Mengadakan trip tematik menjadi salah satu cara Komunitas Save Trowulan dalam mengenalkan jejak peninggalan Majapahit sekaligus ajakan untuk melestarikannya. Mereka juga blusukan keluar masuk hutan demi menemukan situs-situs baru.

 

EDI SUSILO, Kabupaten Mojokerto

 

SALAM itu mereka ucapkan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada sebelum masuk ke area pendapa punden. ”Rahayu, rahayu,” ucap para anggota Komunitas Save Trowulan.

Di tengah pendapa punden yang terletak di Dusun Jati Sumber, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu, berdiri batang pohon jati setinggi 2,5 meter. Ada kain kafan yang membungkus tubuh pohon yang konon telah berusia ratusan tahun tersebut.

Pada 2015, pohon jati keramat itu sebenarnya telah roboh dimakan usia. Menimpa beberapa rumah di sekitar punden. Oleh warga dusun yang masuk wilayah Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, tersebut, batang pohon jati lantas dipotong beberapa bagian dan dijual. Hasilnya dibuat biaya membangun lagi rumah yang rusak. Sisa uang dipakai untuk membangun pendapa punden. ”Saat roboh pun, tak merugikan warga,” kata Tono Amboro, wakil ketua Komunitas Save Trowulan.

Jawa Pos ikut nimbrung dalam obrolan pada Senin (30/9) malam pekan lalu yang dipenuhi aroma dupa, asap rokok, dan desingan alat milik pematung yang bekerja di samping punden tersebut. Sejak pandemi melanda, kegiatan Save Trowulan sedikit mengendur. Khususnya mengenai kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Berdiri sejak 2013, Komunitas Save Trowulan mula-mula berangkat dari kesadaran yang sama: ingin menyelamatkan situs dan warisan Majapahit yang kini bertebaran di kawasan Trowulan. Mereka lantas bergerak dengan ritme luas: melindungi, menjaga, dan mengenalkan Majapahit, kerajaan besar yang berdiri antara 1293 sampai 1527, kepada masyarakat luas.

Save Trowulan getol memperjuangkan kelestarian peninggalan-peninggalan kuno yang tersebar di kawasan Trowulan. Misalnya, menolak pendirian pabrik baja yang merusak kawasan situs, menyuarakan lambatnya ekskavasi, hingga mengajak masyarakat peduli terhadap peninggalan leluhur. Salah satunya lewat trip yang mereka adakan rutin sebelum pandemi.

Save Trowulan punya tiga trip yang bisa dipilih peserta untuk mengetahui peninggalan Majapahit. Trip dibuat tematik dengan mengunjungi beberapa candi sesuai tema. Ada juga trip mengunjungi beberapa situs yang belum selesai diekskavasi penuh. Misalnya, di situs Tribuana Tungga Dewi, Grogol, hingga terbaru Kumitir. ”Ada kunjungan ke situs candi yang sudah ditemukan penuh, ada yang proses ekskavasi,” jelas Tono yang juga salah seorang pematung batu andesit.

Bukan hanya siang, trip malam mereka pun penuhi. Beberapa kali diadakan, trip malam justru selalu mendapat respons yang besar dari peserta. Terutama mereka yang menggeluti kebatinan. Dan, banyak juga para pejabat dari berbagai kota yang ikut trip berkunjung ke beberapa situs petirtaan.

Event-event ritual rutin juga diadakan. Saban bulan penuh, Save Trowulan menghelat Purnamasidi. Menggelar jamasan pusaka setahun sekali. Semuanya dilakukan untuk nguri-nguri budaya agar tetap hidup di masyarakat.

Ketua Komunitas Save Trowulan Eko Prasetyo mengakui, dirinya dan kawan-kawannya sangat cemas dengan ancaman tergerusnya kebudayaan leluhur. Dia mencotohkan makin berkurangnya jumlah pematung generasi muda di desanya. Itu bukan karena murni anak mudanya tidak mau meneruskan kerja seni tersebut. Namun, wadah yang memberi mereka kesempatan belajar tidak diberikan. ”Lama-lama akan surut,” katanya.

Padahal, living monument di kawasan Trowulan, kawasan yang diyakini sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit, adalah kunci untuk mengembangkan pariwisata. Eko saban tahun sering menjadi pemandu bagi turis asing yang datang ke kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Jombang tersebut. Ada yang berasal dari Belanda, Inggris, Australia, bahkan Amerika Serikat. Mereka ternyata tidak hanya tertarik dengan candi atau situs-situs, tetapi juga upacara atau prosesi yang berlangsung di masyarakat. Salah satunya di Punden Mbah Sumber Sari ini. Yang saban Ruwah mengadakan ruwatan desa. ”Turis sangat senang dengan kegiatan model begitu,” jelasnya.

Artinya, monumen hidup yang terus ada di masyarakat sangatlah penting. Tidak hanya membuat event-event gebyar yang sering kali tidak menumbuhkan kesadaran masyarakat. Blusukan juga menjadi moto Save Trowulan selama kegiatan kumpul-kumpul berlangsung. Khususnya dalam menemukan situs-situs baru di pelosok.

Eko mengungkapkan, dalam blusukan, pihaknya kerap menemukan peninggalan-peninggalan lama yang kini masih utuh dan terawat. Masuk-masuk hutan sering mereka tempuh untuk menemukan berbagai peninggalan itu. Disinggung tentang jumlah situs baru yang ditemukan, Eko enggan menjawab pasti. Sebab, setiap menemukan temuan baru, mereka tidak melakukan pencatatan. ”Kalau dicatat, enggak. Tapi, kalau diminta tunjukkan di mana saja tempatnya, kami siap,” jelas lelaki berambut gondrong tersebut.

Save Trowulan punya prinsip bahwa situs yang masih terawat sebaiknya memang dibiarkan. ”Kalau diutak-atik, malah bisa tambah rusak,” katanya. (*/c14/ttg)