TANJUNG REDEB – Kakao saat ini menjadi satu di antara lima komoditas perkebunan yang patut diperhitungkan di Berau. Bahkan tahun lalu, produksi kakao di Berau mencapai 787,66 ton. Maria Ulfa, analis Perencanaan Evaluasi dan Pelaporan, Dinas Perkebunan Berau yang dikonfirmasi pada Minggu (17/10) menuturkan, bukti keunggulan kakao Berau masuk delapan besar biji kakao yang lolos seleksi Indonesian National Cocoa of Excellence 2021 dari 58 biji kakao se-Indonesia.

Delapan kakao itu saat ini berkompetisi dalam ajang bergensi Cocoa of Excellence di Paris, Prancis, 2021. “Kita cukup bangga, kakao Berau masuk,” ujarnya.

Menurut data Disbun Kaltim, angka produksi meningkat perlahan, mulai 600 kg per hektare di 2018, empat tahun berselang menjadi 750 kg per hektare. Luasan kebunnya pun turut bertambah, hingga mencapai 3.200 hektare pada 2021. “Rantai pasok di enam kampung yakni Long Lanuk, Merasa, Muara Lesan, Lesan Dayak, Long Beliu dan Sidobangen di Berau,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk Berau, Kampung Merasa menjadi salah satu sentra perkebunan kakao terbesar di Berau. Meski begitu, kakao yang dihasilkan di sana masih bisa lebih banyak lagi. Saat ini Kampung Merasa memiliki lahan pertanian cukup luas yakni 470 hektare tapi hanya berhasil menghasilkan 0,6 ton per hektare. “Sebenarnya potensi lahannya cukup menjanjikan,” ungkapnya.

Apalagi jika dilihat dari berbagai aspek, seperti kesuburan lahan dan produktivitas petaninya, dia yakin bisa jauh lebih baik dari saat ini. Kini pihaknya terus memacu para petani agar kakao yang dihasilkan semakin baik. “Salah satunya adalah peremajaan kakao,” katanya. (hmd/kpg/kri/k16)