BALIKPAPAN - Obesitas kini tak bisa dipandang sebelah mata. Berawal dari obesitas, tubuh berpotensi menderita penyakit lainnya. Ini yang membuat RS Pertamina Balikpapan (RSPB) membuat layanan baru, klinik gizi dan obesitas, sehingga membantu warga Kota Minyak untuk lepas dari obesitas.

RSPB resmi membuka klinik gizi dan obesitas, Jumat (8/10). Launching dilakukan Direktur RSPB M Noor Khairuddin dan Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Andi Sri Juliarty. Khairuddin menuturkan, klinik gizi dan obesitas salah satu di antara beberapa layanan yang sedang dikembangkan RSPB. “Layanan ini untuk memenuhi kebutuhan dan melihat kondisi masyarakat,” katanya.

“Hipertensi, diabetes, strok, jantung semua berkaitan obesitas. Kalau perusahaan bisa mengintervensi obesitas, maka bisa menekan biaya dari potensi penyakit lain yang menyerang karyawan,” sambungnya. Dia berharap layanan ini bisa bermanfaat, baik pribadi maupun perusahaan rekanan. Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarty menuturkan, Pemkot Balikpapan mengucapkan selamat atas pembukaan klinik gizi dan obesitas. Apalagi kasus obesitas sudah mengalami peningkatan di Kota Minyak, sehingga fokus saat ini tidak terbatas soal gizi buruk, obesitas juga harus diwaspadai sejak dini.

Menurut dia, keberadaan klinik gizi dan obesitas juga bagian dari mendukung Balikpapan sebagai kota penyangga IKN. Jadi, harus ada persiapan dari sisi kesehatan, seperti menambah layanan tersebut. “Layanan ini harus ada untuk memenuhi kebutuhan. Maka ke depan ini merupakan peluang baik,” sebutnya. Dia menambahkan, hal terpenting klinik gizi dan obesitas akan sangat membantu Pemkot Balikpapan. Sebab, obesitas kalau tidak dikendalikan menjadi risiko penyakit lain.

Muhammad Ali Imran mewakili masyarakat umum mengatakan turut berbangga ada klinik yang fokus obesitas dan gizi klinis. Apalagi warga yang masuk kategori obesitas cukup banyak. Dia pun termasuk obesitas tipe 2. “Saya ingin segera merasakan treatment. Semoga layanan ini membantu masyarakat untuk lebih sehat,” katanya.

Spesialis Gizi Klinik RSPB Dokter Silvia P Tarigan menjelaskan, klinik gizi dan obesitas memiliki tiga layanan. Pertama weight loss programme yang fokus pada penurunan berat badan tubuh. Layanan ini berlangsung selama 3 bulan atau 12 minggu. Ada pendampingan dari hari ke hari untuk mengontrol program.

“Layanan kami bersifat holistik, ada beberapa multidisiplin ilmu,” ujarnya. Tidak hanya poli gizi, namun ada konseling perilaku perubahan makan melibatkan psikiatri. Kemudian tim fisioterapi juga membantu untuk program olahraga. Jika dibutuhkan ada penyakit yang mendasari pasien bisa berkonsultasi dengan dokter terkait. Jadi, semua tergantung kebutuhan setiap pasien. Layanan kedua yaitu, body shaping atau pembentukan tubuh di bagian tertentu. Misalnya perut, lengan, dan lain-lain. Program ini berjalan selama satu bulan. Serta terakhir layanan wellness programme yang bergerak di nutrisi genomik.

“Kita memeriksa nutrisi berdasarkan gen, mana nutrisi yang cocok bagi gen setiap orang,” sebutnya. Ini biasanya cukup satu kali pertemuan. Klinik gizi dan obesitas didukung oleh berbagai alat pemeriksaan. Silvia menuturkan, contohnya alat pemeriksaan komposisi tubuh. Fungsinya melihat massa lemak dan massa bebas lemak. Selanjutnya alat drainase limfatik untuk melancarkan aliran pembuluh darah limpa. “Kadang pada obesitas ada penyumbatan atau gangguan pembuluh darah,” jelasnya. Semua program ini dibimbing oleh dokter. (gel/ms/k16)