Kawasan Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Jelawat, hingga Jalan Pesut, ditargetkan bersih dari pedagang kaki lima (PKL) liar. Mengingat, Pemkot Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda telah menyiapkan lapak sementara yang dapat digunakan untuk menggelar dagangannya, tepatnya di kawasan Pasar Sungai Dama.

 

SAMARINDA–Konsistensi pemerintah menjadi kunci agar pedagang tetap bertahan berjualan di tempat baru. Haswani dan Rusdiana merupakan dua dari puluhan pedagang yang sudah lebih 10 tahun menggelar lapak di tepi Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir. Aksi penertiban yang dilakukan pemerintah melalui Satpol PP Samarinda hanya bisa diterima dengan lapangan dada.

“Itu sudah keempat kali kami keluar-masuk dari tepi jalan ke area pasar, selama dua bulan penertiban rutin,” ucap Haswani, Selasa (5/10). Dia bercerita, saat berjualan di tepi jalan, dagangannya cukup laris, satu hari paling sedikit bisa mengantongi Rp 500 ribu. Kondisi itu diuntungkan karena pembeli tak harus repot memarkir kendaraan. Namun, di tempat baru, dia sempat beberapa kali tak mendapat penghasilan. “Saya pernah protes ketika dipindahkan, apalagi modal berjualan juga dari meminjam. Tetapi kali ini kami memilih ikut pindah, dengan harapan bisa mendapat rezeki di tempat baru,” ucapnya yang diaminkan Rusdiana.

Keduanya kompak, berharap pemerintah konsisten betul-betul memindahkan seluruh pedagang yang tersebar di tepi jalan. Dengan lokasi berjualan yang terpusat, tentu pembeli juga tidak segan masuk ke area pasar. “Supaya adil. Kalau di area pasar, sama-sama mencari rezeki dan senasib sepenanggungan,” harapnya.

Sementara itu, pemindahan pedagang ke area pasar disambut baik beberapa pemilik ruko di Pasar Sungai Dama, salah satunya Idris, pemilik Toko Emas Gembira. Dia yang telah berjualan sejak pasar dibangun sekitar sembilan tahun lalu berharap jumlah warga yang masuk ke pasar lebih banyak.

“Kalau ramai pembeli yang masuk (ke area pasar) lebih bagus. Tetapi kami harap kebersihan pedagang yang berjualan di depan ruko juga diperhatikan. Terlebih setelah berjualan agar merapikan lapak atau meja, sehingga memudahkan parkir kendaraan,” pesannya.

Terpisah, Kabid Sarana Perdagangan Disdag Samarinda Irwan Kartomo menegaskan, pihaknya sudah menyiapkan 99 area berjualan dengan luas 1x2 meter di depan dan samping gedung pasar. Bahwa lokasi itu juga terbilang sementara, mengingat pihaknya tengah bersiap melakukan pembenahan area tengah bangunan, khususnya di lantai satu yang akan menjadi lokasi permanen para pedagang yang pindah dari tepi jalan. “Harusnya tidak ada alasan untuk pindah. Lapak sementara itu gratis. Nanti mereka yang terdata akan menerima lapak di bagian dalam, dengan kerja sama dalam bentuk SKTUB (surat keterangan tempat usaha berjualan), nanti kewajibannya hanya membayar retribusi Rp 3.000 per hari,” ucapnya.

Irwan meminta masyarakat atau konsumen agar mengubah kebiasaan membeli bahan pokok ke pasar, sehingga pedagang yang ada di tepi jalan bisa masuk ke area pasar. Hal itu merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam penataan kota, sehingga lebih rapi dan bebas dari kemacetan.

“Di area pasar juga pembayaran retribusi parkir langsung disetorkan ke pemerintah untuk kepentingan pembangunan. Pola kebiasaan itu yang patut diubah,” tutupnya. (dns/dra/k8)