Tumbuh-tumbuhan dari Kalimantan punya nilai jual tinggi. Itu yang ingin dimanfaatkan Mei Christy. Sekaligus mengenalkan khasiatnya ke dunia internasional.

 

ULIL MUA'WANNAH, Balikpapan

 

API telah dipadamkan. Unggunan ranting kayu tersisa sedikit setelah hampir dua menit. Kepulan asapnya masih membubung di udara. Nesting tabung yang digunakan merebus bajakah dipindahkan. Masih banyak orang mengira bajakah sebagai nama tanaman. Padahal, bajakah merupakan bahasa Dayak yang berarti akar.

Hasil air rebusan berwarna cokelat kemerahan seperti teh dituang dalam gelas berukuran kecil. Setelah dibiarkan sesaat, ketika disesap meninggalkan rasa di lidah. Aromanya tipis. Samar-samar. Rasanya kurang lebih seperti jahe.

Cocok sekali dengan cuaca yang tak menentu sore Minggu (3/10) lalu. Sembari diiringi alunan petikan musik sape. Juga, suasana bak perkemahan. Lokasi base camp milik pria bernama Ery itu biasa digunakan Mei Christy untuk bersantai. Sekadar ngumpul ataupun berdiskusi bersama rekan-rekannya sesama aktivis adat.

Di tengah padatnya kegiatan, dia menyempatkan bertemu awak media pada akhir pekan seusai menjalankan ibadah di gereja. Perempuan berambut panjang itulah pemilik Latitaka Borneo Herbal. Minuman herbal olahannya menggunakan berbagai tanaman hutan Kalimantan. Nama produknya pun diambil dari bahasa Dayak, lati; hutan dan taka; kita. Maka latitaka berarti hutan kita.

Meski baru dirintis hampir selama dua tahun, usahanya telah membuahkan hasil. Permintaan terus melonjak. Tidak hanya di dalam negeri, tapi kini mulai merambah luar negeri. Awal-awal pandemi merupakan kilas balik dan permulaan hadirnya produk itu.

Pada 2020, ketika kasus positif Covid-19 masih tinggi ada imbauan, agar tidak ke rumah sakit bila penyakit tidak parah. Padahal, orangtuanya memiliki komorbid seperti jantung, diabetes, dan hipertensi sehingga wajib kontrol. Suatu ketika ia menyempatkan pulang kampung ke tanah leluhurnya di Desa Modang, Paser.

Kehidupan masyarakatnya masih orisinal. Belum banyak perubahan. Pagi hari pemandangannya orang-orang desa pergi ke ladang membawa lanjung. Berjalan kaki ratusan hingga kilometer. Masih tetap bugar walau telah berusia senja. Bahkan, usia nenek moyang masyarakat Dayak yang hidup di sana dikatakan sampai ratusan tahun.

Rahasia berumur panjang tersebut menggelitiknya. Ternyata tetua desa menyarankan mengonsumsi tanaman herbal dan pola hidup sehat sebagai jawabannya. Dimulailah ia menjual bajakah. Semula, bajakah tersebut dibeli dari pedagang di Pasar Kebun Sayur, Balikpapan. Lama-kelamaan terpikir kenapa tidak dikembangkan sendiri.

“Keluarga di kampung mengatakan bahwa ada banyak jenis bajakah. Tidak mudah mempelajarinya, bahkan meski harus menginap ke hutan selama seminggu hingga berbulan-bulan tidak akan cukup. Itu malah membuat saya termotivasi untuk belajar,” tutur Mei sebelum meneguk air bajakah di gelasnya dan melanjutkan cerita.

Sebelum memutuskan menjual secara online, bajakah dikonsumsi tidak hanya keluarga di rumah. Tetapi diberikan kepada teman-teman adiknya saat bermain ke rumah. Ada seorang teman adiknya memiliki batu ginjal, setelah beberapa kali meminumnya ternyata berangsur sembuh. Begitupun penderita dan penyintas Covid-19 seperti dirinya merasakan khasiat dari olahannya. Setelah banyak feedback positif, barulah dia berani menjualnya.

Jenis bajakah yang digunakan ialah jiteng (akar bulan), tampala, kalawit, akar kuning, tembelekar, dan pasak bumi. Terdapat delapan jenis produk Latitaka yang diberi nama Danum Mea Bajakah, Nyaro Nyerua Akar Kuning, Racik Latitaka, Minyak Lenga Uyut, Song Pasak Bumi, Bawe Bujangk, Bulau Sayang, Teh Daont Sungkaii, ada pula teh bajakah, maupun pupur dingin.

Danum mea untuk penyakit berat seperti kanker, tumor, ataupun stroke. Harganya Rp 150 ribu berisikan lima bungkus. Satu bungkus beratnya 50 gram. Satu bungkus bisa dipakai hingga 5–6 kali rebus, atau selama masih mengeluarkan warna merah, maka masih bisa dipakai. Sekali rebus hanya perlu 2 menit.

Dan sudah tahukah, bahwa nyaro nyerua akar kuning bukan hanya mampu mendetoks racun makanan dalam tubuh. Serta menetralkan bisa ular. Mei menuturkan, masyarakat rimba menggunakan akar kuning ketika digigit ular.

“Nyaro nyerua itu artinya keberuntungan yang jarang didapatkan. Seperti harapan saya agar orang yang mengonsumsinya bisa mendapatkan keberuntungan agar sembuh dari penyakitnya,” ucap dia sembari mengikat rambut panjangnya yang terurai.

Bagi penderita kanker yang telah menjalani kemoterapi, perempuan kelahiran Balikpapan pada 27 Mei 1983 itu menyarankan meminum nyaro nyerua buat detoks selama sepekan, baru dilanjutkan mengomsumsi danum mea.

