JAKARTA–Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar dapat memperluas pangsa pasarnya ke pasar global. Pasar Timur Tengah menjadi salah satu tujuan potensial yang tengah dibidik memanfaatkan momen Expo 2020 Dubai.

Menteri Perdagangan Lutfi menyebutkan, permintaan ekspor produk-produk Indonesia kini semakin meningkat. Hal itu seiring adanya perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. “Saat ini Indonesia kebanjiran permintaan produk untuk diekspor ke luar negeri. Sehingga peluang yang luar biasa untuk mendorong ekspor nasional,” ujar Lutfi. 

Dia mengatakan, saat ini tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga 10 kali lipat dari sebelumnya, yaitu menjadi USD 10 ribu hingga USD 20 ribu per kontainer.

“Terkait tarif pengiriman ekspor jalur laut yang meningkat, kami memberikan usulan kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan, untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara. Hal itu mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat yang mengharuskan perusahaan penerbangan untuk tetap terbang dengan membawa muatan kargo,” urainya. 

Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menambahkan, pihaknya akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mencari solusi terkait tantangan dan hambatan yang dialami para pelaku usaha.

Kadin mendorong ekspor nasional dengan memprioritaskan ekspor ke negara-negara yang memiliki comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Indonesia. Di antaranya, UEA, Australia, Swiss, Hong Kong, Uni Eropa, Turki, dan Korea Selatan. CEPA merupakan perjanjian kerja sama antarnegara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan perdagangan internasional. 

“Kadin juga berupaya membuat ekosistem yang dapat menghubungkan UKM dengan para calon buyers. Hal itu dilakukan untuk mempermudah ekspor ke negara-negara tujuan. Rencananya, proyek ini dilakukan di Australia, Swiss, serta akan memanfaatkan perhelatan Expo 2020 Dubai untuk mengembangkan proyek di UEA,” beber Arsjad. 

Partisipasi Indonesia dalam Expo 2020 Dubai merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional, khususnya dalam kondisi pasca-pandemi Covid-19. Paviliun Indonesia mengenalkan lebih 300 UKM Indonesia siap ekspor ke pasar Timur Tengah dan dunia selama enam bulan mulai 1 Oktober 2021 hingga 31 Maret 2022. 

Spesifik bicara soal potensi pasar Timur Tengah, Kepala ITPC Dubai Khomaeni menambahkan, proyeksi ekspor perdagangan nonmigas Indonesia ke UEA cukup menjanjikan dengan potensi pertumbuhan tahunan sebesar USD 1,6 miliar di beberapa sektor, seperti perhiasan, minyak sayur, mobil dan suku cadang mobil, tembaga, karet, serta aluminium.

Berdasar data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke UEA periode Januari hingga Juli 2021 tercatat USD 953,5 juta atau meningkat 26,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar USD 755,8 juta. (agf/jpg/ndu/k8)