Kisah pilu dialami Yosep Ferdinandius alias Usep. Lelaki kelahiran Pinrang, 9 September 1947, ini puluhan tahun menempati sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk reyot di RT 02, Riko, Penajam.

 

RUMAH yang ditempati lelaki 74 tahun itu sangat tidak layak. Atapnya bocor, lantai dan dindingnya berserakan, juga sangat tidak baik untuk kesehatan.

Nasib pria ini bak langit dengan sumur, terutama apabila dibandingkan dengan ekonomi para pejabat PPU yang makmur. Lelaki yang dipanggil Usep itu tinggal di rumah tersebut, sendirian. Pada usianya yang kian renta dan mulai sering sakit, dia harus berjibaku mengerjakan lahan perkebunan yang ia punya. Kebun itu luasnya tidak seberapa untuk menghasilkan sesuatu buat keperluan hidupnya sehari-hari.

“Saya malu. Saya hanya kerja di kebun. Saya hidup dari belas kasihan orang saja. Terus terang saja saya berani sumpah,” kata Usep saat menerima tim dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) PPU, kemarin.

Tim Baznas PPU bergegas cepat setelah mendengar informasi cerita menyayat hati dari warga tentang kehidupan Usep ini. Tim ini datang dan menanyai Usep. Kemudian disimpulkan untuk langkah bantuan yang tepat.

Saat anggota tim Baznas PPU bertanya harus mendekatkan mulut ke telinga Usep. Lelaki mualaf yang menikahi perempuan Bugis ini sudah tunarungu. Namun, bagaimana kisahnya dengan sang istri tidak terungkap. Jelasnya, ia sudah puluhan tahun hidup sebatang kara.

Dia bercerita semula punya kebun untuk menyokong hidupnya. Tetapi, kebunnya diambil perusahaan perkebunan yang beroperasi di situ dengan dalih dijadikan kebun plasma kelapa sawit.

“Tapi, ternyata saya dibohongi,” kata dia sembari menambahkan, sebelumnya ia menanam merica dan jenis buah-buahan. Tapi hasilnya sedikit saja.

Ia menjelaskan, tinggal di rumah reyot itu sudah puluhan tahun. Ia pun menunjuk atap rumahnya yang berkarat. Tidak terbayangkan apabila turun hujan lebat. Atau, saat angin kencang. Atau hujan disertai angin kencang.

Ia mengaku punya anak tiga, namun entah sekarang ada di mana. Saat soal anak ini ditanyakan lebih lanjut, ia tampak gagap menjawab. Ternyata anak-anaknya itu tak pernah menyambanginya.

“Pernah datang saat saya mengelola tanah milik tetangga,” kata Usep tanpa menyebut hari, bulan, dan tahun anaknya itu mengunjunginya.

Kondisi ini memantik perhatian warga grup WhatsApp(WA) Suara Rakyat PPU. Anggota grup platform perpesanan ini sepakat untuk mengumpulkan donasi, yang selanjutnya diberikan kepada Usep.

“Donasi dapat disalurkan melalui nomor rekening BRI 760201000159533 atas nama Neni Triana,” kata Neni Triana, admin Grup WA Suara Rakyat PPU, kemarin.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekkab PPU Ahmad Usman, juga memberi perhatian terhadap nasib Usep. Ia mengatakan, Baznas PPU bisa membangunkan rumah untuk Usep. Asalkan, tersedia lahan untuk itu. Lahan bisa didapatkan dari hibah atau bantuan masyarakat setempat. (ari/kri/k8)