SAMARINDA–Sejak Senin (20/9) lalu, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada masa pandemi Covid-19 sudah dilaksanakan di 54 sekolah. Evaluasinya yakni kondisi penyebaran Covid-19 di sekolah terkendali.

Senin (11/10), sebanyak 80 sekolah tambahan melaksanakan PTM, sehingga ada 134 sekolah di Kota Tepian melaksanakan pertemuan luring. Kondisi itu membuat tim satgas Covid-19 kecamatan dituntut melakukan pemantauan. Salah satu komponennya yakni puskesmas terdekat dengan sekolah. Memastikan kondisi fasilitas hingga pelaksanaan pengelolaan sekolah harus sesuai protokol kesehatan (prokes) yang berlaku, dan dilakukan secara berkala. Misalnya, Puskesmas Harapan Baru, yang kemarin memantau kondisi fasilitas prokes di SMP 36 Samarinda Seberang.

Penanggung jawab program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Siti Rahmah menuturkan, pemantauan itu yaitu satu bulan setelah pelaksanaan PTM. Beberapa evaluasinya, misalnya masih kurangnya papan informasi di sekolah mengenai pentingnya prokes seperti 3M (mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak) di beberapa sudut sekolah, atau penanda pembatasan bagi orangtua siswa yang mengantar anaknya. “Selebihnya seperti fasilitas cuci tangan hingga kamar mandi yang bersih sudah baik. Termasuk tiap kelas agar membatasi jumlah meja, sesuai dengan jumlah siswa. Selebihnya bisa disusun di bagian belakang ruang, menghindari anak duduk di kursi kosong itu,” ucapnya.

Rahmah menambahkan, hasil pemantauan akan disampaikan berjenjang dari tingkat kepala puskesmas, satgas Covid-19 kecamatan, hingga ke Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda. Dan kegiatan itu juga akan dilakukan berkala, biasanya sebulan sekali, sehingga memberi waktu bagi sekolah untuk melaksanakan apa yang sudah disarankan di pertemuan sebelumnya. “Harapannya pelaksanaan disiplin prokes tetap terjaga. Demi keamanan siswa, serta guru dan tenaga kependidikan,” singkatnya.

Ditemui terpisah, Kepala SMP 36 Tuti Susandra Dewi menyampaikan, selama hampir satu bulan pelaksanaan PTM, di sekolahnya belum ada laporan dari siswa yang terkonfirmasi Covid-19. Dia mengapresiasi peran orangtua siswa yang teliti dan tanggap terhadap kesehatan anak sejak dari rumah. “Kami selalu ingatkan kalau anak mengalami demam agar tidak perlu ke sekolah. Bisa mengikuti pembelajaran daring. Dan itu terjadi beberapa kali. Kami memercayakan sepenuhnya kepada orangtua,” ucapnya.

Dia berencana berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda agar siswa diperbolehkan melaksanakan aktivitas olahraga di luar kelas. Tetapi tetap dengan prokes seperti menjaga jarak dengan waktu yang singkat juga. “Anak-anak butuh asupan sinar matahari juga untuk kesehatan mereka. Harapannya bisa dikabulkan,” jelasnya.

Tuti berharap dukungan dari berbagai pihak, tidak terkecuali perusahaan di sekitar sekolah untuk dapat membantu melengkapi fasilitas prokes di sekolah. Jika hanya mengharap dana sekolah, waktunya cukup lama dengan segala keterbatasan. “Selama ini kami juga mendapat sumbangan dari orangtua siswa. Untuk perusahaan sudah pernah meminta, sesuai arahan pemerintah kecamatan dan kelurahan, tetapi belum ada tanggapan,” singkatnya. (dns/dra/k8)