Semenjak dipasarkan, pesanan kian membanjiri hingga ribuan produk terjual setiap bulan. Mei mengungkapkan tidak memiliki barang ready stock. Pemesan harus order dulu barulah barang dipersiapkan. Sama seperti dalam pembuatan minyak lenga uyut.

Terdiri dari 14 jenis tanaman, minyak dihasilkan setelah masa fermentasi selama setahun. Minyak tersebut dijual mulai Rp 75–150 ribu. Baru-baru ini dia mulai memproduksi kembali untuk kedua kalinya agar bisa dijual tahun depan.

Leluhurnya mengajarkan, ketika mengambil sesuatu di hutan untuk keperluan perut atau kesehatan harus membalasnya, dengan menanam pohon/tumbuhan meski tidak di tempat yang sama saat mengambilnya. Take and give. Mengambil seperlunya tanpa berlebihan, setelah itu kembalikan. Dan hutan Kaltim punya potensi besar dalam ramuan herbal.

Merasa tidak puas, putri pasangan Hartoyo Sengoq dan Tarmi Utarie itu selalu haus akan ilmu-ilmu baru. Selama seminggu dirinya sempat pergi ke Jawa demi belajar di sekolah herbal di Malang. Setelah pelatihan dan pembelajaran singkat itu dilanjutkan dengan daring.

Dari situ, dia berkesempatan mengikuti sekolah impor. Pertemuan dengan seorang member yang telah menetap di Turki mengajaknya melakukan kurasi barang ekspor. Setelah tiga bulan dia mengirimkan berbagai sampel seperti gula merah dan bajakah, ternyata produknya dinyatakan lolos.

Di negara pimpinan Edorgan itu Latitaka diterima sangat baik. Dia berkesempatan memasarkan produknya, bahkan beberapa telah dipajang di salah satu toko swalayan di negeri tersebut. Latitaka pun telah menjadi binaan Pertamina.

“November sebenarnya diundang ke Turki, buat memaparkan presentasi, dan diajak kolaborasi dengan pabrik saffron di sana. Mungkin bakalan diundur, karena banyak pameran dalam negeri harus saya ikuti,” kata peraih juara 1 Europe Culture Festival Polandia 2020 itu.

Selain Turki, kata peraih juara 1 World Association Perform Awards Dance Festival Las Vegas – USA 2021 itu, pesanan datang dari Boston, Amerika Serikat, maupun Skotlandia.

Tak pelit mengumbar senyuman, Mei dengan penuh antusias menuturkan, misinya ialah mengajak seluruh kalangan agar mengonsumsi minuman herbal khas Kalimantan. Mengurangi rasa pahit pada bajakah, ia mencampurnya menggunakan bahan berkhasiat lain seperti jahe, kayu manis ataupun daun mint agar bisa diterima lidah. Sehingga orang tua sampai remaja mulai menyukai produk Latitaka.

“Saya jatuh cinta dengan apa yang saya lakukan. Saya pun ingin masyarakat, terutama kawula muda menyukai minuman herbal Kalimantan. Menjadi teman nongkrong yang menyehatkan,” ucap perempuan turunan belian Dayak Paser itu.

EKSISTENSI, SIMPATI, PEDULI

Deretan prestasi internasional telah diraih dari berbagai belahan dunia, melalui tarian tradisional khas Dayak ia berhasil memukau para dewan juri. Sekalipun eksistensinya tak lepas dari prestasi-prestasi dunia, Mei tak jemawa.

Dia berpikir, sesuatu yang telah diraihnya harus dibagi kepada orang lain. Terutama masyarakat adat. Di luar kegiatan aktivis maupun tari, ia sangat berwelas asih. Tidak hanya kepada petani, tapi juga anak-anak. Hal-hal berhubungan sosial, mulai menyekolahkan anak tidak mampu, mencarikan beasiswa hingga pekerjaan bagi masyarakat adat dilakoni.

Bukan sekadar mengangkat harkat-martabat. Namun, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) mumpuni. Mampu bersaing. Terlebih bila perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim benar-benar terwujud. Pimpinan Sanggar Budaya Kayun Kuleng itu pun sadar, SDM di pedesaan dalam masih tertinggal. Ditambah buta aksara masih terjadi.

Keinginannya, menjadikan masyarakat adat semakin majemuk dan sejahtera. Mendapatkan hak serupa seperti masyarakat umumnya. “Agar diberikan akses dan kesempatan mempelajari komputer, bersama dengan Pertamina kami merencanakan membangun sekolah gratis bagi anak-anak suku adat,” ungkapnya.

Ia bersimpati, di tengah pandemi perekonomian sulit berputar. Sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat Dayak di pedesaan. Memberdayakan masyarakat, bajakah yang diracik didapatkan dari keluarga di desa, serta melibatkan beberapa kelompok suku Dayak lainnya. Bahkan turut memodali mereka dengan beberapa mesin yang membantu proses produksi.

Untuk mempermudah mendapatkan bahan-bahan yang digunakan, Mei merencanakan menambah berbagai tanaman herbal lain di kebun miliknya di daerah Lamaru, Balikpapan Timur. Bicara soal omzet, bila permintaan sedang bagus ia mendapatkan Rp 15–20 juta. Sedangkan minimnya Rp 5 juta dalam sebulan.

Peduli keberadaan hutan adat yang terancam, keuntungan 5 persen hasil penjualan Latitaka dipergunakan untuk membantu masyarakat adat Paser. Supaya hutan adat mereka tidak terkena ekspansi tambang dan sawit. “Saya tidak ingin masyarakat adat kehilangan tanah leluhur serta identitasnya. Sehingga kita usulkan, agar hutan adat itu menjadi tempat wisata dan bisa viral,” tutupnya. (rom/k8)