Adu argumen, saling balas kritik, dan debat dengan guru. Itulah keseharian siswa dan siswi SMK Bakti Karya, Pangandaran. Tidak hanya merdeka belajar, mereka juga bebas merdeka. Anti tersekat perbedaan, berprestasi dengan modal keberagaman.

 

SAHRUL YUNIZAR, Pangandaran

 

JANGAN bayangkan sekolah kebanyakan. Anak-anak berbaju seragam. Duduk rapi di balik meja. Kemudian, sibuk menyalin catatan dari papan tulis. Di SMK Bakti Karya, siswa dan siswi lebih banyak mengeksplorasi diri. Mereka belajar tanpa sekat. Murid kelas X bergabung dengan kelas XI dan XII. Tatap muka di luar kelas. Belajar di halaman dan kebun. Sampai praktik berdemonstrasi. Bukan tidak ingin berlama-lama di dalam kelas, lewat metode itu, para guru di sana ingin anak-anak didik mereka terbiasa berpikir terbuka.

Sejak kali pertama berdiri, sekolah yang terletak di Parigi, Pangandaran, Jawa Barat, tersebut punya fondasi kuat. Kelas multikultural. Yayasan Darma Bakti Karya sebagai payung tidak pernah bergeser dari cita-cita awal. Menyelamatkan anak-anak muda di berbagai daerah Indonesia untuk meneruskan pendidikan. Terutama mereka yang terpaksa putus sekolah lantaran tidak punya biaya. Lebih khusus lagi para remaja yang terdampak konflik. Misalnya, anak-anak dari Papua dan Poso. Mereka didatangkan ke Parigi untuk melanjutkan sekolah.

Ai Nurhidayat adalah motor kelas multikultural di SMK Bakti Karya. Bersama teman-temannya, dia aktif membuka kelas-kelas ”bebas” sejak 2009, ketika usianya baru 20 tahun. ”Sejak masih kuliah,” kata alumnus Universitas Paramadina tersebut saat ditemui Jawa Pos Sabtu (9/10).

Setiap pulang ke Parigi, Ai berkumpul bersama teman-temannya sesama pemuda. Mereka yang berbasis di Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran berkumpul di Parigi. Di sebuah pondokan sederhana yang sampai saat ini menjadi bagian ruang belajar anak-anak didiknya.

Dari satu sekolah ke sekolah lainnya, Ai dan teman-temannya keliling. Mengetuk pintu untuk berbagi ilmu. Dari SD, SMP, sampai SMA. Mereka datang untuk mencari potensi dan mengajarkan hal-hal baru. Misalnya, pelatihan bahasa asing, menulis, teater, berkemah, sampai keberanian berbicara di muka umum atau public speaking.

Meski tidak jarang ditolak pihak sekolah, gerakan itu terus membesar hingga menjadi komunitas bernama Sabalad. Bukan hanya dari Pangandaran, Ciamis, dan Tasik, banyak mahasiswa dari daerah lain yang juga ikut bergabung.

Bersama-sama, mereka semakin sering keliling dari satu sekolah ke sekolah lain. Dua tahun berselang, SMK Bakti Karya berdiri. Membuka kelas profesi. ”Tahun 2011 berdiri, 2012 mau bangkrut, 2013 diakuisisi,” papar Ai.

Yang berinisiatif mengakuisisi adalah anak-anak muda. Sebagian besar merupakan anggota Sabalad. Mereka lantas membentuk organisasi untuk menaungi sekolah tersebut. Kini organisasi itu bernama Yayasan Darma Bakti Karya. Pengurusnya tetap anak-anak muda. Ai adalah ketua yayasannya. Serupa dengan yayasannya, kepala SMK Bakti Karya masih muda. Usianya baru 28 tahun. Nama lengkapnya Athif Roihan Natsir.

