BALIKPAPAN – Kota Minyak berhasil turun status menjadi PPKM level 2 sejak 5 Oktober lalu. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Balikpapan menilai berbagai langkah diambil Pemkot Balikpapan efektif menekan penyebaran pandemi. Mulai vaksinasi hingga PPKM.

Ketua IDI Balikpapan Drajat Witjaksono menuturkan, pihaknya memang sempat kritis terhadap pemerintah saat awal pandemi. “Sekarang kami melihat langkah yang diambil sudah berjalan on the track,” ucapnya. Apalagi menjadi PPKM level 2, artinya Pemkot Balikpapan, stakeholder, dan seluruh warga berhasil.

Drajat menyebutkan, sejauh ini pelaksanaan PPKM dan vaksinasi dinilai cukup efektif. Menurutnya salah satu contoh bisa terlihat dari tenaga kesehatan kini tak ada lagi yang tumbang, sakit hingga meninggal khususnya di Balikpapan. Dia meyakini sampai saat ini belum ada masuk varian baru.

Sebab dampaknya juga belum terlihat ada muncul. “Sekarang pasien juga sedikit, BOR di rumah sakit sangat rendah. Saya yakin belum ada varian baru dan semoga tidak ada,” harapnya. Dia menjelaskan, cakupan vaksinasi yang sudah lebih dari 50 persen mampu menekan kasus.

Bahkan pantauan dari vaksinasi, tingkat kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang luar biasa tidak terjadi alias belum ada temuan di Kota Beriman. Dia memberi contoh, ada laporan beberapa kasus, namun ternyata bersifat insidental. Setelah ditelusuri tidak berhubungan dengan KIPI.

“Misalnya saat vaksinasi sedang flu. Jadi sakit bukan terdampak karena vaksinnya,” ucap pria yang juga menjadi anggota KIPI tersebut. KIPI menimbulkan gejala ringan hingga berat. Drajat menuturkan, gejala ringan seperti terasa gatal atau pegal di area bekas suntikan. Sementara gejala berat muncul panas atau demam.

“Tapi itu memang ada dan masih tergolong wajar, saya dapat suntikan moderna sempat panas demam hanya sebentar,” tuturnya. Bahkan ketika ibu hamil mendapat vaksinasi, sejauh ini belum ada laporan KIPI. Sehingga vaksinasi termasuk aman melihat dari minim dampak yang muncul.

Drajat mengingatkan, kini masyarakat tak bisa hanya terfokus pada Covid-19 saja. Mengingat saat ini terjadi musim peralihan atau transisi, maka harus berhati-hati ke penyakit lain seperti demam dan malaria. “Jadi kita harus waspada jangan terfokus dengan kesana,” ucapnya. (gel)