/// ADA GRAFIS

SAATNYA PULIH: Okupansi kamar hotel berbintang di Kaltim diyakini berada di atas 70 persen sepanjang kuartal IV. Sebab, pemerintahan banyak yang sudah merencanakan menggelar kegiatan di hotel.

SAMARINDA–Meski pada Agustus lalu tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Kaltim baru di level 41,98 persen, pelaku usaha optimistis pada triwulan terakhir tahun ini bisa di atas 70 persen. Sebab, saat ini pembatasan aktivitas masyarakat berangsur dilonggarkan. Dan pada September lalu keterisian kamar sudah mencapai 70 persen.

Humas Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim Armunanto Somalinggi mengatakan, sejak Agustus okupansi di Kaltim mulai memperlihatkan perbaikan. Pada September rata-rata okupansi di Benua Etam sudah mencapai 70 persen, bahkan pada Oktober sudah mencapai 75 persen ke atas.

“Peningkatan keterisian kamar tentunya tidak lepas dari kasus Covid-19 yang sudah melandai. Apalagi kini Samarinda dan Balikpapan sudah tidak PPKM Level 4, namun sudah turun menjadi level 2,” jelasnya, Jumat (8/10).

Dia menjelaskan, peningkatan okupansi ini juga tidak lepas dari mulai banyaknya event di hotel. Sebab, hotel Kaltim kebanyakan berharap dari MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), jika tidak ada MICE maka okupansi pasti menurun. Jika ada kegiatan atau event yang dilakukan dari pemerintah maupun swasta, maka semua penghasilan perhotelan juga meningkat.

“Saat ini rata-rata hotel mulai mencatat booking event dari pemerintah,” ungkapnya. Apalagi di pengujung tahun biasanya pemerintah banyak melangsungkan acara di perhotelan, sehingga berpotensi meningkat. Jika kasus Covid-19 terus menurun, dengan tidak meninggalkan protokol kesehatan yang ketat, event bisa digelar di hotel.

Keterisian ballroom, meeting room dan lainnya ini tentunya akan mendongkrak keterisian kamar hotel. “Kegiatan sudah mulai longgar sehingga kamar hotel juga meningkat,” katanya.

Pihaknya optimistis, pada akhir tahun okupansi bisa meningkat lebih tinggi. Apalagi saat ini sudah ada beberapa hotel yang memiliki waiting list penggunaan ballroom. Dinas-dinas mengantre untuk melangsungkan kegiatan. Hal ini turut berpotensi mendongkrak kamar yang akan terjual. Belum lagi, mobilitas masyarakat di Kaltim untuk antar-kota dan kabupaten mulai terasa.

Seiring PPKM yang sudah level 2 mobilitas masyarakat juga mulai meningkat, dari kabupaten kota di luar Samarinda misalnya, sudah bisa stay cation di hotel. Tentunya tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. “Kita melihat keadaan mulai membaik, perhotelan bisa bangkit,” pungkasnya. (ctr/ndu/k8)