Financial technology (fintech) telah menjadi kebutuhan masyarakat Kaltim. Ini terlihat dari utang online di Bumi Etam yang terus meningkat, tidak hanya dari sisi nominal namun juga akun borrower dan lender.

 

BALIKPAPAN - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Made Yoga Sudharma mengatakan, pendanaan online dengan jumlah peminjam dan pemberi pinjaman yang terus meningkat menandakan fintech lending turut memberikan manfaat finansial untuk masyarakat. Begitu juga dengan nilai pinjaman yang terus meningkat, hal itu turut meningkatkan inklusi keuangan di Benua Etam.

Jumlah utang online di Kaltim sampai Agustus 2021 mencapai Rp 2,52 triliun, jumlah itu meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 2,36 triliun. Dengan jumlah borrower mencapai 542.525 entitas, yang juga meningkat dari bulan sebelumnya hanya 518.673 borrower.

Selain jumlah peminjam, jumlah pemberi pinjaman juga meningkat saat ini mencapai 9.483 entitas lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya hanya 9.035 entitas. “Peningkatan ini bukan hal negatif, sebab utang online hadir untuk masyarakat unbankable atau yang tidak terjamah bank,” jelasnya, Senin (11/10)

Menurutnya, fintech hadir sebagai jasa keuangan yang menghadirkan produk yang tidak ditawarkan oleh perbankan. Yaitu, kecepatan dan kemudahan dari sisi persyaratan meminjam. Hal itu menjadi istimewa khususnya di tengah pandemi, saat perbankan banyak memperketat pemberian kredit. Itu juga menjadi salah satu alasan pertumbuhan penyaluran pinjaman online meningkat signifikan saat pandemi.

Di tengah perbankan yang semakin selektif, fintech juga kerap dijadikan dana untuk modal usaha. Beberapa kelebihan fintech lending memang bermanfaat dalam membantu memulihkan ekonomi. Salah satunya kecepatan dalam menyalurkan dana. Untuk pelaku usaha yang kesulitan mendapat kucuran dana di perbankan, fintech bisa menjadi pilihan untuk membantu mempercepat pemulihan ekonomi.

Tanpa membeda-bedakan jasa keuangan dari perbankan ataupun fintech, semua pasti disertai risiko. Sehingga semuanya harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, agar terhindar dari risiko keuangan. Peningkatan utang online menandakan bahwa saat ini fintech sudah menjadi kebutuhan karena lebih mudah.

Di Kaltim, tak jadi masalah saat penyaluran pinjamannya semakin tinggi selama konsumen melunasi kewajibannya tepat waktu. “Peningkatan ini diharapkan dilakukan masih dalam unsur kehati-hatian agar tidak jadi permasalahan di kemudian hari,” terangnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, dirinya kerap mendapat laporan bahwa banyak masyarakat yang terjerat pinjaman online. Bunga yang cukup tinggi membelenggu masyarakat kelas menengah bawah sulit keluar dari permasalahan utang.

“Saya juga memperoleh informasi banyak penipuan dan tindak pidana keuangan telah terjadi. Saya mendengar masyarakat bawah yang tertipu dan terjerat bunga tinggi oleh pinjaman online yang ditekan dengan berbagai cara untuk mengembalikan pinjamannya,” ujar Jokowi secara virtual, Senin (10/10).

Menurutnya, gelombang digitalisasi yang terjadi beberapa tahun terakhir ini dipercepat oleh pandemi Covid-19. Namun, hal ini perlu disikapi secara cepat dan bijak. Terlihat dari banyaknya industri keuangan bank maupun nonbank berbasis digital bermunculan. Artinya, bukan hanya bank digital tapi juga asuransi berbasis digital. Sehingga, berbagai macam e-payment pun harus didukung.

“Penyelenggara fintech terus bermunculan, termasuk fintech syariah. Inovasi-inovasi finansial teknologi semakin berkembang. Fenomena sharing economy semakin marak, dari ekonomi berbasis peer to peer hingga business to business,” tuturnya.

Karena itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu mengimbau kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pelaku usaha dalam ekosistem ini untuk memastikan inklusi keuangan juga harus diikuti dengan percepatan literasi keuangan dan literasi digital, agar kemajuan inovasi keuangan digital memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Inklusi keuangan juga harus memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya masyarakat lapisan menengah ke bawah, menjadi solusi untuk menekan ketimpangan sosial, menjangkau segmen masyarakat yang belum tersentuh sistem keuangan konvensional,” tuturnya.

Ia juga berharap ekosistem keuangan digital yang tangguh dan berkelanjutan harus terus dijaga untuk mendorong percepatan pergerakan ekonomi nasional yang inklusif serta berkontribusi lebih besar pada upaya pemulihan ekonomi yang sedang kita lakukan.

“Komitmen, keberpihakan, dan kerja keras Bapak Ibu sekalian sangat ditunggu oleh pelaku ekonomi utamanya pelaku ekonomi kecil khususnya juga usaha mikro kecil dan menengah untuk segera bangkit dari dampak pandemi Covid-19 dan terfasilitasi untuk memanfaatkan peluang-peluang baru yang bermunculan,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)