KERUSAKANtaxiway kembali terjadi di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda. Permasalahan ini sebenarnya bukan yang pertama. Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto bahkan pernah melakukan penutupan sementara untuk perbaikan. Namun, kerusakan masih saja terus terjadi.

Kerusakan taxiway yang berfungsi menghubungkan landasan pacu dan area parkir pesawat pada Selasa (5/10), membuat pesawat Batik Air tujuan Jakarta batal terbang. Padahal, pesawat yang mengangkut 103 penumpang sudah bersiap lepas landas menuju taxiway sekira pukul 15.24 Wita. Namun, saat berada di taxiway, pilot meminta agar pesawat ditarik menggunakan mobil (towing car) karena roda belakang pesawat tertahan di taxiway.

Selanjutnya, pada pukul 16.15 Wita, otoritas bandara dan pilot memutuskan untuk menurunkan penumpang di taxiway dan diantar kembali menuju terminal. Pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID-7527 harus ditarik ke apron. Dalam keterangannya, Kepala UPBU APT Pranoto Agung Pracayanto mengatakan, kerusakan ini segera ditindak segera, sehingga tidak diperlukan penutupan bandara.

“Semalam sudah selesai. Sudah operasional lagi,” kata Agung kemarin (6/10). Dia menambahkan, pihaknya berupaya kerusakan tak memengaruhi operasional bandara.

Agung menyebut, sekalipun kerusakan berat, perbaikan semalam harus selesai. Supaya keesokan harinya bandara bisa beroperasi normal. Pihaknya juga memenuhi kewajiban dengan memfasilitasi penginapan dan transportasi bagi para kru pesawat dan penumpang yang gagal terbang.

Dia memastikan, kemarin pagi mulai pukul 07.00 Wita, pesawat bisa terbang. Permasalahan taxiway di bandara ini memang bukan pertama. Sebelumnya, Bandara APT Pranoto dibangun di atas tanah rawa yang kemudian diuruk dan diperkuat. Meski begitu, sejumlah permasalahan drainase di kawasan ini juga disebut belum ideal. Pada akhir 2019, Bandara APT Pranoto harus ditutup selama 25 hari untuk perbaikan.

Saat itu perbaikan bandara difokuskan pada peningkatan struktur taxiway sepanjang 100 meter. Secara bersamaan, juga dilakukan pemasangan air field lighting (AFL) system atau lampu landasan pacu. Termasuk lampu-lampu di sekitar apron dan taxiway. Usai perbaikan itu, masih ada sejumlah catatan. Pertama, pembangunan drainase baru dengan membongkar drainase lama. Dimensi drainase baru mesti lebih tinggi dan besar. Lalu catatan kedua mesti dibangun taxiway baru dengan rigid pavement.

Meski begitu, taxiway pun ambles lagi, sehingga pesawat Batik Air tak bisa terbang dari Bandara APT Pranoto. Corporate Communications Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro menjelaskan, Batik Air telah mempersiapkan prosedur penerbangan menurut standar operasional. Pengecekan pesawat dijalankan sebelum keberangkatan dan dinyatakan laik terbang serta beroperasi (airworthiness for flight). Persiapan layanan 103 tamu dan kargo berjalan lancar selama di darat. Pesawat lalu mulai bergerak menuju runway melalui taxiway.

Ketika berada tepat di taxiway, pilot memutuskan untuk menunda keberangkatan karena merasakan struktur permukaan aspal pada landas hubung seperti tidak normal. Pilot berkomunikasi dengan petugas lalu lintas udara serta petugas layanan darat (ground handling) untuk melakukan pengecekan.  “Batik Air menerima konfirmasi, bahwa landas gelinding dimaksud harus dilakukan pengecekan, karena kondisi amblas. Untuk itu, guna mempermudah proses pergerakan posisi pesawat ke apron (landas parkir) dengan cara didorong (ditarik mundur), maka guna mengurangi beban pesawat seluruh tamu dan kargo diturunkan. Para tamu dikembalikan ke ruang tunggu untuk mendapatkan pelayanan dan informasi lebih lanjut. Batik Air menyampaikan, posisi pesawat pada jalur normal (tidak tergelincir). Proses penarikan pesawat udara membutuhkan waktu,” jelasnya. (nyc/riz/k16)