Perekonomian Kaltim berpotensi tumbuh positif pada kuartal III dan IV 2021. Sebab, saat ini harga-harga komoditas unggulan Bumi Etam mengalami tren kenaikan. Utamanya, harga batu bara dan minyak kelapa sawit. Penyebabnya, permintaan global sedang tinggi.

 

SAMARINDA - Harga batu bara acuan (HBA) sepanjang tahun ini terus merangkak naik. Hingga Oktober 2021, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA acuan sebesar USD 161,63 per ton. Ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Pada September lalu, HBA masih berada di angka USD 150,03 per ton.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menyebutkan, kenaikan itu dipengaruhi meningkatnya permintaan batu bara di Tiongkok. “Kebutuhan meningkat untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik. Selain itu, permintaan batu bara dari Korea Selatan dan kawasan Eropa juga naik. Ini seiring tingginya harga gas alam,” ujar Agung seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (7/10).

HBA sempat melandai pada Februari–April 2021, kemudian mengalami kenaikan beruntun pada periode Mei–September 2021. Kenaikan tersebut diprediksi konsisten hingga akhir tahun ini. (selengkapnya lihat infografis)

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia Wiguna mengatakan bahwa pelaku usaha tidak memprediksi peningkatan harga batu bara. Dia pun menyebut kondisi saat ini sebagai golden period. Peningkatan selling price itu dinikmati oleh berbagai pihak.

“Dua belas bulan naik berkali lipat, ini di luar prediksi. Tidak hanya pelaku usaha, tapi ekosistem industri batu bara juga menikmatinya. Negara pun mendapatkan penerimaan yang melonjak,” ujarnya.

Hendra membeberkan bahwa dari sisi profitabilitas, rata-rata selling price kuartal III tahun ini lebih bagus dibandingkan periode sama pada tahun lalu. Kuartal IV mendatang juga diprediksi masih positif. ”Jadi, ini dampak positif yang mendorong perekonomian kita,” bebernya.

Bagaimana potensi peningkatan produksi dalam memanfaatkan momen tersebut? Hendra mengatakan, hal itu tidak bisa langsung dilakukan. Sebab, harus melalui proses pengajuan revisi rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) kepada pemerintah.

“Itu bisa dilakukan di akhir kuartal kedua 2021. Sampai saat ini, beberapa perusahaan yang merivisi RKAB juga belum mendapat persetujuan dari pemerintah. Jadi, salah satu faktor pengusaha belum bisa memaksimalkan penuh harga komoditas,” urainya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, harga batu bara terus mencatat peningkatan disebabkan permintaan yang terus bertambah. Namun, tetap perlu diingatkan bahwa Kaltim tidak boleh terlena dengan tingginya harga batu bara dan tetap harus fokus pada hilirisasi.

“Jangan terus-terusan menjual mentah. Saat ini, harganya memang sangat tinggi dan berpotensi besar mendorong perekonomian Kaltim tumbuh lebih tinggi. Tapi, ini jangan sampai menahan laju pengembangan hilirisasi,” jelasnya.

Apalagi risiko dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proyek hilirisasi, jauh lebih tinggi dibandingkan proses penambangan existing yang tidak banyak membutuhkan biaya, dan teknologi tinggi. Sehingga, terlalu tingginya harga juga membuat pelaku usaha memilih untuk menjual langsung, dibandingkan melakukan hilirisasi.

“Harga yang tinggi bisa menurunkan appetite untuk melakukan hilirisasi, ini yang kita hindari,” terangnya.

Pengamat Pertambangan Batu Bara Kaltim Eko Priyatno mengatakan, saat ini harga batu bara memang sedang di atas, bahkan sangat tinggi. Kenaikan harga batu bara ini juga akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Sebab, biasanya akhir tahun harga batu bara akan lebih tinggi disebabkan memasuki musim dingin di berbagai negara pengimpor batu bara.

“Tapi tetap kenaikan ini fluktuasi biasa. Kemungkinan menurun drastis juga ada, sehingga sifatnya sangat tidak stabil,” ujarnya.

Menurutnya, pengusaha tetap perlu waspada karena kenaikan ini sudah sering terjadi, lalu kembali menurun. Kenaikan harga batu bara sudah terjadi sejak akhir 2020 hingga saat ini. Saat ini, harga terus meningkat seiring menurunnya produktivitas tambang, seiring curah hujan yang tinggi. Di tengah permintaan yang tinggi dan produktivitas yang terbatas maka harga semakin meningkat.

“Namun saya yakin, situasi ini belum tentu bisa bertahan lama. Sebab, kenaikan harga bergantung pada tingginya permintaan saat ini. Nantinya seiring penurunan permintaan, harga akan mengikuti penurun,” pungkasnya.

Bukan hanya komoditas batu bara yang menikmati kenaikan di level global. Minyak sawit alias crude palm oil (CPO) juga baru saja memecahkan rekor. Rabu (6/10) di bursa berjangka Malaysia sebagai acuan harga internasional, harganya sudah mencapai level MYR 4.781 per ton. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Hal itu disebabkan permintaan internasional yang naik seiring kebijakan positif negara-negara tentang CPO.

Managing Director Triputra Agro Persada Tbk Sutedjo Halim mengatakan, kenaikan tersebut memang membuat pihaknya sebagai produsen dan petani meraih profit besar. Namun, dia menegaskan bahwa pelaku usaha di sektor tersebut harus memanfaatkan momen itu untuk menciptakan industri yang lebih berkelanjutan.

“Hingga saat ini, minyak sawit masih dianggap sebagai salah satu penyebab utama deforestasi. Karena itu, kita harus membuktikan bahwa industri minyak sawit bisa berjalan tanpa melukai alam,” katanya dalam Konferensi ESG Indonesia 2021.

Dia membeberkan, potensi minyak sawit masih besar. Sebab, belum ada komoditas lain yang bisa mengalahkan CPO dalam penyediaan produk minyak nabati. Produksi CPO bisa mencapai 3,5 ton per hektare. Sementara itu, minyak nabati lainnya seperti bunga matahari hanya menghasilkan 0,7 ton per hektare.

“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bisa mematuhi operasional sesuai standar lingkungan, baik tingkat nasional maupun global. Sehingga, produsen tak perlu lagi khawatir dengan adanya pengetatan standar atau kebijakan,” paparnya. (ctr/jpg/ndu/k15)