SAMARINDA–jeruji besi selama dua tahun enam bulan rupanya tak membuat Ponidi jera. Baru bebas awal tahun lalu, pria 52 tahun itu kembali berulah. Mencuri kendaraan bermotor. Residivis itu tertangkap setelah mencuri Honda Astrea Grand di Jalan Pattimura, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang. "Di Jalan Pattimura juga ditangkapnya, di belakang stan ojek. Lagi ganti pelat kendaraan yang baru dicuri," ungkap Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang Iptu Dedi Septriadi (5/10).

Pelaku yang rambutnya sudah memutih itu pasrah dibawa ke markas polisi. Rupanya tak hanya sekali beraksi. Masih ada tempat kejadian perkara (TKP) lainnya. "Ternyata ada mencuri di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Jalan Harun Nafsi, Jalan APT Pranoto, Jalan Sultan Alimuddin, dan Jalan Pattimura," sambung perwira pertama berpangkat balok dua tersebut.

Dari semua lokasi pencurian, korps baju cokelat mendapati delapan motor. "Dari delapan kendaraan yang diamankan, pelaku hanya mengakui enam yang dicuri, karena lainnya dia beli sendiri. Tapi itu kan pengakuannya dia (pelaku), kami masih mengembangkan lagi," sambungnya.

Tak sampai Ponidi, lanjut Dedi, Unit Reskrim Polsek Samarinda Seberang turut meringkus Ruslan (44). Berperan sebagai penadah motor curian dari hasil Ponidi mencuri. Dari setiap penjualan, Ruslan mendapat untung Rp 100–300 ribu dari harga per unit yang dijual Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. "Dia (Ruslan) diamankan di rumahnya, kawasan Kurnia Makmur. Sekarang kasus keduanya masih dikembangkan," tegas Dedi.

Sementara itu, Ponidi mengaku nekat kembali mencuri lantaran tak memiliki penghasilan tetap setelah bebas dari penjara. Dia kembali mengambil jalan pintas, menjadi kriminalis. "Bingung, Pak. Enggak ada kerjaan. Uangnya juga buat makan," akunya. Dalam beraksi, Ponidi tak membutuhkan peralatan lain. Dia hanya jalan kaki mencari pemilik motor yang lalai meninggalkan kunci kontak kendaraannya. "Kalau ada motor yang kuncinya tertinggal baru saya ambil," tambahnya.

Sementara itu, Ruslan yang membantu Ponidi menjual motor curian mengaku kasihan dengan kerabatnya. Sebab, setelah istri Ponidi meninggal dan dia keluar penjara menjadi pengangguran, Ponidi kerap terlihat tak bersemangat karena tak memiliki penghasilan. "Saya tahu itu motor curian. Kasihan aja lihat lemas terus di kamar, enggak ada penghasilan. Saya bantu jual juga enggak ambil untung banyak. Rp 100–300 ribu aja," aku Ruslan. Keduanya kini mesti rela mendekam di balik jeruji besi. Ponidi selaku eksekutor disangkakan Pasal 362 KUHP, dan Ruslan sebagai penadah Pasal 480 KUHP. (*/dad/dra/k8)