SAMARINDA-Lalu lintas di Samarinda Utara nyaris lumpuh Senin (18/10). Banjir menggenang, berdampak pada ribuan orang di Kota Tepian. Masalah klasik ini menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah yang tak kunjung selesai. Kondisi diperparah karena wilayah utara kini dikelilingi tambang batu bara. Pembukaan lahan yang begitu masif ditambah sistem drainase yang tak maksimal, membuat banjir sudah akrab di kawasan ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Hambali mengatakan, curah hujan yang terjadi kemarin, memang lebih tinggi dibandingkan banjir yang terjadi pada 13 September 2021. Hambali memaparkan, pada 13 September lalu, pantauan curah hujan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan di lima titik wilayah, hanya satu titik yang curah hujannya lebih dari 100 milimeter. Yaitu di Sempaja yang waktu itu mencapai 120 milimeter.

Sementara pada hujan kemarin, curah hujan di tiga wilayah melebihi 100 milimeter. Bahkan di Sungai Siring, mencapai 214,5 milimeter. Dia lalu memerinci, pantauan curah hujan di Tanah Merah 106,5 milimeter, Bendungan Benanga 108,5 milimeter, Sempaja 24,5 milimeter, dan Pampang 76,4 milimeter. Akibat tingginya curah hujan ini, 34 ruas jalan di Samarinda terendam air. Selain itu, mengakibatkan lima titik longsor. Tinggi muka air pun mencapai 3050 sentimeter. Kami menyiapkan dua truk untuk mengangkut para penumpang yang hendak menuju Bandara APT Pranoto. Lalu, kami baru tahu kalau di Buddhist Center ada vaksinasi massal untuk dua ribu orang. Jadi, kami minta bantuan tiga unit dari BPBD provinsi untuk mengantar dan menjemput para peserta vaksinasi massal. Kami juga dibantu TNI-Polri untuk mengatur lalu lintas,” papar Hambali.

Dia melanjutkan, masyarakat di sekitar Sungai Karang Mumus diharapkan waspada. Hambali berharap tak ada lagi curah hujan tinggi di Samarinda. Sebab, curah hujan kemarin jadi yang paling tinggi sepanjang tahun ini.  Dia memperkirakan, kawasan Muang di Samarinda Utara akan menjadi daerah yang genangannya bakal lama.  Posisinya, sekarang di Muang ini yang paling tinggi air. Kita pantau terus. Kalau nanti atau besok akan kering, kemungkinan kirimannya bakal ke Sempaja,” jelas dia.

Sementara itu, dalam konferensi pers kemarin, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak La Nina. La Nina berdampak pada curah hujan tinggi. Sehingga, berisiko pada banjir dan tanah longsor,” sebutnya. Apalagi saat ini 20 persen wilayah di Indonesia dalam musim hujan. Termasuk di sebagian besar Kaltim.

Tidak hanya masyarakat yang bermukim di kawasan Samarinda Utara, mereka yang hendak melakukan penerbangan melalui Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda juga terkena imbas. Pasalnya, jalan masuk menuju bandara tergenang banjir. Padahal, sebelumnya tidak pernah. Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto Samarinda Agung Pracayanto mengatakan, hujan lebat yang terjadi kemarin di Samarinda Utara membuat air dari wilayah yang lebih tinggi di sekitar bandara, menggenangi jalan masuk bandara.

Akibatnya kendaraan pribadi kesulitan masuk. Bahkan, ada yang menyebut bandara tenggelam. Namun, air tidak sampai ke terminal dan landasan pacu. Untuk penerbangan tidak terpengaruh. Tetapi, untuk penumpang ke bandara yang cukup berpengaruh. Kita juga sudah berkoordinasi dengan tim dari Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat),” kata Agung kemarin. Diakuinya, sebelumnya banjir tak pernah separah kemarin. Menurutnya, selain curah hujan yang tinggi, juga ada hal lain yang perlu diperbaiki. Mulai adanya pengaliran air (shortcut) ke area bandara, sehingga menyebabkan drainase area sisi darat dan sisi udara tertahan.

Air tidak bisa mengalir ke Sungai Karang Mumus karena elevasinya hampir sama, sehingga air bah melimpas ke area jalan masuk bandara dan area parkir pesawat (apron). Lalu para penambang yang ada di sekitar kawasan bandara membuka settling pond atau kolam pengendapan, sehingga air melimpas ke badan jalan. Triyono, Teknisi Bangunan dan Landasan Bandara APT Pranoto juga mengamini kondisi hujan kemarin memang cukup tinggi. Dari laporan yang saya dapatkan, curah hujan itu 214 milimeter selama 8 jam, di Sungai Siring (kelurahan lokasi Bandara APT Pranoto Samarinda). Memang cukup tinggi,” jelasnya.

Dijelaskannya, banjir di Bandara APT Pranoto Samarinda memang diakibatkan curah hujan yang sangat tinggi dan dampak perbaikan di jalan di Desa Tanah Datar, Kukar. Di sisi lain, drainase memang diarahkan ke sekitar bandara dan berakibat limpasan air begitu banyak. Menurutnya, jika nanti perbaikan sudah selesai, diharapkan drainase akan lebih lancar dan banjir seperti yang  terjadi kemarin bisa diantisipasi. (nyc/riz/k16)