Ketika Jawa Pos datang ke SMK Bakti Karya, Athif turut menyambut. Bersama Ai, dia lantas mengajak kami mengobrol di belakang sekolah. Di sebuah saung sederhana. Duduk mengelilingi tungku. Beberapa siswa tengah latihan teater. Ada yang berasal dari Papua, Nusa Tenggara Timur, dan daerah lainnya. ”Sebagian (siswa, Red) sudah pulang. Guru-gurunya juga sudah pulang,” kata Ai.

Mereka berlatih untuk tampil di Kampung Nusantara. Di kampung itu pula, mereka tinggal selama menempuh pendidikan. ”Ada asrama putri, ada juga asrama putra,” jelasnya.

Siswa SMK Bakti Karya memang lebih memilih tinggal di asrama. Selama tiga tahun belajar, mereka tidak pulang ke rumah. Jarak dari sekolah ke asrama mereka di Kampung Nusantara tidak jauh. Jadi, mereka bisa berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah.

Asrama menjadi satu di antara tiga poin implementasi Tri Pusat Pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Yakni, keluarga, masyarakat, dan sekolah. Mereka menempatkan asrama sebagai bagian dari keluarga, kemudian warga Kampung Nusantara dan sekitarnya sebagai masyarakat, serta SMK Bakti Karya sebagai sekolah.

Lantaran memiliki siswa dan siswi yang berasal dari berbagai daerah, tidak sedikit yang beda suku dan agama. Bukan hanya di antara para siswa dan siswi, perbedaan itu juga ada saat mereka harus berinteraksi dengan warga lokal yang didominasi masyarakat Sunda.

Dengan Tri Pusat Pendidikan, SMK Bakti Karya menyatukan keberagaman itu. Mereka punya wadah serupa pesantren. ”Tapi, pesantren di sini agak beda. Yang selawatan-selawatan, yang ngaji rohani-ngaji rohani,” kata Ai.

Sejak datang dari daerah asal ke Parigi, mereka dibiasakan menerima perbedaan. Mereka juga diarahkan untuk menghargai keberagaman. Karena itu, tidak pernah ada pertengkaran yang dipicu perbedaan tersebut. Yang ada hanya adu gagasan dan argumen.

Selain tinggal di asrama selama tiga tahun belajar, siswa dan siswi SMK Bakti Karya mendapat beasiswa. Full. Mulai mereka mendaftar, tiba di Parigi, sampai lulus dan meninggalkan Parigi. Akomodasi pemberangkatan, penyediaan kebutuhan dasar seperti seragam dan alat sekolah, hingga kebutuhan untuk makan dan tempat belajar dibiayai semua lewat beasiswa. Dengan begitu, siswa dan siswi di sana sama sekali tidak keluar biaya.

Saat ini total ada 72 pelajar yang tercatat sebagai siswa dan siswi di SMK tersebut. Perinciannya, 25 pelajar kelas X, 17 siswa kelas XI, dan 30 murid kelas XII. Sementara, jumlah tenaga pendidik yang mengajar mencapai 15 orang. Semua anak muda. ”Jadi, rasio (guru dan siswa) nggak lebih dari satu banding lima,” ungkap Ai.

Semua guru di sana punya pemikiran sama. Bahwa seluruh anak didik mereka tidak boleh dikekang dengan sistem sekolah formal pada umumnya. Mereka harus bebas merdeka. Merdeka belajar yang sebenar-benarnya. ”Sejak 2016, perubahannya fundamental,” ujar Ai.

Kelas multikultural adalah salah satu bentuk perubahan itu. Di sana anak-anak SMK Bakti Karya diberi pemahaman mengenai keberagaman, toleransi, dan perdamaian. Athif sebagai kepala sekolah menyampaikan, sejak datang, para pelajar di SMK Bakti Karya dipertemukan dengan keberagaman. Mereka kemudian harus hidup dan tinggal dengan teman-teman yang berbeda selama sekitar tiga tahun. Karena itu, mereka terbiasa menyelesaikan persoalan yang bersumber dari keberagaman. ”Akhirnya, harapan kami, lulusan kami menjadi agen perdamaian,” tuturnya.

