SAMARINDA- Pertanian benar-benar menunjukkan bahwa mereka menjadi salah satu sektor usaha yang tidak terganggu pandemi corona. Ketika lini bisnis lain kesulitan, mereka justru terus mencatatkan kinerja positif. Terlihat dari nilai tukar petani (NTP) pada September 2021 sebesar 122,51 atau naik 1,64 persen dibandingkan Agustus.

Namun jika dilihat dari sumbernya, hanya terdapat satu subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu tanaman perkebunan rakyat sebesar 4,07 persen. Hal ini menandakan hanya petani perkebunan yang mengalami peningkatan kemampuan. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, empat subsektor lainnya mengalami penurunan, yaitu tanaman pangan (-0,74 persen), hortikultura (-1,34 persen), peternakan (-0,54 persen), dan perikanan (-0,64 persen). Namun demikian dia menilai kinerja masing-masing subsektor ini masih cukup baik.

Adapun nilai tukar petani tanaman pangan (NTPP) sebesar 94,18, nilai tukar petani hortikultura (NTPH) sebesar 103,03, nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat (NTPR) sebesar 156,98, nilai tukar petani peternakan (NTPT) sebesar 103,84, dan nilai tukar nelayan dan pembudi daya ikan (NTNP) sebesar 100,86.

Tingginya NTPR menandakan pendapatan petani perkebunan lebih tinggi dibandingkan petani sektor lain. Hal itu bisa jadi karena komoditas perkebunan yang sedang mengalami peningkatan, sedangkan belanja tetap. “NTPR hingga sekarang masih mencatat angka tertinggi, tentunya tak lepas dari tingginya harga komoditas dari sektor perkebunan rakyat,” ujarnya, Senin (4/10).

Terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, sejak triwulan I 2020 pendapatan petani kelapa sawit selalu lebih tinggi dibandingkan pengeluaran. Hal tersebut mengindikasikan bahwa petani sawit di Kaltim masih memperoleh margin keuntungan, di tengah tertekannya perekonomian Kaltim di masa pandemi Covid-19.

“Peningkatan NTPR Kaltim terutama bersumber dari meningkatnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kaltim,” jelasnya. Peningkatan NTP sub lapangan perkebunan rakyat sejalan dengan harga TBS yang masih tumbuh positif pada triwulan II 2021 sebesar 50,42 persen (yoy). Bahkan pada September, harga TBS mencatat angka tertinggi sejak Januari 2021, di level Rp 2.251 per kilogram. (pro)