BALIKPAPAN - Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim tengah menginventarisasi potensi sumber daya sektor kehutanan untuk pemetaan komoditas unggulan.

“Ini sesuai amanat Kepmen LHK No 8/2021 terkait potensi di kawasan hutan maupun areal penggunaan lain (APL) itu diminta kepada KPH untuk menginventarisasi seluruh potensi yang ada di wilayahnya,” ujar Kepala Dishut Kaltim Amrullah, Kamis (14/10). Inventarisasi tersebut bertujuan memetakan potensi sumber daya hasil hutan yang selama ini belum tereksplorasi dengan baik.

Menurut definisi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), KPH adalah wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien dan lestari. KPH terdiri dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).

Ia menjelaskan, di Kaltim memiliki 20 KPH yang ditugasi melaksanakan inventarisasi, di mana sejak dahulu sumber daya hasil hutan tersebut merupakan produk andalan Kaltim. “Beragam komoditas telah diketahui, seperti rotan, dahulu kan luar biasa, sekarang ini nggak ada lagi. Nah, sekarang ini dicoba untuk diinventarisasi lagi,” katanya.

Data Dinas Kehutanan Kaltim, luas kawasan hutan Kaltim saat ini sebesar 8,256 juta hektare atau secara total hampir 65 persen luas wilayah Kaltim adalah kawasan hutan. Jika dirinci dalam kawasan hutan tersebut terdapat kawasan konservasi dan pelestarian alam seluas 437.879 hektare, hutan lindung 1,792 juta hektare, hutan produksi terbatas 2,881 juta hektare, dan hutan produksi tetap 3,02 juta hektare.

“Kemudian hutan produksi yang dapat dikonversi itu hanya sebesar seluas 120.750 hektare,” kata Amrullah. Adapun, inventarisasi tersebut ditargetkan selesai tahun depan, mengingat wilayah hutan Kaltim yang luas yang juga menjadi peluang untuk menemukan potensi-potensi komoditas yang dapat dihiliriasi.

Kendati demikian, inventarisasi tersebut juga dihadapkan pada tantangan berupa sumber daya manusia yang terbatas. “Jadi ke depannya setelah data itu didapat, kemudian kita bisa menawarkan kepada perusahaan-perusahaan bahwa di sini ada potensi ini yang bisa dikelola gitu,” tutupnya. (aji/ndu/k15)