Sekitar 162 dari 1.038 desa/kelurahan di Kaltim masih blankspot. Padahal konektivitas adalah kunci membangun kota pintar.

 

Pemerintah tampaknya harus bekerja keras mewujudkan smart city di ibu kota negara (IKN) yang baru nanti. Sebab, masih ada sejumlah daerah di Kaltim yang blankspot. Padahal, konsep smart city sangat bergantung pada jaringan internet.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kominfo Kaltim M Faisal. Dia mengakui, konsep smart city cukup berat dan tidak mudah. Disebutnya, di Kaltim jangankan mimpi memiliki jaringan sampai 5G, untuk 4G saja masih berat.

"Masih banyak desa atau kampung yang enggak ada sinyal. Masih ada seratusan desa di Kaltim yang teriak-teriak soal sinyal. Harus lari-lari naik gunung dulu buat nelepon. Ini kondisi riil," kata Faisal dalam talk show virtual bertema Konektivitas Cerdas untuk Kota Cerdas garapan Kaltim Post, Jumat (8/10).

Faisal pun memaparkan data yang dimiliki Diskominfo Kaltim. Dari 1.038 desa/kelurahan di Kaltim, masih ada 162 desa yang blankspot. Artinya 15,62 persen masyarakat yang tak tersentuh sinyal. Daerah seperti di Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Berau, pun tak sedikit masyarakatnya yang harus kesusahan mencari sinyal. Hanya Bontang, Samarinda, dan Balikpapan yang bebas dari blankspot.

Meski begitu, Faisal juga mengakui dirinya tak menutup mata. Bahwa ada daerah yang konektivitasnya lumayan bagus dan usaha memadukannya dengan konsep smart city.

"Kami tidak menutup mata, ada kota yang sudah masuk ke 100 program smart city seperti di Samarinda yang tampaknya sudah lumayan. Samarinda, Balikpapan, dan Bontang, oke, bebas blankspot tapi banyak kabupaten yang lain belum," kata Faisal.

Dari penjajakan beberapa provider, dia mengakui Telkomsel termasuk cakupannya sudah lumayan dengan 70–75 persen di Kaltim. Tetapi, masih banyak yang belum tersentuh. Maka dari itu, Faisal mengingatkan mumpung dalam masa pandemi seperti ini, lebih baik dipercepat proses menjangkau berbagai daerah yang blankspot. Sebab, momen pandemi sangat bergantung dengan konektivitas.

General Manager Consumer Sales Telkomsel Region Kalimantan Benedictus Ardiyanto Priyo dalam momen yang sama mengatakan, saat ini Telkomsel adalah layanan telekomunikasi terluas di Indonesia. Hal ini menjadi modal awal.

"Kan kalau kita ngomongin digital dan smart city akan sangat bergantung dengan konektivitas," kata dia.

Diakui dengan konsep smart city, masyarakat akan bergantung dengan hal-hal berbau digital. Sejumlah terobosan juga akan dibuat. Maka dari itu, hal ini juga akan mendorong smart digital platform.

General Manager Network Services Assurance Telkomsel Region Kalimantan Awang Suryanto mengatakan, dukungan konektivitas itu menjadi yang sangat penting. Sebab, smart city akan bergantung dengan digitalisasi.

"Ibu kota konsepnya harus green, smart, beautiful, dan sustainability. Poinnya smart government, smart people, smart modelling, smart environment, smart economy, dan smart living," kata Awang.

Maka dari itu, konektivitas menjadi kunci. Pihaknya pun terus berusaha meluaskan jangkauan. Sehingga makin banyak masyarakat yang tersentuh sinyal dan internet. Juga, akan mendukung konsep smart city secara berkesinambungan dan optimal. (nyc/dwi/k8)