SAMARINDA- Volume ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit di Kaltim mencapai 620,33 ribu ton atau tumbuh sebesar 50,25 persen. Pertumbuhan ini diprediksikan masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, peningkatan ekspor ini terjadi seiring tingginya permintaan dari beberapa negara. Hal ini juga membuat harga CPO pada Oktober kembali meningkat. Yakni sebesar USD 1.196,60 per metrik ton (MT). “Akhir tahun permintaan akan lebih tinggi, sehingga harganya kemungkinan naik lagi,” jelasnya, Senin (11/10).

Sementara itu secara nasional nilai ekspor produk minyak sawit Agustus 2021 mencapai USD 4,42 miliar, naik USD 1,6 miliar dari ekspor bulan Juli. Hal ini didukung oleh kenaikan volume ekspor sebesar 1,532 juta ton dari bulan Juli menjadi 4,274 juta ton dan kenaikan harga rata-rata CPO sebesar USD 102 per ton.

Lonjakan kenaikan ekspor terutama terjadi di beberapa negara tujuan ekspor utama produk kelapa sawit. Penurunan pajak impor di India dari 15 persen menjadi 10 persen, untuk minyak sawit dan minyak nabati lainnya yang berlaku akhir 30 Juni sampai 30 September 2021, membuat ekspor ke India melonjak menjadi 958,5 ribu ton dari 231,2 ribu ton pada bulan Juli.

Demikian juga ekspor ke Tiongkok juga naik cukup besar, yaitu 297 ribu ton menjadi 819,2 ribu ton, atau 32,6 persen lebih tinggi dari bulan Juli sebesar 522,2 ribu ton. Ekspor ke Afrika naik cukup besar dengan kenaikan terbesar ke Kenya (+118 ribu ton), dan ke Mesir (+40,5 ribu ton) dan ekspor ke Malaysia naik 102 persen atau 97 ribu ton dari 95,1 ribu ton menjadi 192,1 ribu ton.

“Diprediksi sampai akhir tahun ekspor masih akan terus meningkat, seiring permintaan yang masih banyak. Peningkatan ini juga masih bersamaan dengan peningkatan harga,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)