Syarat pelajar untuk ikut PTM harus sudah divaksinasi. Sejauh ini, data DKK mencatat cakupan vaksinasi pelajar di Kota Minyak sudah mencapai 38,4 persen.

 

BALIKPAPAN – Setelah berstatus PPKM Level 2, Pemkot Balikpapan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kini bersiap membuka pembelajaran tatap muka (PTM). Sehingga, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan terus mempercepat vaksinasi pelajar.

Mengingat syarat bagi siswa yang bisa mengikuti PTM, yakni sudah menjalani vaksinasi. Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarty menuturkan, sejauh ini cakupan vaksinasi pelajar di Kota Minyak sudah mencapai 38,4 persen. “Ini untuk dosis pertama pada usia 12-17 tahun,” ucapnya.

Dia menambahkan, data cakupan vaksinasi dari Dinas Pendidikan bisa lebih tinggi dari catatan milik DKK Balikpapan. Sebab, pendataan vaksinasi terhitung dari usia 17-18 tahun, terakhir kali pendataan cakupan sudah mencapai 64 persen beberapa waktu lalu.

Sementara, cakupan vaksinasi secara umum sudah mencapai 58,6 persen per 7 Oktober. Perempuan yang akrab disapa Dio ini menuturkan, pihaknya setiap hari menggelar vaksinasi bagi pelajar untuk percepatan vaksinasi pelajar tersebut. Tim puskesmas datang secara rutin ke sekolah-sekolah.

“Karena memang pelajar ini masuk sasaran prioritas. Terakhir, vaksin massal Sabtu (9/10) di Embarkasi Haji untuk 2.000 pelajar yang berdomisili di wilayah timur,” sebutnya.

Vaksinasi pelajar juga tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah, namun dibantu dari instansi lain.

Seperti BIN, TNI, Polri yang beberapa kali rutin membantu percepatan vaksinasi bagi pelajar. Dia mengaku, sejauh ini masih ada orangtua yang menolak pemberian vaksin untuk anak. Namun itu bukan kendala, pihaknya bersama sekolah terus melakukan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat.

“Hanya satu dua orang di sekolah. Jadi, kita beri pengertian,” imbuhnya. Terkait pelaksanaan PTM nanti, DKK Balikpapan mengingatkan agar setiap siswa jujur kepada sekolah jika sedang mengalami sakit. Dio meminta siswa yang sakit untuk tidak masuk sekolah dulu. Meski statusnya sudah mendapat vaksin.

“Kalau dia kontak erat dengan anggota keluarga yang positif, walau terlihat sehat tetap jangan masuk untuk waspada,” imbaunya. Kemudian selama PTM, sekolah tetap harus memantau pelaksanaan jaga jarak di kelas. Serta kapasitas ruangan tetap terjaga hanya 50 persen.

“Lingkungan sekolah harus ada fasilitas tempat cuci tangan sampai tempat pembuangan masker. Karena setiap empat jam masker harus ganti,” ujarnya. Nantinya selama PTM, puskesmas sekitar sekolah juga akan ikut memantau. Apabila ada siswa yang sakit saat berada di sekolah bisa segera dibawa ke puskesmas. (gel/ms/k15)