Bambang Iswanto

Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

 

 

URUSAN memakai bra atau BH menjadi viral di jagat maya Tanah Air. Penyebabnya adalah posting-an sebuah website yang membahas tentang hukum memakai BH, saat ini posting-an itu sudah dihapus. Dalam kesimpulannya, situs tersebut menyebut perempuan yang memakai BH bisa menjadi sumber fitnah.

Sama seperti beberapa kasus viral lainnya, dalam hati saya bertanya, “apa tidak ada lagi persoalan penting lain yang dibahas.” Perempuan pakai BH sudah lama, sejak awal abad ke-19 sudah ada bra. Bukan baru satu atau dua tahun terjadi. Sudah ada sejak zaman dulu. Kenapa baru sekarang diributkan dengan alasan yang sangat menyudutkan perempuan.

Pernyataan di situs tersebut menyebutkan bahwa pemakai BH menyebabkan perempuan menjadi lebih muda dan menjadi sumber fitnah.

Sumber yang dipakai untuk urusan memakai BH itu adalah fatwa yang dikeluarkan oleh al-Lajnah ad-Da’imah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal-Ifta’ yang dalam bahasa Indonesianya kurang lebih Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa yang berada di Arab Saudi.

Fatwa bahasa Arab itu diawali dengan pertanyaan “Apa hukum memakai BH bagi perempuan?” Pertanyaan nomor 9090 itu dijawab dengan, “Memakai BH mengakibatkan bentuk payudara menjadi tampak dan membuat para perempuan tampak lebih muda. Sehingga mereka menjadi sumber fitnah. Maka mereka tidak boleh memakainya di hadapan para lelaki yang bukan mahramnya. Kesimpulan fatwa ada pada kalimat terakhir, tidak boleh memakai BH di hadapan lelaki bukan mahram.”

Menyikapi fatwa seperti itu seharusnya tidak perlu buru-buru memberi kesimpulan bahwa seluruh pemakaian BH haram seluruhnya atau sebaliknya dibolehkan seluruhnya. Jika fatwa itu memukul rata tentang fungsi BH sebagai “penampak isi” di baliknya tentu saja kurang tepat, karena orang memakai BH bukan hanya karena alasan itu.

Mungkin ada orang yang berniat memakai BH untuk tujuan itu saja. Tapi di lain sisi jauh lebih banyak alasan menggunakan BH untuk memberikan manfaat kesehatan dan kenyamanan. Informasi tentang itu sudah sangat maklum dan masyhur. Sehingga gampang untuk mendapatkan referensinya di sumber-sumber pustaka internet maupun fisik.

Jika niat pemakai BH hanya untuk kepentingan menjadikan bagian tubuhnya menonjol dan dipastikan bisa mengundang perhatian lelaki yang bukan mahramnya tentu saja hal itu tidak mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya. Justru berpotensi mendatangkan masalah bagi dirinya dan orang lain.

ADAB BERPAKAIAN

Permasalahan boleh dan tidak sebenarnya bukan masalah BH-nya. Tidak ada keharusan memakainya dan tidak ada larangan untuk menggunakannya. Jika memakai BH mendatangkan maslahat dan kesehatan bagi perempuan, pemakaian tanpa unsur niat memamerkan tubuh, tentu saja tidak ada masalah. Bahkan dalam kondisi tertentu dianggap bahwa tidak menggunakannya bisa merusak bagian tubuh, justru memakainya adalah sebuah keharusan.

Sebaliknya, jika ada yang tidak mau menggunakan BH karena bagi dirinya lebih maslahat dan memberikan manfaat, ya mengapa tidak menggunakannya. Kecuali niat tidak menggunakannya diiringi dengan niat yang justru dianggap bisa menarik perhatian orang lain, dalam Islam tidak diperkenankan.

Dalam Al-Qur’an dan hadis, tidak ada kata-kata eksplisit tentang penggunaan BH. Istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah menutupi dada. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” (QS An-Nur ayat 31). Bisa diartikan khimar atau kerudung yang digunakan cukup menutup dada. Sebab masa itu belum dikenal penggunaan kutang atau bra untuk menutupi payudara perempuan. Sudah barang tentu yang dimaksud menutup adalah tidak memperlihatkan dan menonjolkan apa yang ada di balik kain.

Terdapat beberapa hal prinsip yang dijadikan pedoman dalam berpakaian dalam Islam. Pertama, harus menutup aurat; kedua, tidak transparan; dan ketiga, tidak ketat membentuk lekuk tubuh.

Batas aurat laki-laki adalah antara pusar sampai lutut dan aurat perempuan adalah seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah. Sementara yang dimaksud tidak transparan yaitu tidak memperlihatkan bentuk tubuh yang harusnya memang tertutup.

Pakaian yang transparan berarti menyalahi makna menutupi karena menampakkan sesuatu yang harus tertutupi. Sedangkan tidak ketat artinya tidak memperlihatkan lekukan tubuh agar tidak memancing orang lain berpikir atau berbuat negatif.

Jangan sampai ada yang sudah merasa menjalankan perintah menutup aurat ternyata justru menyalahi maksudnya. Merasa sudah memakai “hijab” ternyata masih menggunakan pakaian transparan dan ketat. Lelaki yang sudah menggunakan pakaian yang dirasa syar’i ternyata masih menggunakan jenis kain yang tembus pandang. Wallahu a’lam. (rom/k8)