Tak sedikit orang, termasuk dari luar negeri, yang berkunjung ke Gili Iyang untuk membantu penyembuhan penyakit. Oksigen dengan kadar tinggi, makanan langsung dari alam, dan hidup yang tak dibuat rumit konon menjadi alasan banyak warga setempat berusia di atas 100 tahun.

 

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Sumenep

 

”KALAU saya bilang usia saya 120 tahun, banyak orang yang tidak percaya,” kata Sahlan, lantas tersenyum. Saya tak perlu memintanya menunjukkan dokumen atau bukti kelahiran untuk mendukung pernyataannya itu. Sebab, di pulau tersebut, saya menjumpai banyak sekali orang yang berusia di atas 100 tahun. Baik dari pengakuan yang bersangkutan maupun kesaksian sejumlah orang.

Sosok terdekat Sahlan, sang istri, Misnariya, pun telah berusia 105 tahun. Jaksa Edi, warga setempat, mengungkapkan bahwa ada kakek dan tetangganya yang meninggal beberapa tahun lalu pada usia 135 tahun. Selama masih hidup, kakek itu mengalami beberapa fase. Mulai rambutnya memutih semua hingga kembali menghitam. ”Tidak disemir. Dari uban semua, jadi hitam lagi. Saya menyaksikannya,” ucap dia.

Ya, selamat datang di Gili Iyang, pulau kecil di wilayah Sumenep, Madura, tempat dengan kandungan oksigen tertinggi di Indonesia dan nomor dua di dunia.

*

Bahkan, di bibir pantai itu kesejukan sudah langsung menyergap begitu taksi laut yang kami –saya dan fotografer Puguh Sujiatmiko– sewa tiba di dermaga Gili Iyang. Sekitar 30 menit baru saja kami lalui dalam perjalanan dari Pelabuhan Dungkek, Sumenep, pada Jumat (24/9) menjelang akhir bulan lalu. Kami langsung mengambil langkah cepat menuju tepi dermaga. Di sana sudah ada warga lokal yang menyediakan sepeda motor untuk kami berkeliling di Gili Iyang.

Temuan kadar oksigen Gili Iyang yang hanya kalah dari Laut Mati, Jordania, itu diumumkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada 2006. Dan, diperkuat Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jawa Timur.

Pada Oktober 2015, rekan Jawa Pos yang lain, Candra Kurnia, lebih dulu berkunjung ke sini. Dia mendatangi sejumlah objek wisata di Gili Iyang. Salah satunya, tebing Batu Canggah.

Enam tahun berselang, dengan nama yang kian populer, dengan jumlah pengunjung yang kian banyak, tetap tak ada hotel, resor, atau vila di Gili Iyang. Seperti kata Candra enam tahun silam, cara paling asyik menikmati Gili Iyang adalah menginap di rumah warga lokal.

”Biasanya, wisatawan ke sini (Gili Iyang, Red) jarang menginap. Mereka berangkat pagi, lalu pulang sore,” ujar Budi Heriyanto, anggota Polres Sumenep yang bertugas menjaga keamanan Gili Iyang.

Ada juga wisatawan yang menginap di tempat titik oksigen Pulau Iyang di Desa Bancamara. Di sana sudah tersedia gazebo-gazebo yang disediakan ketika pengunjung ingin menikmati udara tersegar di pulau tersebut. Total, ada 10 gazebo di lahan sekitar 200 meter persegi itu. ”Kadang mereka tidur di gazebo. Mereka malah senang karena bisa menghirup udara bersih sepuasnya,” ujarnya.

Di samping lokasi titik oksigen itulah Sahlan dan Misnariya tinggal. Sahlan sekaligus bertugas menjaga kawasan wisata tersebut. ”Biasanya, orang datang ke sini karena penasaran sama kadar oksigen yang katanya terbaik kedua sedunia,” kata Sahlan.

Namun, tak sedikit juga orang yang datang memang berniat untuk penyembuhan. Bahkan, mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri. Mereka kadang datang dengan masalah asma hingga stroke. Setelah berkunjung ke Gili Iyang untuk menikmati udara terbaik di Indonesia, mereka pun merasakan kondisi yang lebih baik. Ada yang bahkan datang dari Tiongkok. ”Satu orang di antaranya berkursi roda. Mereka datang ke sini untuk berlibur dan menginap dua hari di rumah warga. Kondisinya membaik,” ungkapnya.

Sahlan mengungkapkan, rata-rata pengunjung yang datang dengan gangguan pernapasan mengaku kondisi mereka membaik setelah beberapa hari tinggal di Gili Iyang. ”Pengunjung tidak bisa merasakan perbedaan kondisi kesehatannya kalau hanya singgah sebentar. Harus menginap beberapa hari karena lingkungan di Gili Iyang masih terbilang bersih dan belum tercemar,” jelas dia.

Karena itulah, banyak penduduk di Gili Iyang yang berumur panjang. Warga berusia di atas 100 tahun sudah menjadi pandangan yang biasa di pulau tersebut. Dan, rata-rata mereka masih kuat menjalankan aktivitas rutin.

Sahlan menjelaskan, warga setempat memiliki kebiasaan selalu berpikir positif. Hidup pun tak dibikin rumit. Makanan yang dikonsumsi juga langsung berasal dari alam. Mulai umbi-umbian, sayur, hingga ikan laut. Penduduk yang menetap di Gili Iyang rata-rata tak pernah punya keluhan penyakit-penyakit kronis. ”Banyak-banyak berzikir, minta umur panjang sama Allah SWT,” tuturnya.

Masih penasaran, saya pun meminta untuk diantar berkeliling ke rumah-rumah warga. Termasuk di lokasi titik awal ditemukannya kadar oksigen tertinggi oleh Lapan di Desa Banra’as. Udara di desa itu benar-benar segar. Rasanya, saya seperti berada di daerah pegunungan. Padahal, jelas-jelas saya berada di pesisir pantai. ”Lokasinya di sini. Tepat di ladang warga,” ungkap Budi dan Edi yang mengantar saya.

Di sekitar kawasan tersebut, ada Munanti. Nenek itu sudah memiliki anak dengan usia yang sudah senja pula. Cucu dan cicitnya sudah tak terhitung. Tubuh Munanti memang sudah terlihat tua. Pendengarannya mulai menurun. Namun, daya ingatnya masih sangat tajam.

Sehari-hari di rumahnya dia duduk sambil melantunkan bacaan hafalan Alquran. Bahkan, ketika saya datang berkunjung, Munanti masih terus melantunkan ayat-ayat kitab suci. ”Sejak kecil, memang sering mendengar lantunan ayat-ayat Alquran. Jadi, sampai berusia 135 tahun, meski pendengarannya turun, ingatannya masih kuat,” ujar Edi.

Kadar oksigen tinggi di Gili Iyang telah mendatangkan begitu banyak manfaat. Wisata, penyembuhan, dan panjang umur. Pulau Gili Iyang memang memiliki pesona tersendiri. Bukan cuma buat warga setempat, tapi bahkan sampai penduduk mancanegara. Tak terkecuali, para motoris taksi laut di Pelabuhan Dungkek yang mengantongi rezeki dari mereka yang tertarik dengan tingginya kadar oksigen Gili Iyang. (*/c14/ttg)