Untuk mendidik siswa dan siswinya, SMK Bakti Karya membagi mata pelajaran dalam tiga rumpun utama. Ekologi, humaniora, dan multimedia. Di kelas ekologi, mereka diajarkan cara hidup berdampingan dengan alam sekitar. Di kelas humaniora, mereka diajarkan saling memahami. ”Pemahaman agamanya juga diperkuat,” ungkap Athif.

Di rumpun multimedia, mereka digembleng agar bisa memiliki kemampuan dan keahlian yang bermanfaat di masyarakat. Rumpun multimedia di sekolah itu juga merepresentasikan SMK Bakti Karya sebagai lembaga pendidikan kejuruan. Hanya ada satu jurusan di SMK tersebut. Yaitu, multimedia. Serupa anak SMK pada umumnya, mereka akan dilepas untuk praktik kerja lapangan (PKL) di perusahaan bidang multimedia. Begitu lulus, mereka siap kerja dan siap pula bila ingin melanjutkan pendidikan. Saat ini persentase lulusan SMK Bakti Karya yang melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya memang belum banyak. Sebagian besar memilih bekerja dan kembali ke daerah asal.

Perjalanan Ai, Athif, dan teman-temannya mempertahankan SMK Bakti Karya tidak melulu mulus. Mereka sempat diprotes masyarakat karena ada guru yang bertato dan berambut panjang. Mereka pernah dihantam isu SARA lantaran menerima siswa dan siswi nonmuslim. Mereka juga pernah dituduh sebagai misionaris. Bahkan, mereka pernah dipaksa memulangkan anak didik asal Papua. Berkat pendirian yang kukuh dan pembuktian kepada masyarakat setempat, mereka berhasil melewati ”badai” isu SARA tersebut.

Keberadaan siswa dan siswa yang beragam suku, beragam asal daerah, dan beragam agama malah menjadi ujung tombak perlawanan isu-isu SARA yang sempat terjadi di tanah air. Di tengah merebaknya polarisasi, SMK Bakti Karya kukuh berdiri. Mereka menunjukkan dan menjadi contoh bahwa perbedaan dan keberagaman bukan masalah. Hingga saat ada perintah kepada para perwira Polri untuk mengangkat seorang anak asal Papua di daerah tugas masing-masing, perwira polisi di Pangandaran datang ke tempat mereka. Kebutuhan sepuluh anak dijamin.

Di SMK Bakti Karya, keberagaman dan perbedaan menjadi jalan untuk melahirkan ide-ide kreatif. Juga mengantar mereka meraih banyak prestasi. Terbaru, Ai dan SMK Bakti Karya mendapat Frans Seda Awards 2021 untuk kategori Bidang Pendidikan. Pada 2019, mereka juga pernah menerima SATU Indonesia Awards dari Astra International. Saat itu Ai dan SMK Bakti Karya meraih penghargaan di bidang pendidikan sebagai penjaga toleransi dan multikultural.

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, SMK Bakti Karya dan Kampung Nusantara tidak pernah sepi pengunjung. Tamu berdatangan dari berbagai daerah untuk melihat langsung praktik kelas multikultural di sana. ”Berinteraksi dengan masyarakat, mengikuti kegiatan masyarakat dan anak-anak,” kata Ai.

Tidak sedikit pula yang datang untuk melakukan riset. Meneliti metode pendidikan yang diterapkan SMK Bakti Karya. Melihat dari dekat bagaimana sekolah itu mampu membiayai pendidikan anak-anak putus sekolah dari berbagai daerah secara total, tanpa donatur tetap. Menyaksikan anak-anak sekolah belajar apa pun yang mereka mau. Bebas merdeka. Meski, mereka masih harus terus putar otak untuk memenuhi kebutuhan operasional dan pembiayaan para siswa. (*/c14/ttg)