti, ikan cabuk juga dijejer rapi. Diberi es dengan proporsi yang pas agar ikan tetap segar. ”Kalau ngentepnya (menjejerkan dalam boks, Red) benar, esnya bagus, ikannya fresh,” jelas Ujang.Karena itu, di sepanjang 91 kilometer garis pantainya, pada setiap embusan angin yang menguarkan aroma laut, para pemburu ikan dari Pangandaran itu menggantungkan asa. Untuk terus meningkatkan penghidupan dan menjaga warisan turun-temurun sebagai nelayan. (jpc)