Pemprov Kaltim tengah menggenjot target dan realisasi luas tambah tanam jagung di Kaltim. Sebagai upaya mendukung ketahanan pangan.

 

SAMARINDA – Draft RUU Ibu Kota Negara (IKN) sudah diserahkan pemerintah ke DPR RI. Selain urusan infrastruktur yang digenjot untuk pembangunan, masalah ketahanan pangan juga harus diperhatikan.

Sejak Kaltim ditunjuk sebagai calon IKN baru, sejumlah kabupaten di Benua Etam telah dipetakan pemerintah pusat menjadi pendukung kebutuhan pangan. Misalnya Berau sebagai produsen jagung dan bawang merah. Sementara Kutai Barat untuk sentra padi dan jagung. Lalu Kabupaten Paser sentra padi, cabai, dan bawang merah.

Saat ini Pemprov Kaltim pun telah menggenjot target dan realisasi luas tambah tanam (LTT) jagung di Kaltim. Selama periode April-September tahun ini, Berau menjadi daerah terluas capaiannya dibanding sembilan kabupaten/kota lainnya.

Disebutkan Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Siti Farisyah Yana, tercatat per 28 September lalu, realisasi LTT jagung di Berau mencapai 4.360 hektare dari target sekitar 6.945 hektare. "Atau capaian realisasi sebesar 62,78 persen dari target," kata dia.

Yana mengakui Berau selama ini menjadi sentra utama tanaman jagung di Benua Etam, selain didukung ketersediaan lahan, juga keunggulan potensi wilayah dan pelaku utamanya (petani).

Selain Berau, Kutai Kartanegara yang wilayahnya sebagian bakal masuk IKN, menjadi daerah kedua yang capaian realisasi LTT cukup luas, yakni 623 hektare dari target 1.582 hektare atau 39,38 persen. Disusul Kutai Timur dengan target 480 hektare, realisasi 344,8 hektare atau 71,80 persen.

Sementara itu, Penajam Paser Utara yang jadi lokasi inti IKN, realisasi masih 211,7  hektare dari target 411 hektare atau 51,51 persen.

"Sedangkan, Paser menjadi daerah luar biasa, sebab target 44 hektare, tapi realisasi LTT mencapai 253 hektare atau 573,33 persen," ungkap Yana.

Ditambahkannya, secara keseluruhan LLT tanaman Jagung periode April-September di Kaltim dengan target 10.145 hektare dan realisasi 6.074,9 hektare atau 59,88 persen.

Selain itu, setelah proses panen diharapkan ada tempat penyimpanan yang bagus. Misalnya penyediaan cold storage sebelum dimulainya pemindahan ibu kota pada 2024. Sehingga bisa dipakai untuk membantu mengelola hasil panen dan ekspornya. (nyc/dwi)