SAMARINDA - Sulitnya industri minyak dan gas (migas) di Indonesia termasuk provinsi Kalimantan Timur untuk bangkit saat ini disebabkan banyak faktor. Paling utama, investor besar yang enggan masuk menggarap. 

Mantan Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini, menjelaskan investor besar kini meninggalkan industri migas Indonesia termasuk Kaltim karena tak ada perubahan pola nilai tawar dilakukan pemerintah terhadap lapangan tua migas. 

Kondisi ini diperparah lagi perusahaan Pertamina yang lebih tertarik mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT). 

"Investor besar sekarang meninggalkan Indonesia. Perusahaan kelas dunia nih, sekarang tertarik EBT. Dan orang Indonesia terkesima dengan itu. Ikutan juga. Perusahaan migas diubah jadi perusahaan energi, karena didalamnya ada EBT," kata Rudi Rubandini, saat temu media yang digelar SKK Migas Kalsul (Kalimantan Sulawesi) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Hotel Aston Samarinda, Rabu (13/10/2021).

Rudi yang pernah menjabat kepala SKK Migas tahun 2013 mencontohkan perusahaan Qatar, Shell dan BP yang sebelumnya perusahaan migas menjadi perusahaan energi diikuti juga oleh Pertamina. Hal ini disayangkannya, karena modal perusahaan migas harus keluar biaya lagi untuk membiayai EBT. 

"Sekarang di dunia internasional, keinginan orang untuk bisnis di migas berkurang. Di Indonesia juga sama. Ditambah penyakit pemerintah tak mengubah pola nilai tawar terhadap lapangan tua migas," jelas Rudi. 

Lapangan sumur industri migas Indonesia sebagian besar berusia tua, dikatakan Rudi, tak membuat tertarik bagi investor. Terkecuali nilai tawar diperbesar. 

"Ini membuat para investor lari meninggalkan Indonesia. Dan lebih memilih negara Vietnam, Thailand dan Afrika serta Qatar. Karena uang tak memiliki passport, dia pergi ke negara yang menarik," jelas Rudi. 

Khusus di Kalimantan Timur, Rudi menilai lapangan migas di Kaltim bagian darat sudah tidak ada lagi yang baru dan semua berusia tua. Sumber baru migas di Kaltim tersisa hanya di laut dalam. Untuk menggarapnya maka perlu investasi yang besar.

Rudi memperkirakan, migas Kaltim akan habis dalam 20 tahun terakhir bila tidak ada eksplorasi. Ini berdasarkan jumlah produksi migas setiap tahun dihasilkan saat ini. 

"Kalau menurut perkiraan saya, tidak sampai 20 tahun. Kalau produksinya seperti sekarang. Coba lihat produksi PHM (Pertamina Hulu Mahakam) tahun lalu, tahun ini dan tahun depan. Pasti turun, turun dan turun artinya grafik melengkung. Kalau dibagi produksi lebih rendah bisa 40 sampai 50 tahun. Tapi kalau pembagiannya lurus saja bisa 20 tahun (habis)," katanya. 

Untuk itu, eksplorasi migas di Kaltim, menurut Rudi, wajib dilakukan untuk memperpanjang produksi migas. Dan tahun ini, diketahuinya, sudah ada 60 sumur yang dilakukan pengeboran dari rencana 100 sumur. 

"Jangan khawatir (eksplorasi). Lakukan saja. Karena apa. Untuk memperpanjang dari 20 tahun tadi," katanya. (myn)