Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merumuskan masterplan interkoneksi seluruh jalur transportasi ibu kota negara (IKN) di Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Kartanegara (Kukar) yang mengintegrasikan moda jalur darat, laut dan udara.

 

Catatan: Ari Arief

 

RENCANA induk infrastruktur transportasi yang mengintegrasikan moda jalur darat, laut dan udara di ibu kota negara (IKN) disampaikan narasumber dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ady Irawan pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Dinas Perhubungan se-Kaltim, di Hotel Blue Sky, Balikpapan, pekan tadi.

Untuk akses publik Kaltim punya bandar udara (bandara) besar, yaitu Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, dan Bandara APT Pranoto di Samarinda. Namun, seperti yang terungkap pada saat rakornis itu, dua bandara tersebut perlu lebih menyesuaikan seiring dengan pembentukan IKN.

Misalnya, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan ini dikembangkan jadi bandara internasional utama pendukung IKN dengan konsep aerotropolis lepas pantai dengan memaksimalkan kondisi existing, menggunakan dua paralel runway yang dibangun ke arah Selat Makassar melalui reklamasi.

Aerotropolis adalah sebuah kota dengan tata letak, infrastruktur, dan sektor ekonomi berpusat pada bandara. Sekadar tambahan referensi saja istilah aerotropolis ini kali pertama dikemukakan seniman asal New York, Nicholas DeSantis. Ia membuat sebuah karya berupa gambar atap gedung pencakar langit dengan sebuah bandara di tengah kota. Karya ini ditayangkan dalam Popular Science pada November 1939.

Saat ini, Bandara Sepinggan ini sudah melayani 7 juta penumpang per tahun. Berdasarkan masterplan 2011 kapasitas maksimum ultimate bandara ini adalah sebanyak 9 juta penumpang per tahun. Saat ini sedang disusun untuk meningkatkan kapasitas penumpang sebagai dukungan IKN sebanyak 30 juta penumpang per tahun. Untuk kebutuhan IKN direncanakan dilakukan penambahan kapasitas fasilitas sisi udara dan darat. Yaitu, perpanjangan runway mencapai 3.250 kali 60 meter untuk dapat didarati pesawat berbadan lebar, pembuatan paralel taxiway, perluasan apron, dan perluasan terminal.

Untuk Bandara APT Pranoto Samarinda dikembangkan sebagai bandara domestik pendukung IKN, sesuai masterplan akan dikembangkan sampai 3.000 kali 45 meter dengan kapasitas terminal 20 juta penumpang per tahun. Untuk mendukung kegiatan lain pemerintah juga akan membangun bandara baru dengan jarak 20 kilometer atau dengan waktu tempuh maksimum 30 menit perjalanan dari pusat IKN. Bandara baru ini merupakan Bandara VIP/Militer yang difungsikan sebagai bandara yang melayani tamu negara.

 Semua bandara ini diharapkan didukung transportasi yang andal, seperti Light rail transit (LRT). LRT itu biasa juga disebut sebagai lintas rel terpadu, kendaraan umum berbadan cukup langsing dan mampu bawa penumpang tidak lebih dari 250 orang. Kemudian, didukung tol dan jembatan menghubungkan antar-bandara, dan bandara menuju IKN.

Sistem transportasi juga diintegrasikan antar-moda yang menghubungkan bandara baik darat, laut maupun perkeretaapian. Prinsipnya adalah moda transportasi yang smart, integrated dan memerhatikan environment ethics. (rdh/k15)